Konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, terutama kerusakan hati. Salah satu dampaknya adalah penyakit hati akibat alkohol (alcoholic liver disease), yang ditandai dengan penumpukan lemak, peradangan, hingga kerusakan jaringan hati. Dalam kondisi berat, penyakit ini dapat berkembang menjadi sirosis bahkan kanker hati. Sayangnya, pilihan pengobatan yang efektif masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian untuk menemukan alternatif terapi yang lebih baik.
Penelitian ini mengungkap potensi gabapentin dalam mengurangi kerusakan hati dan usus akibat paparan alkohol. Penelitian yang dilakukan oleh Annette dβArqom dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bersama tim peneliti dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan obat yang telah digunakan secara luas untuk penyakit lain.
Gabapentin selama ini dikenal sebagai obat untuk menangani epilepsi, nyeri neuropatik, dan gejala putus alkohol. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa obat ini juga memiliki aktivitas antiperadangan. Temuan tersebut mendorong peneliti untuk mengevaluasi apakah gabapentin dapat membantu memperbaiki kerusakan organ akibat alkohol.
Penelitian dilakukan menggunakan ikan zebra (Danio rerio), hewan yang banyak digunakan dalam penelitian biomedis karena memiliki kesamaan genetik dan sejumlah mekanisme biologis dengan manusia. Ikan zebra dipaparkan alkohol berkonsentrasi 0,5% selama 28 hari untuk membentuk model penyakit hati akibat alkohol. Setelah itu, ikan diberikan gabapentin dengan tiga konsentrasi berbeda, yaitu 150, 200, dan 300 mg/L, selama dua hingga empat minggu. Sebagai pembanding, peneliti menggunakan kelompok tanpa pengobatan dan kelompok yang memperoleh prednison, obat antiperadangan golongan kortikosteroid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan alkohol menyebabkan penumpukan lemak dan peradangan pada hati. Selain itu, ditemukan perubahan pada jaringan usus berupa peningkatan jumlah sel penghasil lendir, pemendekan lapisan mukosa, serta infiltrasi sel radang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak alkohol tidak hanya terbatas pada hati, tetapi juga melibatkan usus.
Hubungan antara hati dan usus dikenal sebagai gut-liver axis atau sumbu usus-hati. Ketika alkohol merusak lapisan pelindung usus, zat yang berasal dari mikroorganisme usus dapat lebih mudah memicu respons peradangan yang selanjutnya memperburuk kerusakan hati.
Menariknya, pemberian gabapentin berkaitan dengan perbaikan bertahap pada jaringan hati maupun usus. Penumpukan lemak hati berkurang, area peradangan mengecil, dan kondisi lapisan usus membaik. Perubahan lebih nyata terlihat pada konsentrasi 200 dan 300 mg/L setelah empat minggu pengobatan. Pada beberapa parameter, hasilnya mendekati kelompok yang mendapatkan prednison.
Peneliti juga mengamati perubahan interleukin-8 (IL-8), molekul yang berperan dalam proses peradangan. Analisis bioinformatika terhadap data pasien hepatitis alkoholik menunjukkan peningkatan aktivitas gen IL-8. Temuan ini sejalan dengan percobaan ikan zebra, yang memperlihatkan peningkatan ekspresi gen tersebut setelah paparan alkohol dan penurunan setelah pengobatan.
Meski demikian, hasil penelitian ini belum membuktikan bahwa gabapentin efektif mengobati penyakit hati akibat alkohol pada manusia. Penghentian paparan alkohol juga dapat berkontribusi terhadap pemulihan jaringan dan penurunan peradangan. Selain itu, konsentrasi gabapentin yang digunakan pada ikan belum dapat langsung diterapkan sebagai dosis manusia.
Penelitian ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan gabapentin sebagai terapi tambahan melalui pendekatan pemanfaatan kembali obat yang telah tersedia (drug repurposing). Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan mekanisme kerja, keamanan, dan efektivitasnya sebelum dapat dipertimbangkan dalam praktik klinis.
Penulis: Annette dβArqom
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://pharmacia.pensoft.net/article/204223
