Pneumosiderosis, atau yang secara klinis dikenal sebagai welder’s lung, merupakan salah satu bentuk pneumokoniosis non-fibrotik yang bersifat jarang (rare occupational lung disease). Penyakit ini diinduksi oleh inhalasi kronis dari partikulat debu besi atau asap las ke dalam ruang intra-alveolar. Secara patofisiologis, akumulasi partikel besi ini memicu respons inflamasi lokal yang dimediasi oleh sel Th1, serta mengaktivasi sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α, IFN-γ, dan IL-1. Hambatan utama dalam tata laksana klinis penyakit ini adalah manifestasi radiologis dan gejalanya yang menyerupai Interstitial Lung Disease (ILD) lainnya, sehingga sering memicu kesalahan diagnosis awal (misdiagnosis) sebagai pneumonia, pneumonitis, atau sekuel pasca-COVID-19.
Presentasi Kasus dan Anomali Laboratorium Studi kasus ini meneliti seorang pria berusia 43 tahun dengan riwayat okupasi sebagai tukang las kontainer selama lebih dari 20 tahun. Pasien menunjukkan gejala klinis berupa dispnea progresif selama enam bulan dan batuk produktif. Pencitraan toraks via High-Resolution Computed Tomography (HRCT) mengonfirmasi adanya opasitas ground-glass bilateral dan nodul sentrilobular.
Secara laboratoris, parameter besi sistemik menunjukkan peningkatan kadar ferritin yang signifikan (486,49 ng/mL). Menariknya, uji serologi menunjukkan hasil positif pada Antinuclear Antibody (ANA) dan anti-double-stranded DNA (anti-dsDNA) tanpa adanya manifestasi klinis sistemik dari Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Fenomena ini mengindikasikan bahwa inhalasi kronis debu logam anorganik mampu memicu aktivasi imun sistemik dan produksi autoantibodi subklinis melalui stimulasi sel penyaji antigen (antigen-presenting cells) akibat inflamasi kronis.
Aplikasi Spektroskopi FTIR sebagai Modalitas Diagnostik Standar baku emas (gold standard) untuk menegakkan diagnosis pneumosiderosis adalah identifikasi makrofag yang mengandung besi (iron-laden macrophages) pada jaringan paru atau cairan Bronchoalveolar Lavage (BAL) melalui pewarnaan Prussian blue. Kendati demikian, modalitas histopatologi ini sulit diakses pada fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sumber daya.
Sebagai alternatif penunjang, Spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) diaplikasikan pada sedimen sampel BAL pasien. Prinsip kerja FTIR bertumpu pada identifikasi senyawa kimia dengan mengukur absorbsi radiasi inframerah pada panjang gelombang spesifik yang sesuai dengan mode vibrasi ikatan molekul.
- Analisis FTIR pada sampel pasien mendeteksi puncak serapan ikatan Fe–O yang kuat pada bilangan gelombang (wavenumber) 540 cm⁻¹ dan 470 cm⁻¹.
- Karakteristik spektrum ini memiliki konformasi yang identik dengan standar referensi besi oksida (Fe2 O3), yang secara kimiawi mengonfirmasi deposisi partikel besi di dalam alveoli.
Teknik FTIR menawarkan keunggulan berupa analisis yang cepat, bebas reagen (reagent-free), tidak merusak sampel (non-destructive), dan hanya membutuhkan volume sampel yang minimal. Metode ini memiliki sensitivitas 82%–94% dan spesifisitas 85%–96% dalam membedakan sampel yang mengandung oksida logam.
Kesimpulan dan Manajemen Klinis Integrasi metode spektroskopi tingkat lanjut seperti FTIR terbukti efektif sebagai alat bantu diagnostik non-invasif yang responsif untuk mendeteksi pneumosiderosis ketika fasilitas histopatologi tidak tersedia. Meskipun pneumosiderosis umumnya bersifat jinak (benign), paparan debu las yang berkepanjangan tanpa intervensi berisiko memicu fibrosis paru ireversibel dan penurunan fungsi respirasi yang berat.
Manajemen terapeutik utama pada kasus ini berfokus pada eliminasi total paparan okupasi terhadap asap las. Intervensi farmakologis yang diberikan meliputi kortikosteroid inhalasi (Pulmicort®) dan bronkodilator (Combivent®) untuk mengatasi komponen inflamasi jalan napas, disertai rujukan untuk rehabilitasi pulmonal jangka panjang.
Penulis: Muhamad Robi’ul Fuadi
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/fourier-transform-infra-red-role-in-diagnosis-welders-lung-diseas/
