Soroti Tren Financial Technology, UNAIR dan OJK Bekali Ksatria Airlangga Pemahaman Risk & Legal

44 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Perkembangan pesat teknologi digital telah mengubah secara drastis pandangan keuangan global maupun nasional. Kehadiran berbagai inovasi keuangan digital hingga kemudahan transaksi lewat genggaman tangan memang membuka akses finansial yang kian luas bagi generasi muda. Namun, kemudahan tersebut terdapat minimnya literasi risiko yang kerap memicu kerugian finansial akibat tergiur investasi instan tanpa pemahaman yang memadai.

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar kegiatan Digital Financial Literacy 2026 di Aula Fadjar Notonegoro, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR, pada Senin (12/10/2026).

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya UNAIR, Prof Dr Ardianto SE MSi Ak CMA CA menekankan bahwa dinamika aset dan keuangan dunia saat ini telah berubah drastis. Salah satunya ditandai oleh mengemukanya konsep Tokenisasi Real World Assets (RWA) berbasis blockchain. Prof Ardianto menegaskan bahwa kampus tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan. Melainkan wajib menjadi benteng utama dalam membentuk kesadaran kritis mahasiswa terhadap arsitektur keuangan modern.

“Perguruan tinggi tidak sekadar berperan sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai benteng dalam membangun kesadaran kritis mahasiswa. Kita ingin memastikan bahwa generasi muda kita tidak hanya responsif terhadap peluang inovasi. Namun juga memahami secara komprehensif aspek legalitas, tata kelola, mitigasi risiko, serta perlindungan konsumen,” ujar Prof Ardianto.

Prof Ardianto turut mengapresiasi OJK yang telah memboyong program edukasi berharga ini langsung ke tengah kampus. Ia mendorong seluruh mahasiswa untuk memanfaatkan ruang diskusi ini guna menguji gagasan diri menjadi mahasiswa yang adaptif, berintegritas, serta berdaya saing global.

Senada dengan hal tersebut, Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Asep Hikayat, menguraikan data krusial terkait kondisi keuangan digital saat ini. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat inklusi keuangan nasional telah menyentuh angka 93,61 persen, namun literasi keuangannya baru berada di angka 69,57 persen. Ketimpangan serupa juga tercatat di Jawa Timur dengan tingkat inklusi 91,86 persen dan literasi 72 persen. Bahkan di kalangan pelajar dan mahasiswa, inklusi keuangan mencapai 92,76 persen sementara literasinya masih tertinggal di angka 62,72 persen.

Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Asep Hikayat saat menyampaikan materi dalam Digital Financial Literacy (Foto: Istimewa)

“Semakin kecil literasi, maka semakin besar kemungkinan risikonya. Seperti muncul kerugian yang mungkin dialami teman-teman yang masuk ke dunia investasi. Karena itu, OJK terus mengajak masyarakat. Khususnya generasi muda, untuk selalu mengedepankan prinsip ‘Legal dan Logis’ sebelum menggunakan produk dan layanan jasa keuangan,” imbau Asep.

Asep menambahkan bahwa Surabaya dan UNAIR dipilih sebagai pusat penyelenggaraan karena memiliki ekosistem pendidikan dan ekonomi yang dinamis dengan mahasiswa yang dikenal adaptif terhadap perkembangan teknologi. Ia meyakini mahasiswa memegang posisi strategis sebagai calon pimpinan, akademisi, regulator, hingga pelaku usaha masa depan yang akan menentukan arah pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain penyampaian sambutan, forum edukasi interaktif ini menghadirkan pemaparan materi dari Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, beserta perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Digital dan para praktisi industri keuangan digital.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Yulia Rohmawati

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top