Dayinta Annisa Syaiful SKM MKKK MPGH saat memaparkan dalam webinar nasional MAWACANA bertema Pahami Risikonya dan Siap untuk Menghadapi Bencana pada Sabtu (31/10/2026) (Foto: Istimewa)

WEBINAR MAWACANA Dosen K3 UNAIR Jelaskan Fase Api dan Teknik Pemadaman Kebakaran 

56 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Memahami fase perkembangan api hingga teknik pemadaman yang tepat menjadi bekal penting untuk mengenali risiko dan menentukan langkah keselamatan saat kebakaran terjadi. Dayinta Annisa Syaiful SKM MKKK MPGH, dosen Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), menyampaikan hal tersebut dalam webinar nasional bertema “Pahami Risikonya dan Siap untuk Menghadapi Bencana” oleh Club MAWACANA (Mahasiswa Tanggap Bencana) Kementrian Pengabdian Masyarakat BEM FKM UNAIR pada Sabtu (31/10/2026) melalui aplikasi zoom.

Kenali Fase Api untuk Menentukan Evakuasi

Dayinta menjelaskan, kebakaran bermula ketika bahan bakar, oksigen, dan sumber panas bertemu dalam kondisi yang memungkinkan terjadinya reaksi pembakaran. Api yang semula kecil dapat berkembang dan melibatkan lebih banyak material apabila tidak segera kita kendalikan. 

Ia kemudian menerangkan, kebakaran melewati beberapa fase, mulai dari ignition, growth, flashover, fully developed fire, hingga decay. Pada fase growth, api mulai membesar dan melibatkan lebih banyak material, sementara temperatur ruangan masih relatif rendah, yakni di bawah 300 derajat Celsius menurut pemaparannya.

“Jadi ketika ada ignition kemudian sudah mulai growth tapi masih belum besar begitu ya itu adalah titik kritis di mana kita harus melakukan evakuasi,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, kebakaran yang mencapai fase fully developed fire menjadi kondisi paling berbahaya karena seluruh material di dalam ruangan terbakar dan temperatur dapat mencapai sekitar 700–1.000 derajat Celcius. Dalam kondisi tersebut, sangat sulit untuk mengevakuasi penghuni yang terperangkap.

Sementara itu, pada fase decay, api mulai surut seiring berkurangnya material yang terbakar dan menurunnya temperatur ruangan. Namun, bara maupun titik panas tersembunyi masih dapat memicu penyalaan kembali sehingga penanganan tidak cukup hanya dengan menunggu api mereda.

“Sehingga kita perlu melakukan tidak hanya evakuasi, tetapi juga mengidentifikasi di sumber-sumber apinya, terutama di sumber ignitionnya,” jelasnya.

Pilih Teknik Pemadaman yang Tepat

Dayinta menguraikan lima teknik pemadaman, yakni cooling atau pendinginan, smothering atau penyelimutan, dilution atau pengenceran, starvation atau penghilangan bahan bakar, serta inhibition atau penghambatan reaksi kimia. Setiap jenis kebakaran memerlukan teknik yang berbeda. Air, misalnya, tidak cocok untuk peralatan listrik bertegangan karena berisiko menyebabkan sengatan listrik, dan dapat membuat api minyak menyebar. “Jadi nggak semua-semua yang terbakar itu bisa kita kasih air,” tegasnya.

Di akhir pemaparan, Dayinta berharap peserta dapat menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. “Saya mengharapkan ketika adik-adik sudah mengetahui model fire, kemudian apa itu flashing point, ignition, dan bagaimana proses fire itu terjadi hingga terjadi kebakaran dan kemudian bisa dipadamkan, juga adik-adik bisa mengetahui bagaimana prinsip-prinsip dan metode apa yang paling tepat untuk memadamkan kebakaran,” pungkasnya. 

Penulis: Katara Joy Kurniawan

Editor: Ragil Kukuh Imanto

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top