Universitas Airlangga Official Website

Nanopartikel Lemak, Harapan Baru Percepat Pengobatan Tuberkulosis

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tuberkulosis (TB) masih menjadi momok kesehatan dunia yang sulit dituntaskan hingga kini. Penyakit akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis ini adalah penyebab kematian akibat infeksi tunggal terbesar kedua di dunia setelah HIV/AIDS. Di Asia Tenggara saja, pada 2023 tercatat hampir 4,9 juta kasus TB dengan lebih dari 580 ribu kematian. yang membuat TB sulit diberantas bukan hanya keganasan bakterinya, melainkan juga rezim pengobatannya yang panjang dan rumit. Pasien harus mengonsumsi kombinasi empat antibiotik lini pertama selama dua bulan, dilanjutkan tahap lanjutan selama empat hingga tujuh bulan. Total pengobatan bisa mencapai enam hingga sembilan bulan, dengan efek samping seperti gangguan pencernaan, kerusakan hati, hingga gangguan saraf. Ketidaknyamanan ini kerap membuat pasien berhenti berobat di tengah jalan, yang pada gilirannya memicu munculnya bakteri TB kebal obat.

Di sinilah teknologi nanopartikel berbasis lipid menawarkan jalan keluar. Sebuah tinjauan pustaka di Iranian Journal of Basic Medical Sciences, disusun tim peneliti dari Universiti Malaya, Universitas Airlangga, dan sejumlah institusi lain di Asia, merangkum studi terbaru mengenai empat jenis pembawa obat berbasis lipid: nanopartikel lipid padat (SLN), pembawa lipid terstruktur nano (NLC), liposom, dan niosom. Bakteri TB memiliki strategi bertahan hidup yang unik. Setelah terhirup dan masuk paru-paru, bakteri ini menumpang di dalam makrofag, sel imun yang seharusnya menghancurkannya, lalu menghambat proses pencernaan sel sehingga bisa bertahan dan berkembang biak lama di dalamnya.

Nanopartikel lipid pun memanfaatkan celah ini. Karena tersusun dari bahan berbasis lemak, partikel ini mudah dikenali dan ditelan makrofag lewat proses endositosis, sehingga obat yang dibawanya ikut terbawa masuk tepat ke sarang bakteri. Beberapa formulasi bahkan direkayasa dengan tambahan gula manosa di permukaannya agar lebih dikenali reseptor khusus pada makrofag, sehingga jumlah obat yang sampai ke sasaran meningkat. Tinjauan ini mengumpulkan sejumlah temuan menarik. Nanopartikel lipid padat yang membawa rifampisin, isoniazid, dan pirazinamid sekaligus mampu menurunkan konsentrasi obat minimal yang dibutuhkan untuk membunuh bakteri dibanding obat bentuk biasa. Pada uji hewan, isoniazid berbungkus nanopartikel lipid padat memiliki dosis mematikan tiga kali lebih tinggi dibanding obat bebas, menandakan racun yang jauh lebih rendah, sekaligus meningkatkan penyerapan obat lebih dari 26 kali lipat.

Pembawa lipid terstruktur nano, generasi lebih baru dari nanopartikel lipid padat, juga menjanjikan. Formulasi rifampisin di dalamnya mampu melepaskan lebih dari 90 persen kandungan obat secara bertahap selama tujuh hari dan tetap stabil hingga enam bulan penyimpanan. Saat permukaannya dimodifikasi dengan manosa, penyerapan oleh makrofag meningkat hingga dua kali lipat dibanding partikel tanpa modifikasi. Studi lain menyoroti clofazimin, obat TB yang biasanya sulit ditoleransi karena berpotensi merusak hati dan ginjal. Dibungkus pembawa lipid nano berlapis manosa, obat ini bertahan lebih lama di jaringan paru-paru dan secara signifikan menurunkan kerusakan hati serta ginjal pada uji hewan.

Selain SLN dan NLC, liposom dan niosom, dua jenis pembawa lipid berbentuk gelembung berlapis, juga terbukti memperbaiki profil pelepasan obat dan penargetan ke paru-paru. Penelitian mutakhir bahkan mulai menjajaki pembawa lipid untuk mengantarkan materi genetik seperti siRNA bersamaan dengan antibiotik, pendekatan yang berpotensi menekan peradangan sekaligus membunuh bakteri secara langsung. Kekhawatiran utama soal obat berbasis nanoteknologi adalah keamanannya. Namun rangkaian uji laboratorium dan uji hewan yang direview menunjukkan hasil menggembirakan. Berbagai formulasi lipid ini konsisten menunjukkan racun rendah terhadap sel makrofag dan paru-paru, kompatibilitas baik dengan darah, serta tidak menimbulkan perubahan jaringan berarti pada hati, limpa, dan paru-paru hewan uji.

Meski hasil awal menjanjikan, peneliti mengingatkan perjalanan menuju penggunaan klinis pada manusia masih panjang. Kompleksitas proses pembuatan formulasi, kesulitan produksi skala besar, dan minimnya data uji klinis pada manusia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Namun arah risetnya sudah jelas. Jika berhasil diterjemahkan ke tahap klinis, penderita TB berpotensi mendapat pengobatan lebih singkat, dosis dan frekuensi minum obat lebih sedikit, efek samping lebih ringan, dan kepatuhan pasien lebih tinggi. Ini menjadi kunci penting untuk menekan penularan sekaligus memutus mata rantai munculnya bakteri TB kebal obat, terutama di kawasan dengan beban TB tertinggi seperti Asia Tenggara.

Penulis: Dr. Sonny Kristianto, S.Si., M.Si.