Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Menimbang Biaya dan Harapan: Seberapa Siap Perempuan Indonesia Membayar Tes Genetik Kanker Payudara Keturunan?

326 Views•3 minutes read

Kanker payudara masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dalam upaya menekan angka morbiditas dan mortalitas, deteksi dini menjadi strategi yang paling krusial. Salah satu faktor risiko terkuat yang memicu kanker payudara herediter (keturunan) adalah adanya mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2. Perempuan yang membawa mutasi gen ini memiliki risiko hingga 70 persen untuk mengidap kanker payudara sepanjang hidupnya. Namun, untuk mengetahui status mutasi genetik tersebut, diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus yang biayanya tergolong tinggi dan belum ditanggung oleh layanan kesehatan masyarakat.

Melihat pentingnya deteksi dini berbasis genetik dalam mendukung rencana aksi penanggulangan kanker nasional, tim peneliti interdisipliner dari Fakultas Farmasi UNAIR bekerjasama dengan peneliti dari UGM, UNPAD, Vietnam dan Malaysia menggelar studi eksploratif pertama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengukur kesediaan membayar (willingness to pay/WTP) untuk tes genetik BRCA1/2, sekaligus memetakan tingkat pengetahuan, persepsi, dan dampaknya terhadap niat pemeriksaan kanker payudara. Studi berbasis survei ini melibatkan 400 perempuan berusia 25 tahun ke atas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), wilayah dengan prevalensi kanker tertinggi di Indonesia.

Hasil penelitian mengungkapkan fakta yang cukup kontras. Di satu sisi, antusiasme masyarakat terhadap tes genetik BRCA1/2 tergolong sangat tinggi, yaitu mencapai 90,75 persen. Alasan utama yang mendorong minat mereka adalah keinginan untuk mengoptimalkan langkah pencegahan kanker sejak dini. Namun di sisi lain, tingkat literasi masyarakat mengenai risiko genetik kanker masih relatif terbatas. Sebanyak 54 persen responden masuk dalam kategori pengetahuan rendah. Banyak responden yang belum memahami bahwa mutasi gen pemicu kanker payudara sebenarnya dapat diwariskan dari garis keturunan ayah maupun ibu.

Tantangan utama yang mengemuka dalam penelitian ini terletak pada aspek finansial. Saat ini, biaya riil pemeriksaan tes genetik BRCA1/2 di Indonesia berkisar pada angka Rp5.500.000. Meskipun mayoritas responden berminat untuk melakukan tes, rata-rata kemampuan bayar maksimum (maximum WTP) yang sanggup mereka keluarkan dari kantong pribadi hanyalah sebesar Rp1.345.638. Angka ini menghasilkan rasio kontribusi (co-payment rate) sebesar 0,24, yang mencerminkan adanya jurang pemisah yang lebar antara harga layanan riil dan daya beli masyarakat. Analisis statistik menunjukkan bahwa tingkat pendapatan bulanan, pendidikan, serta pengetahuan berhubungan erat dengan besaran biaya yang sanggup dibayarkan.

Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa diagnosis genetik memiliki dampak psikologis yang positif terhadap dorongan perilaku sehat. Dalam skenario hipotetis, ketika responden mengetahui hasil tes mereka positif memiliki mutasi BRCA1/2, niat mereka untuk menjalani pemeriksaan skrining berkala seperti mammografi dan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) meningkat secara signifikan. Hal ini membuktikan bahwa informasi risiko genetik merupakan alat advokasi yang sangat ampuh dalam mendorong pencegahan sekunder.

Mengingat tingginya kesenjangan biaya dan terbatasnya daya beli, mayoritas responden (62,43 persen) menyuarakan harapan agar tes genetik ini dapat ditanggung sepenuhnya oleh skema asuransi kesehatan pemerintah (BPJS Kesehatan). Peneliti menyimpulkan bahwa langkah krusial berikutnya bagi pembuat kebijakan adalah melakukan studi efektivitas biaya (cost-effectiveness study) skala nasional. Integrasi tes genetik tervalidasi ke dalam skema pelayanan kesehatan tidak hanya berpotensi menekan beban biaya pengobatan stadium lanjut, tetapi juga menjadi investasi strategis dalam menyelamatkan jiwa perempuan Indonesia.

Penulis: Andi Hermansyah

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42831209/

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top