UNAIR NEWS – Memasuki hari kedua konferensi internasional SDGs CONNECT 2026, Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengupas tantangan kesehatan global pada Kamis (15/10/2026). Sesi bertema Global Collaboration in One Health and Health Promotion itu berlangsung di Aula Garuda Mukti, Lantai lima Gedung Rektorat Kampus MERR-C UNAIR.
Hadir sebagai salah satu pembicara utama, Vice President IUHPE Wilayah Pasifik Barat Bagian Selatan sekaligus Koordinator SDGs Center UNAIR, Assoc Prof Dr Sri Widati, membawakan topik bertajuk Global Partnerships and One Health Leadership: Building Institutional Health Literacy for Resilient Systems.
Sinergi Global dan SDG 17
Dalam pemaparannya, Assoc Prof Dr Sri Widati mengulas perjalanan Agenda 2030 PBB serta matriks ancaman dunia yang saling terhubung (Interconnected Threat Matrix). Mulai dari perubahan iklim, pandemi, resistensi antimikroba (AMR), ketahanan pangan, hingga krisis keanekaragaman hayati.
“Ancaman modern saat ini tidak lagi mengenal batas wilayah maupun disiplin ilmu. Oleh karena itu, pendekatan terisolasi (siloed approach) sudah tidak relevan untuk menghadapi krisis global yang kian kompleks,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa poin SDG 17 (Partnerships for the Goals) berfungsi sebagai mesin penggerak utama (engine of the goals) yang mengaktifkan mekanisme One Health lintas sektor demi mencapai SDG 3 (Good Health and Well-being).
“SDG 17 bersifat inklusif bagi dunia karena menggerakkan poin-poin SDGs lainnya. Melalui konferensi tersebut, kita tidak hanya mendorong pencapaian SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, tetapi juga seluruh indikator SDGs secara terpadu,” ujar Assoc Prof Dr Sri Widati.
One Health Leadership
Lebih lanjut, Assoc Prof Dr Sri Widati memaparkan urgensi pergeseran paradigma kepemimpinan (Leadership Paradigm Shift) dari pola hierarkis dan reaktif menuju One Health Leadership. “Kita perlu menggeser paradigma kepemimpinan tradisional menuju One Health Leadership yang berfokus pada systems thinking, kolaborasi lintas disiplin, serta pengambilan keputusan adaptif berbasis bukti,” jelasnya.
Dalam kerangka tersebut, ia menyoroti peran vital perguruan tinggi sebagai pusat (hub) yang mentransformasi pengetahuan akademis menjadi aksi nyata masyarakat melalui integrasi riset, inovasi, pengabdian, dan formulasi kebijakan. “Perguruan tinggi harus hadir sebagai hub yang menghubungkan pemerintah, industri, dan masyarakat guna mentransformasi pengetahuan menjadi solusi nyata,” paparnya.
Di akhir, ia menegaskan keterbukaan UNAIR dan SDGs Center UNAIR untuk menjalin kolaborasi strategis tingkat global. “Kami sangat terbuka untuk berjejaring dengan seluruh mitra internasional demi mewujudkan One Health di masa depan,” pungkasnya.
Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Khefti Al Mawalia
