Dr Sarah Handayani SKM selaku Ketua PPPKMI Pusat memberikan materi pada sesi Satellite conference. (Foto: AGT UNAIR)

PPPKMI Bahas Peran Strategis Promosi Kesehatan untuk SDGs

36 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Perkuat peran promosi kesehatan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menjadi salah satu agenda dalam rangkaian SDGs Connect: AUN-HPN, 11th IAC Meeting & 5th Health Promotion International Conference 2026. Pada Rabu (14/10/2026), Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) menggelar satellite conference sebagai bagian dari rangkaian hari pertama kegiatan tersebut.

Bertempat di Hall Amerta Lantai 4, Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, sesi konferensi menghadirkan sejumlah narasumber untuk membahas isu promosi kesehatan. Salah satunya adalah Ketua PPPKMI Pusat, Dr Sarah Handayani SKM MKes. Ia menyampaikan materi bertajuk The Strategic Role of Health Promotion Professionals: Implementing the Free Health Checkup Programme SDGs 3.

Dr Sarah memaparkan kaitan antara layanan cek kesehatan gratis, tenaga promosi kesehatan, dengan tujuan pembangunan keberlanjutan kehidupan sejahtera dan sehat. Menurutnya, program cek kesehatan gratis sangat mendukung tujuan tersebut, tetapi terdapat beberapa persoalan yang harus disorot.

“Program pemeriksaan kesehatan gratis saat ini menjadi prioritas utama, namun beberapa studi melaporkan bahwa petugas kesehatan mengalami burnout ketika melaksanakan program, mulai dari memasukkan data hingga mengejar target jumlah peserta,” tuturnya. Menurutnya, tenaga promosi kesehatan perlu menjembatani informasi dengan pemahaman, kemampuan untuk bertindak, serta dukungan praktis terhadap pasien.

Guna menghadapi tantangan tersebut, Dr Sarah menyarankan untuk menguatkan kompetensi tenaga kesehatan. Berkaca dari lapangan, permasalahan yang dihadapi bukan sekadar masalah komunikasi, tetapi juga faktor lain seperti beban kerja, pemahaman masalah, dukungan layanan, dan pengambilan keputusan terhadap hasil yang didapat.

Dr Sarah memaparkan terdapat delapan kompetensi yang perlu dikembangkan. Seperti pengetahuan tentang promosi kesehatan, manajemen pelayanan, strategi dan implementasi program, serta kemampuan komunikasi, dan edukasi terhadap masyarakat.  Kompetensi tersebut harus diselaraskan dengan pendidikan profesi tenaga promosi kesehatan yang berkelanjutan.

Dr Sarah melanjutkan tenaga promosi kesehatan perlu mengembangkan kompetensi mereka, agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. “Kita harus percaya diri dengan kompetensi ini dan senantiasa melanjutkan pengembangan keprofesian kita,” sambungnya.

Pemberdayaan masyarakat

Selain penguatan kompetensi, pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan promosi kesehatan. Dr Sarah menilai bahwa keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah masyarakat yang hadir untuk menjalani pemeriksaan tetapi juga kesadaran dan kemampuan bertindak pada tingkat individu, keluarga, maupun masyarakat.

Dr Sarah menegaskan bahwa kehadiran tidak sama dengan pemberdayaan. Partisipasi masyarakat dalam program kesehatan perlu menyertakan peningkatan pemahaman dan kemampuan mengambil keputusan. Karena itu, tenaga promosi kesehatan perlu memastikan masyarakat mampu memahami kebutuhan kesehatannya, bukan sekadar menerima layanan. 

Dr Sarah menegaskan keberhasilan layanan ini tidak hanya dari jumlah masyarakat yang menjalani pemeriksaan. “Keberhasilan cek kesehatan gratis juga diukur pada pemahaman orang terhadap hasil pemeriksaan mereka, sekaligus tindak lanjut yang diperlukan. Sehingga memiliki kesempatan nyata untuk menjalani hidup yang lebih sehat,” tegasnya.

Penulis: Damar Anargya Pratama 

Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top