Head of Partnership Kemendiktisaintek RI Dini Adiba Septanti S Sos M Sc memaparkan skema pendanaan riset internasional dalam Sesi 2 Forum Strategic Research Collaboration di ACC Kampus MERR-C UNAIR, Senin (2/11/2026). (Foto: Dokumentasi M Yasir)

Buka Peluang Pendanaan Riset Internasional, Kemendiktisaintek Paparkan Skema Strategis di UNAIR

136 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Sesi 2 Forum Internasional Strategic Research Collaboration di Ruang Bima Suci, Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C UNAIR, Senin (2/11/2026). Sesi bertajuk From Research Partnerships to Funding Opportunities ini menghadirkan Head of Partnership Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI Dini Adiba Septanti S Sos M Sc sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Dini Adiba Septanti menekankan pentingnya penguatan ekosistem penelitian nasional melalui pendanaan bersama (co-funding) dan prinsip kemitraan setara (equal partnership). Ia merinci skema kerja sama bilateral yang telah berjalan aktif, antara lain KONEKSI dan PAIR bersama Australia, Merian Fund dan NL-CoSS bersama Belanda, Nusantara bersama Prancis, serta ISPF bersama Inggris.

“Kemitraan internasional harus dibangun di atas dasar kesetaraan dan tanggung jawab yang seimbang. Kolaborasi ini bertujuan mengoptimalkan sumber daya demi melahirkan luaran riset yang berdaya saing serta mampu menjawab tantangan global,” jelas Dini Adiba Septanti.

Ia turut membandingkan dua jalur utama pendanaan riset di Indonesia, yakni APBN dan dana abadi LPDP. Dini menyebut APBN terikat pada siklus tahun anggaran tunggal Januari hingga Desember, sedangkan LPDP menawarkan skema pendanaan multi-tahun (multi-year funding) yang memberikan fleksibilitas administrasi lebih tinggi bagi peneliti.

Lebih lanjut, Kemendiktisaintek menyiapkan sejumlah program unggulan (flagship) baru untuk memacu inovasi aplikatif berdaya saing tinggi. Salah satunya adalah skema Hub and Spoke yang mengintegrasikan hibah riset dan beasiswa bagi perguruan tinggi unggulan, serta program ARCH-II bersama CSIRO Australia yang menghubungkan konsorsium kampus dan industri lintas negara.

“Pemerintah meluncurkan International Research Call (IRC) sebagai dana rintisan (seed funding) hingga Rp200 juta per proyek untuk penguatan riset publikasi, prototipe, hingga mobilitas peneliti. Selain itu, program jaringan diaspora terus dipacu melalui skema bimbingan bersama (joint supervision) dan desain riset bersama,” ungkap Dini.

Skema dana rintisan tersebut mengalokasikan hingga 40 persen total anggaran khusus untuk mendorong mobilitas serta jejaring peneliti secara individual di tingkat internasional. Melalui berbagai skema strategis ini, Kemendiktisaintek mendorong akademisi UNAIR untuk aktif mengambil peran sebagai pusat (hub) utama dalam jaring kolaborasi penelitian dunia.

Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy 

Editor: Khefti Al Mawalia

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top