Satu Dekade Garap Riset Berdampak, 11 Peneliti UNAIR Masuk Jajaran Top 2% Ilmuwan Dunia

68 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali berkibar di kancah sains global setelah 11 penelitinya dari berbagai bidang keilmuan masuk dalam jajaran Top 2% World’s Scientists. Masuknya belasan akademisi tersebut menjadi bukti nyata bahwa riset kampus tidak lagi sekadar berfokus pada kuantitas publikasi. Melainkan pada kualitas dan dampak nyata bagi masyarakat.

Ketua Lembaga Pengembangan Jurnal, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual (LPJPHKI), Prof Ferry Efendi SKep Ns MSc PhD, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan buah manis dari kerja kolektif yang terbangun secara konsisten. Menurutnya, deretan nama yang tercantum dalam rilis tersebut bukan merupakan capaian individu semata.

“Ini bukan prestasi pribadi, melainkan hasil kerja banyak pihak. Ada mahasiswa S1, S2, hingga S3 di tim riset, kolega dosen, mitra di puskesmas dan rumah sakit, hingga perawat di lapangan serta kolaborator dari dalam dan luar negeri,” ungkap Prof Ferry.

Pemeringkatan yang disusun Stanford University bersama Elsevier ini mengukur sejauh mana karya ilmiah seorang peneliti dikutip dan memberi pengaruh pada pengembangan ilmu di tingkat dunia. Menariknya, 11 ilmuwan UNAIR yang menembus daftar tersebut berasal dari fakultas yang sangat beragam. Mulai dari kedokteran, kesehatan masyarakat, keperawatan, ekonomi, hingga kedokteran hewan.

Keberagaman latar belakang ini menunjukkan bahwa ekosistem riset di UNAIR tumbuh sehat dan merata di seluruh fakultas, tanpa terpusat di satu bidang saja. “Artinya, riset di UNAIR tumbuh subur di banyak fakultas dan keberadaannya sudah diakui oleh dunia,” jelasnya.

Ketua Lembaga Pengembangan Jurnal, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual (LPJPHKI) UNAIR, Prof Ferry Efendi SKep Ns MSc PhD (Foto: Istimewa)

Sebagai lembaga yang mengawal publikasi dan kekayaan intelektual di lingkungan universitas, LPJPHKI memandang pengakuan internasional ini sebagai pengingat untuk terus menjaga standar kualitas riset. Prof Ferry menekankan pentingnya menjaga integritas akademik, termasuk sikap tegas terhadap praktik jurnal predator dan pelanggaran etik publikasi.

Selain itu, ia juga mendorong agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti di atas kertas atau sekadar mengejar angka sitasi. Riset yang ideal harus berlanjut hingga tahap hilirisasi, baik berupa paten, produk inovasi, maupun bentuk rekomendasi kebijakan publik.

“Bagi kami, capaian ini justru menambah tanggung jawab untuk terus menjaga mutu, mengawal integritas, dan memastikan riset yang dihasilkan benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Yulia Rohmawati

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top