UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Mereka yang beranggotakan mahasiswa lintas fakultas berhasil meraih Juara III Engineering Case Competition (ECC) dalam Airlangga Technology Week (AIRNOLOGY). Tim tersebut terdiri atas Naila Farah Fauziyah dan Madeline Giovani dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), serta Isnaini Noor Mahmuudah dari Fakultas Vokasi (FV).
Babak final yang diselenggarakan BEM FTMM UNAIR berlangsung secara luring di Gedung Plaza Kampus MERR-C UNAIR pada Sabtu (12/9/2026). Sebelumnya, tahap awal kompetisi adalah pengiriman proposal secara daring hingga terpilih lima tim finalis pada Sabtu (5/9/2026).
Gagas Solusi Baterai Kendaraan Listrik
Dalam kompetisi tersebut, peserta berhadapan pada studi kasus ketahanan operasional industri kendaraan listrik (EV) domestik. Khususnya risiko overheating dan kebocoran sel baterai saat pengisian daya cepat. Mereka menjawab tantangan tersebut melalui proposal berjudul “Sinergi Manufaktur Pintar dan Sistem Cerdas Kendaraan Listrik: Solusi Interdisipliner Menghadapi Tantangan Keandalan Baterai Lokal serta Navigasi Otonom Masa Depan”.
Salah satu solusi yang mereka tawarkan ialah pendinginan pasif berbasis Composite Phase Change Material (CPCM). Material tersebut dirancang untuk menyerap panas laten sehingga suhu permukaan sel baterai dapat ditekan di bawah 42°C saat pengisian arus tinggi serta mengurangi risiko thermal runaway.
Naila menjelaskan, persiapan dilakukan melalui pembahasan studi kasus hingga penyusunan proposal. Setelah lolos lima besar, tim mempresentasikan rancangan inovasi dan menjalani sesi tanya jawab dengan dewan juri.
“Awalnya kami menyusun proposal penyelesaian masalah memakai pendekatan engineering. Setelah lolos lima besar finalis, di babak final kami mempresentasikan rancangan inovasi dan menjalani sesi tanya-jawab intensif dengan tiga dewan juri,” ujar Naila.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Menurut Naila, kolaborasi mahasiswa FST dan Vokasi menjadi kekuatan Tim Hilang Arah dalam menyusun solusi. Perpaduan keilmuan dari kedua fakultas tersebut memberikan perspektif berbeda dalam memahami persoalan engineering.
“Harapan saya mengikuti lomba ini adalah ingin belajar dan menambah wawasan baru. Walaupun latar belakang saya bukan murni dari fakultas teknik, setidaknya saya jadi memahami materi-materi dan perspektif baru dalam dunia engineering,” ungkapnya.
Kompetisi tersebut juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa UNAIR untuk memperluas jejaring dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Naila mengajak mahasiswa UNAIR untuk berani memulai pengalaman berkompetisi. Ia menilai kegagalan merupakan bagian dari proses belajar yang dapat menjadi bekal untuk mencoba kembali.
“Bagi teman-teman yang ingin mencoba lomba, jangan takut untuk mulai. Kalau di percobaan pertama atau kedua belum berhasil menang, tidak apa-apa. Hal itu wajar dan bisa dicoba lagi di kesempatan berikutnya,” pungkasnya.
Penulis: Abraham Chrisanta Putra
Editor: Yulia Rohmawati





