Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan salah satu gangguan neurodevelopmental yang sering ditemukan pada anak dan ditandai oleh gejala inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang dapat mengganggu fungsi akademik, sosial, dan emosional. Penatalaksanaan ADHD umumnya melibatkan kombinasi terapi farmakologis dan intervensi perilaku. Meskipun obat stimulan efektif, perhatian terhadap efek samping, keamanan jangka panjang, serta variasi respons terapi mendorong pengembangan pendekatan komplementer. Musik merupakan salah satu intervensi yang menarik karena bersifat non-invasif, relatif murah, dan dapat diterima oleh anak maupun orang tua.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi apakah paparan musik klasik dapat mengurangi gejala terkait ADHD pada anak usia sekolah. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pre-test dan post-test yang dilakukan di SDN Klampis Ngasem 1, Surabaya, selama tahun 2024–2025. Sebanyak 121 siswa kelas tiga menjalani skrining menggunakan Abbreviated Conners’ Teacher Rating Scale (ACTRS). Anak dengan skor ACTRS ≥12 dianggap memiliki gejala terkait ADHD. Dari hasil skrining, 26 anak memenuhi kriteria dan setelah memperoleh persetujuan orang tua dibagi secara acak menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol, masing-masing terdiri dari 13 anak.
Kelompok intervensi mendapatkan paparan musik klasik selama 20 menit dalam lima hari sekolah berturut-turut. Sesi dilakukan secara berkelompok di lingkungan sekolah dengan pengawasan guru dan tim peneliti, sedangkan kelompok kontrol tetap mengikuti aktivitas sekolah seperti biasa tanpa paparan musik. Gejala ADHD dinilai menggunakan ACTRS yang mencakup 10 item untuk menilai hiperaktivitas, inatensi, dan impulsivitas. Penilaian dilakukan oleh guru sebelum dan segera setelah intervensi.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan bermakna skor ACTRS pada kelompok yang mendapatkan musik klasik. Skor rata-rata menurun dari 14,61 ± 2,98 sebelum intervensi menjadi 10,46 ± 3,55 setelah intervensi dengan p = 0,005. Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna, dengan median skor tetap 12,00 sebelum dan sesudah intervensi (p = 0,59). Perbandingan antar kelompok juga menunjukkan penurunan skor yang lebih besar pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol, dengan p = 0,004. Temuan ini menunjukkan adanya perbaikan gejala terkait ADHD setelah paparan musik klasik jangka pendek berdasarkan penilaian guru.
Penulis mengemukakan bahwa musik klasik dapat memengaruhi jaringan otak yang berperan dalam perhatian, arousal, dan fungsi eksekutif. Input auditori yang terstruktur dan ritmis diduga dapat membantu regulasi aktivitas kortikal, mengurangi hyperarousal, serta mendukung perhatian berkelanjutan dan regulasi emosi. Selain itu, intervensi ini memiliki keunggulan praktis karena dapat dilakukan di lingkungan sekolah secara berkelompok, membutuhkan sumber daya minimal, dan tidak memerlukan peralatan khusus. Hal tersebut menunjukkan potensinya sebagai strategi tambahan dalam mendukung penatalaksanaan ADHD,
khususnya pada lingkungan dengan keterbatasan akses terhadap intervensi farmakologis maupun perilaku.
Namun, hasil penelitian perlu ditafsirkan dengan mempertimbangkan beberapa keterbatasan. Identifikasi ADHD hanya berdasarkan skor ACTRS dan bukan diagnosis klinis komprehensif berdasarkan kriteria DSM-5. Jumlah sampel relatif kecil, intervensi hanya berlangsung selama lima hari, dan hasil hanya didasarkan pada laporan guru sehingga kemungkinan dipengaruhi persepsi subjektif. Oleh karena itu, penelitian berikutnya perlu melibatkan sampel yang lebih besar, durasi intervensi yang lebih panjang, berbagai sumber penilaian, serta pengukuran objektif fungsi kognitif atau aktivitas neurofisiologis.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa paparan musik klasik jangka pendek berhubungan dengan penurunan gejala terkait ADHD pada anak usia sekolah. Musik klasik berpotensi menjadi intervensi komplementer yang mudah diterapkan, murah, dan non-invasif. Namun, bukti ini masih perlu diperkuat melalui penelitian dengan desain dan ukuran sampel yang lebih kuat sebelum penerapannya dapat dipertimbangkan secara lebih luas dalam penatalaksanaan ADHD.
Penulis: Yunias Setiawati
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-105029750666&doi=10.60110%2Fmedforum.361212&partnerID=40&md5=05a20e0bc245def85e562582e79068ce
