Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Board Gender Diversity and ESG Performance: The Moderating Role of Porter’s Competitive Business Strategies in Asian Emerging Economies

13 Views•5 minutes read

Keberagaman gender dalam dewan perusahaan saat ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai persoalan representasi perempuan, tetapi mulai menjadi bagian penting dari strategi tata kelola perusahaan dan keberlanjutan. Artikel ini membahas bagaimana board gender diversity, khususnya keberadaan perempuan dalam dewan, berhubungan dengan kinerja Environmental, Social, and Governance (ESG) pada perusahaan di negara-negara berkembang Asia. Penelitian juga menguji apakah hubungan tersebut berubah ketika perusahaan menerapkan strategi persaingan yang berbeda, yaitu cost leadership atau differentiation strategy berdasarkan kerangka strategi kompetitif Michael Porter. Dengan demikian, penelitian tidak hanya bertanya apakah keberadaan perempuan di dewan meningkatkan ESG, tetapi juga dalam kondisi strategi bisnis seperti apa kontribusi tersebut menjadi lebih terlihat.

Topik ini penting karena negara-negara berkembang di Asia sedang mengalami perkembangan pesat dalam regulasi tata kelola perusahaan dan ESG. Tekanan dari regulator, investor, bursa saham, dan masyarakat membuat perusahaan semakin dituntut meningkatkan representasi perempuan dalam dewan sekaligus memperbaiki kinerja keberlanjutan. Namun, penerapannya belum merata. India, Malaysia, dan Pakistan misalnya telah memiliki persyaratan tertentu mengenai keberadaan perempuan dalam dewan perusahaan, sedangkan Indonesia, Thailand, Filipina, China, dan Bangladesh lebih banyak menggunakan pedoman tata kelola, tekanan stakeholder, dan mekanisme pasar daripada kuota yang mengikat secara hukum. Kondisi ini membuat negara berkembang Asia menjadi konteks yang menarik untuk mempelajari apakah keberagaman gender benar-benar memberikan dampak substantif atau hanya menjadi simbol kepatuhan.

Penelitian menggunakan tiga landasan pemikiran utama, yaitu Resource Dependence Theory, Upper Echelons Theory, dan kerangka strategi kompetitif Porter. Resource Dependence Theory menjelaskan bahwa perempuan dalam dewan dapat membawa sumber daya tambahan berupa jaringan, informasi, legitimasi, dan hubungan dengan stakeholder. Upper Echelons Theory menjelaskan bahwa karakteristik, pengalaman, dan perspektif para pengambil keputusan di tingkat atas memengaruhi keputusan organisasi. Dewan yang lebih beragam secara gender diharapkan memiliki sudut pandang yang lebih luas ketika menghadapi masalah lingkungan, sosial, etika, dan tata kelola. Sementara itu, kerangka Porter digunakan untuk menjelaskan bahwa manfaat keberagaman dewan kemungkinan berbeda sesuai dengan cara perusahaan bersaing di pasar.

Dalam strategi differentiation, perusahaan bersaing melalui inovasi, keunikan produk, kualitas, reputasi, dan penciptaan nilai. Karena ESG dapat memperkuat reputasi, kepercayaan stakeholder, serta inovasi berkelanjutan, awalnya peneliti memperkirakan keberagaman gender akan memberikan dampak ESG yang lebih kuat pada perusahaan yang menggunakan strategi ini. Sebaliknya, perusahaan dengan strategi cost leadership lebih berfokus pada efisiensi, pengendalian biaya, standardisasi, dan penggunaan aset secara optimal. ESG berpotensi dianggap sebagai biaya tambahan apabila manfaatnya terhadap efisiensi tidak langsung terlihat. Atas dasar itu, penelitian awalnya memperkirakan efek keberagaman gender akan lebih lemah pada kelompok perusahaan cost leadership.

