Dosen FISIP UNAIR Irfai Afham SSos MSi saat menyampaikan pandangan kritisnya mengenai isu pemenuhan HAM dan Serikat Pekerja Kampus dalam gelaran Airlangga Human Rights Movement (AHRM) 2.0 di Taman FISIP UNAIR. (Foto: Cintya Sih Nareswari)

Dosen FISIP UNAIR dan AHRM 2.0 Bahas Kesejahteraan Pekerja Kampus

22 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Isu pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) serta keberadaan Serikat Pekerja Kampus kembali menjadi perhatian serius di Universitas Airlangga (UNAIR). Merespon isu strategis tersebut, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR Irfai Afham SSos MSi memberikan pandangan kritisnya dalam gelaran Airlangga Human Rights Movement (AHRM) 2.0 di Taman FISIP UNAIR. Agenda kolaborasi inisiasi Kementerian Sosial dan Politik (Sospol) BEM UNAIR bersama Solidaritas Mahasiswa Hukum Indonesia (SMHI) FH UNAIR ini hadir sebagai forum edukasi publik mengenai demokrasi dan HAM. Langkah taktis ini guna membuktikan bahwa wacana akademis dapat berpadu secara harmonis dengan medium kultural.

Sejumlah mahasiswa mengunjungi lapak baca pada gelaran AHRM 2.0 di Taman FISIP UNAIR. (Foto: Cintya Sih Nareswari)
Sejumlah mahasiswa mengunjungi lapak baca pada gelaran AHRM 2.0 di Taman FISIP UNAIR. (Foto: Cintya Sih Nareswari)
Kesejahteraan Pekerja dan Esensi Kemanusiaan 

Dalam pemaparannya, Irfai menyoroti pentingnya menjaga wacana kemanusiaan agar seluruh civitas akademika agar tetap dapat meresapinya, khususnya yang berkaitan dengan nasib pekerja kampus. Ia menegaskan bahwa keadilan sosial dan penguatan serikat pekerja tidak boleh terhenti pada tataran teori belaka, melainkan harus berwujud perlindungan yang konkrit. “Isu kemanusiaan harus selalu hidup dan diperjuangkan. Seni adalah salah satu alat yang paling baik untuk menyuarakan hal itu,” tegas Irfai. Penekanan ini menjadi pengingat krusial bagi institusi pendidikan agar lebih memperhatikan hak-hak dasar para pekerja di lingkungan perguruan tinggi.

Dimensi Ketenagakerjaan dan Tanggung Jawab Moral Lebih lanjut, Irfai membedah bagaimana pemenuhan hak pekerja kampus seharusnya menjadi pondasi utama dalam setiap pengambilan kebijakan di tingkat universitas. Ia memaparkan bahwa pemahaman sosial yang mendalam sangat krusial agar mahasiswa dapat secara aktif mengawal berbagai bentuk isu kemanusiaan di masyarakat. “Mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial untuk melihat realitas di sekitarnya. Sehingga kampus tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bertumbuhnya kepedulian terhadap sesama,” tambahnya. Menurutnya, keberanian menyuarakan isu ketenagakerjaan merupakan bentuk integritas moral yang harus terus civitas akademika rawat.

Musisi folk indie Bagus Dwi Danto dari Sisir Tanah membawakan lagu-lagu bertema sosial pada gelaran AHRM 2.0 di Taman FISIP UNAIR. Pertunjukan seni tersebut menjadi medium ekspresi pergerakan mahasiswa dalam mengawal isu kemanusiaan dan ketenagakerjaan. (Foto: Cintya Sih Nareswari)
Musisi folk indie Bagus Dwi Danto dari Sisir Tanah membawakan lagu-lagu bertema sosial pada gelaran AHRM 2.0. Pertunjukan seni tersebut menjadi medium ekspresi pergerakan mahasiswa dalam mengawal isu kemanusiaan dan ketenagakerjaan. (Foto: Cintya Sih Nareswari)
Harmonisasi Kritik Sosial Lewat Seni dan Literasi 

Pesan yang Irfai sampaikan semakin intens terasa dengan penampilan musisi folk indie Bagus Dwi Danto dari Sisir Tanah yang membawakan lagu-lagu bertema sosial. Selain pertunjukan musik dan pameran seni, panitia juga menghadirkan lapak baca untuk memfasilitasi literasi para pengunjung di ruang terbuka. Kolaborasi antara wacana ketenagakerjaan, edukasi hukum, dan panggung ekspresi seni ini sukses menghidupkan kembali Taman FISIP sebagai arena diskursus yang positif. 

Penulis: Nabila Afifah Abida

Editor: Ragil Kukuh Imanto

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top