Praktisi Perikanan Bagikan Strategi Bisnis Ekspor kepada Mahasiswa UNAIR

52 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Memulai bisnis perikanan membutuhkan kemampuan membaca pasar, mengelola risiko, dan menjaga kualitas produk. Hal tersebut dibahas dalam seminar PROFIT X AQUA INNOVATE bertema Exploring Global Fishery Business. Seminar tersebut diselenggarakan oleh Kajian Keilmiahan Mahasiswa (KAKEMA) bersama Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan di Gedung C, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), Kampus MERR-C UNAIR, Sabtu (17/10/2026).

Seminar tersebut menghadirkan Direktur PT Anugrah Laut Indonesia, Aktaria Hidapratiwi ST. Mahasiswa Magister Ilmu Perikanan FPK itu membagikan pengalaman membangun usaha, mengatasi kegagalan, dan mengembangkan pasar ekspor.

Aktaria menekankan bahwa kewirausahaan tidak sekedar mencari keuntungan, tetapi juga menemukan solusi. Berbekal pengalaman di sektor perbankan sebelum menekuni bisnis perikanan, ia menilai pelaku usaha perlu tangguh menghadapi perubahan dan kegagalan. 

Menurutnya, inti kewirausahaan adalah kemampuan mengidentifikasi masalah dan menentukan langkah penyelesaiannya. “Cara berpikir bukan hanya mencari uang, tetapi melihat masalah dan menciptakan solusinya,” ujarnya.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak memulai bisnis hanya karena mengikuti tren. Sebelum menawarkan produk, calon pengusaha perlu melakukan riset pasar untuk memahami kebutuhan konsumen dan memastikan adanya permintaan.

Aktaria menilai sektor perikanan memiliki peluang pengembangan produk bernilai tambah. Ia mencontohkan pemanfaatan kulit ikan tuna sebagai bahan baku kolagen yang dikembangkan perusahaannya. “Kalau kita bicara usaha di perikanan, sangat besar peluangnya,” ungkapnya.

Penyerahan sertifikat kepada Aktaria Hidapratiwi ST oleh Dr Laksmi Sulmartiwi SPi MP selaku Wakil Dekan II FPK UNAIR dalam seminar PROFIT X AQUA INNOVATE Sabtu (17/10/2026) (Foto: Istimewa)

Ia juga menceritakan pengalamannya saat pandemi Covid-19, ketika permintaan pangan tetap berjalan dan ekspor perusahaannya justru meningkat. Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa pelaku usaha perlu memahami kebutuhan pasar dan mengembangkan produk yang sesuai.

Dalam bisnis ekspor, pelaku usaha perlu memahami karakteristik pasar dan ketentuan negara tujuan. Aktaria menjelaskan bahwa setiap negara memiliki persyaratan berbeda, terutama untuk produk perikanan konsumsi. 

Ia juga menjelaskan, calon eksportir perlu memeriksa standar produk dan persyaratan registrasi sebelum mengirimkan barang. “Setiap negara itu berbeda-beda. Produk yang diminati berbeda, regulasinya juga harus dicek,” jelasnya.

Selain riset pasar, Aktaria menekankan pentingnya legalitas dan pengelolaan keuangan. Ia menyarankan mahasiswa memisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis agar arus kas dan keuntungan dapat dipantau. “Nomor satu itu legalitas. Lengkapi semuanya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak menggantungkan seluruh operasional kepada satu orang. Pembagian tugas, komunikasi dengan mitra, dan konsistensi kualitas produk menjadi faktor penting bagi keberlanjutan bisnis. “Bisnis yang bergantung pada satu orang, termasuk pendirinya, adalah bisnis yang rapuh,” ujarnya.

Melalui seminar ini, mahasiswa UNAIR diharapkan memahami bahwa bisnis perikanan membutuhkan persiapan matang, bukan hanya gagasan produk. Riset pasar, pemenuhan regulasi, pengelolaan keuangan, dan pembangunan tim dapat menjadi bekal untuk mengembangkan usaha yang mampu bersaing di pasar global.

Penulis: Abraham Chrisanta Putra

Editor: Yulia Rohmawati

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top