Kanker hati, khususnya hepatoseluler karsinoma, merupakan salah satu masalah kesehatan global yang membutuhkan pengembangan terapi alternatif. Penelitian kolaboratif antara Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya mengeksplorasi potensi nanopartikel perak yang disintesis menggunakan ekstrak etanol rimpang lengkuas putih (Alpinia galanga).
Melalui pendekatan green synthesis, ekstrak lengkuas putih dimanfaatkan sebagai agen pereduksi dan penstabil dalam pembentukan nanopartikel perak. Karakterisasi menunjukkan bahwa nanopartikel yang dihasilkan memiliki ukuran rata-rata 6,35 nm, puncak serapan UV-Vis pada 420 nm, serta potensial zeta −28,6 mV yang mengindikasikan stabilitas koloid yang baik.
Analisis LC-MS mengidentifikasi 20 metabolit utama, dengan 2,3-dihydroxybenzoylserine sebagai kandidat potensial berdasarkan prediksi PASS. Simulasi molecular docking menunjukkan interaksi senyawa tersebut dengan Caspase-9, salah satu protein yang berperan dalam jalur apoptosis.
Uji in vitro menggunakan sel kanker hati Huh7it menunjukkan bahwa nanopartikel perak menurunkan viabilitas sel secara bergantung pada dosis dan waktu. Nilai IC50 mencapai 71,046 µg/mL setelah 24 jam dan menurun menjadi 63,395 µg/mL setelah 48 jam.
Hasil ini memberikan bukti awal potensi nanopartikel perak berbasis lengkuas putih sebagai kandidat dalam pengembangan terapi kanker hati, yang masih memerlukan validasi lebih lanjut.
Penulis: Prof. Win Darmanto, M.Si., Med Sci., Ph.D.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:
Cytotoxicity Evaluation of Silver Nanoparticles Synthesized Using Ethanol Extract of White Galangal (Alpinia galanga) Rhizome against Liver Cancer Cell Line (Huh7it): An In Vitro and In Silico Study. https://doi.org/10.48048/tis.2026.1305
