Mahasiswa FK UNAIR Pelajari Bedah Gastrointestinal di CHU Caen, Prancis

45 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), Stefanie Jasper Hamindo, mengikuti program student outbound dalam rangka elective di CHU Caen, France. Melalui program tersebut, Stefanie memperoleh kesempatan memperluas pengalaman klinis di bidang bedah gastrointestinal sekaligus mengenal sistem pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran di lingkungan internasional.

Selama program berlangsung pada Juli 2026, Stefanie mendapatkan kesempatan untuk mengamati berbagai kegiatan klinis secara langsung. Berada di lingkungan departemen bedah gastrointestinal memberikan pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang kuliah. Setiap hari membawa kasus dan prosedur yang beragam, mulai dari colectomy, gastrectomy, splenectomy, appendectomy, hingga bariatric surgery dan pancreatic tumour removal. Stefanie juga berkesempatan mengamati Whipple surgery dan robotic sigmoidectomy, serta mengikuti kegiatan konsultasi pasien dan diskusi kasus.

Berbagai prosedur tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya peran bedah gastrointestinal dalam menangani berbagai penyakit. Tidak hanya mengamati proses operasi, Stefanie juga mempelajari bagaimana dokter mempersiapkan tindakan, mempertimbangkan kondisi pasien, serta melakukan evaluasi sebelum dan setelah prosedur. Pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa keberhasilan suatu tindakan medis tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh proses pengambilan keputusan yang komprehensif.

Pengalaman selama elective memberikan kesempatan bagi Stefanie untuk melihat secara langsung bagaimana pengetahuan teoritis yang diperoleh selama pendidikan kedokteran diterapkan dalam praktik. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda sehingga diperlukan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Melalui kegiatan konsultasi dan observasi tindakan, Stefanie dapat mengamati penerapan clinical decision-making, patient safety, dan patient-centered care. Ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pengalaman ini juga memperkuat pemahaman bahwa seorang dokter perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menentukan pilihan tata laksana yang paling sesuai bagi pasien.

Prosedur pembedahan gastrointestinal di CHU Caen, Prancis (Foto: Istimewa)

Selain observasi tindakan operasi, konsultasi dan diskusi kasus menjadi bagian penting dalam program ini. Melalui case discussion dan case studies, Stefanie mempelajari berbagai kasus gastrointestinal sekaligus memahami pertimbangan klinis yang mendasari suatu tindakan. Kegiatan tersebut turut melatih kemampuan berpikir kritis dalam menghubungkan hasil pemeriksaan, diagnosis, dan pilihan tata laksana pasien.

Belajar di lingkungan klinis internasional memberikan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan ilmu kedokteran. Interaksi dengan dokter, tenaga kesehatan, dan mahasiswa di CHU Caen menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Stefanie juga belajar beradaptasi dengan lingkungan kerja, sistem pelayanan, serta budaya akademik yang berbeda dari Indonesia.

Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting mengenai pentingnya keterbukaan dan kemampuan beradaptasi bagi seorang calon dokter. Dalam dunia kesehatan yang semakin terhubung secara global, kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan individu dari berbagai latar belakang menjadi salah satu kompetensi yang penting.

Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being, SDG 4: Quality Education, dan SDG 17: Partnerships for the Goals. Pengembangan kompetensi calon tenaga kesehatan melalui pengalaman klinis internasional dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan. Di sisi lain, pertukaran pengetahuan dan pengalaman akademik lintas negara turut mendukung pendidikan berkualitas serta memperkuat kerja sama antar institusi.

Bagi Stefanie, pengalaman di CHU Caen menjadi lebih dari sekadar kesempatan untuk mengamati prosedur bedah. Program tersebut menjadi proses pembelajaran untuk memahami bahwa profesi dokter membutuhkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan pasien. Pengalaman klinis di Prancis diharapkan dapat menjadi bekal dalam melanjutkan pendidikan kedokteran serta mendorong kontribusi bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di masa mendatang.

Dosen pembimbing: Raden Argarini, dr. Mkes., PhD

Penulis: Stefanie Jasper Hamindo

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top