UNAIR NEWS – Ekonomi syariah kian berkembang seiring pesatnya teknologi saat ini. Menghadapi isu tersebut, Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) menghadirkan Sharia Young Leader Summit (SYLS). Kegiatan ini hadir sebagai wadah diskusi mendalam terkait ekonomi syariah bersama para pembicara ahli di bidangnya.
Hadir pada SYLS, Vice President of Environmental, Social, Governance Strategy and Portfolio Management BSI Greget Kalla Buana yang bertanggung jawab merancang strategi keberlanjutan serta mengelola portofolio bisnis yang berwawasan lingkungan dan sosial. Menurutnya, ekonomi syariah tidak hanya berlaku untuk umat Islam saja, melainkan juga umat beragama selain Islam.
“Nasabah BSI merupakan nasabah syariah paling besar di dunia yang berasal dari Indonesia. Alhamdulillah, kami juga masuk dalam Top 9 Global Islamic Bank berdasarkan kapitalisasi pasar. Dari total nasabah tersebut, satu dari tujuh nasabah adalah non-muslim. Pertanyaannya, mengapa orang di luar agama Islam tertarik pada bank syariah?” ujarnya pada Jumat (16/10/2026) di Ruang Candradimuka, Gedung Kuliah Bersama (GKB), Kampus MERR-C UNAIR.
Cakupan Luas Ekonomi Syariah
Greget membahas ekonomi syariah dari berbagai sudut pandang. Misalnya dari fashion atau produk kecantikan seperti Wardah, yang juga menjadi bagian dari ekonomi syariah. Ia menyebut, ada beberapa fatwa terkait ekonomi syariah, seperti fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 30 tahun 2016. Fatwa ini mengharamkan kegiatan yang memperparah krisis iklim, sehingga perusahaan perusak hutan seharusnya tidak masuk ke dalam indeks syariah.
“Selain itu, tren ultra fast fashion juga perlu diwaspadai. Misalnya, jilbab yang dibeli murah namun hanya dipakai sebentar lalu rusak menunjukkan perilaku konsumtif yang tidak berkelanjutan. Kepedulian lingkungan ini juga merupakan bagian dari perilaku ekonomi syariah,” jelasnya.
Greget menekankan bahwa mereka yang di luar jurusan ekonomi syariah tidak perlu ragu untuk ikut berperan. Ia bercerita pernah mendapatkan cibiran mengenai alasannya belajar keuangan syariah di Inggris yang merupakan negara mayoritas non-muslim. Padahal faktanya, penyedia kursus islamic finance terbesar justru ada di Inggris, mengalahkan Indonesia dan Malaysia.
“Di sana terdapat praktik bank syariah, sukuk, dan lain-lain yang memberikan perspektif berbeda. Ekonomi keuangan syariah bukan sekadar transaksi sah atau halal secara hukum, tetapi juga menyangkut etika, moralitas, dan pertanggungjawaban karena transaksi kita melibatkan Allah,” imbuhnya.
Generasi Emas Ekonomi Syariah
Lebih lanjut, Greget menegaskan bahwa generasi emas harus bisa berinvestasi, memiliki prinsip egaliter, multitalenta, aktif mencari peluang beasiswa, serta memiliki nilai spiritual. Menurutnya, belajar keuangan syariah tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus mencakup keahlian dan pengalaman.
“Kita kekurangan sumber daya manusia yang multitalenta. Hal ini sangat dibutuhkan di dunia kerja. Potensi ekonomi syariah yang besar saat ini memang harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni,” pesannya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Yulia Rohmawati
