Dyah NK Makhijani, Presiden Komisaris PT Visionet Internasional (OVO) sekaligus Alumni Universitas Airlangga, memaparkan pentingnya inklusivitas dan kurasi aset dalam investasi RWA pada seminar Digital Financial Literacy 2026 di Aula Fajar Notonegoro, Senin (12/10/2026). (Foto: Humas UNAIR)

Gandeng OJK, FEB UNAIR Kenalkan Peluang Aset Digital bagi Generasi Muda

40 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar seminar Digital Financial Literacy 2026 di Aula Fajar Notonegoro, Senin (12/10/2026). Forum ini hadir untuk membedah peluang tokenisasi Real World Assets (RWA) sebagai arah baru investasi inklusif bagi generasi muda.

Presiden Komisaris PT Visionet Internasional (OVO) yang juga alumni UNAIR, Dyah NK Makhijani, menyoroti pentingnya aksesibilitas dan pemahaman profil risiko dalam berinvestasi di era digital. “Teknologi RWA ini menjadi solusi inovatif bagi investor muda untuk masuk ke instrumen finansial berkualitas tinggi. Dibanding aset kripto murni yang spekulatif, RWA menawarkan tingkat risiko yang relatif lebih moderat,” ungkap alumni Fakultas Hukum (FH) tersebut.

Ia menilai investasi konvensional di pasar primer, seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau emas, umumnya memerlukan modal besar hingga ratusan juta rupiah. Namun, jika modalnya terbatas, misal sepuluh juta rupiah RWA menjadi solusi yang sangat fleksibel untuk bisa memiliki porsi dari aset nyata tersebut.

Lebih lanjut, Dyah mengingatkan bahwa keberhasilan adopsi RWA di Indonesia sangat bergantung pada tingkat kepercayaan (trust) dan proses kurasi aset yang ketat. “Masyarakat dan investor pemula harus benar-benar memahami kelas asetnya (asset class). Keandalan RWA ditentukan oleh seberapa transparan underlying asset-nya dan bagaimana kredibilitas ekosistem pengelolanya,” tegasnya.

Gumarus Dharmawan William, Chief Executive Officer (CEO) PT Sejahtera Bersama Nano, menjelaskan skema tokenisasi obligasi negara INDON34 untuk memperluas akses investasi bagi mahasiswa dalam seminar Digital Financial Literacy 2026 di Aula Fajar Notonegoro, Senin (12/10/2026). (Foto: Humas UNAIR)
Gumarus Dharmawan William, Chief Executive Officer (CEO) PT Sejahtera Bersama Nano, menjelaskan skema tokenisasi obligasi negara INDON34 untuk memperluas akses investasi bagi mahasiswa dalam seminar Digital Financial Literacy 2026 di Aula Fajar Notonegoro, Senin (12/10/2026). (Foto: Humas UNAIR)

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) PT Sejahtera Bersama Nano, Gumarus Dharmawan William, memaparkan tentang teknologi RWA secara konkret memangkas hambatan investasi yang selama ini sulit dijangkau investor ritel. Ia mengambil studi kasus penerapan tokenisasi pada obligasi negara Indonesia seri INDON34.

“Batas minimum obligasi INDON34 konvensional mencapai 200 ribu Dolar AS atau Rp3,6 miliar. Lewat kepemilikan fraksional (fractional ownership), kini instrumen tersebut bisa diakses mahasiswa mulai dari satu juta Rupiah,” terang William.

William menekankan bahwa untuk menjamin keamanan investor dan mencegah hadirnya token bodong tanpa aset riil, ekosistem RWA wajib ditopang oleh lima pilar utama. Yaitu, tokenizer, pedagang aset digital, asset manager, custodian bank, dan auditor independen.

“Sinergi lima pihak ini memastikan bahwa setiap token digital yang diterbitkan seratus persen memiliki underlying asset yang valid, nyata, dan terverifikasi,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa integritas ekosistem yang terstruktur inilah yang menjadi kunci perlindungan utama bagi investor di era finansial digital. “Bahaya terbesar di dunia kripto adalah hadirnya token bodong yang tidak memiliki aset di belakangnya. Melalui ekosistem RWA yang terstruktur, investor terlindungi karena setiap token benar-benar ditopang oleh wujud aset yang sah,” pungkas William.

Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy

Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top