Penelitian menggunakan sampel yang sangat besar, yakni 7.159 perusahaan dengan 64.427 observasi perusahaan-tahun selama periode 2015–2023 di berbagai negara berkembang Asia. Negara yang masuk dalam sampel antara lain China, India, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Filipina, Thailand, Vietnam, Bangladesh, Sri Lanka, Kamboja, dan Kazakhstan. China menyumbang observasi terbesar, sedangkan Indonesia menyumbang 5.606 observasi. Data ESG berasal dari Thomson Reuters, sementara informasi keuangan, tata kelola, dan strategi perusahaan berasal dari Bloomberg. ESG dinilai melalui berbagai aspek, termasuk emisi, inovasi lingkungan, penggunaan sumber daya, komunitas, hak asasi manusia, tenaga kerja, tanggung jawab produk, strategi CSR, manajemen, dan pemegang saham.

Hasil utama penelitian menunjukkan bahwa semakin besar representasi perempuan dalam dewan, semakin baik kinerja ESG perusahaan. Hubungan ini tetap positif setelah peneliti memperhitungkan perbedaan tahun, industri, negara, struktur perusahaan, dan kondisi keuangan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perempuan dalam dewan dapat memperluas perhatian perusahaan terhadap kepentingan stakeholder, meningkatkan kesadaran terhadap isu keberlanjutan, serta memperkuat pengawasan terhadap ESG. Dengan kata lain, board gender diversity dapat menjadi sumber daya tata kelola yang nyata, bukan sekadar simbol keberagaman.

Namun, penelitian menemukan hasil yang mengejutkan ketika strategi perusahaan diperhitungkan. Bertentangan dengan hipotesis awal, hubungan positif antara board gender diversity dan ESG ternyata lebih kuat pada perusahaan yang menerapkan cost leadership daripada differentiation strategy. Pada perusahaan cost leadership, keberadaan perempuan dalam dewan berhubungan positif dan signifikan dengan ESG. Sementara itu, pada perusahaan differentiation, pengaruh tambahannya menjadi sangat kecil dan tidak signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan dalam dewan justru memiliki peran yang lebih terlihat ketika strategi perusahaan secara alami tidak terlalu berorientasi pada ESG.

Penulis menjelaskan bahwa dalam perusahaan cost leadership, manajemen sangat berfokus pada efisiensi dan pengendalian biaya. Dalam situasi seperti ini, dewan yang lebih beragam dapat berfungsi sebagai corrective governance mechanism, yaitu mekanisme tata kelola yang memperluas perhatian perusahaan dari sekadar biaya dan efisiensi menuju kepentingan stakeholder, tanggung jawab lingkungan, legitimasi sosial, dan risiko keberlanjutan jangka panjang. Sebaliknya, perusahaan differentiation umumnya telah memasukkan inovasi, reputasi, stakeholder engagement, dan keberlanjutan ke dalam strategi kompetitifnya. Karena ESG sudah menjadi bagian dari strategi tersebut, tambahan kontribusi yang secara khusus berasal dari board gender diversity menjadi lebih sulit terlihat. Dengan bahasa sederhana, ESG pada perusahaan differentiation lebih banyak digerakkan oleh strategi bisnis, sedangkan pada perusahaan cost leadership kontribusi tata kelola dewan menjadi lebih penting.

Temuan lain yang sangat penting berkaitan dengan critical mass. Penelitian menguji apakah pengaruh perempuan menjadi lebih kuat ketika jumlah mereka mencapai minimal 30% anggota dewan. Hasilnya menunjukkan perusahaan yang mencapai tingkat tersebut memiliki kinerja ESG lebih baik. Sayangnya, hanya sekitar 2,62% observasi perusahaan dalam sampel yang telah memiliki sedikitnya 30% perempuan di dewan. Hal ini menunjukkan bahwa representasi perempuan pada level yang cukup untuk benar-benar memengaruhi keputusan strategis masih sangat jarang di negara berkembang Asia. Kehadiran satu orang perempuan saja belum tentu cukup karena dapat menimbulkan kondisi tokenisme, yaitu representasi yang lebih bersifat simbolis daripada memiliki kekuatan substantif dalam pengambilan keputusan.

Secara keseluruhan, artikel ini menunjukkan bahwa hubungan antara keberagaman gender dan keberlanjutan perusahaan tidak dapat dipahami secara sederhana. Representasi perempuan dalam dewan memang berhubungan dengan kinerja ESG yang lebih baik, tetapi kekuatan pengaruh tersebut tergantung pada strategi bisnis dan konteks perusahaan. Temuan penelitian memberikan pesan penting bagi perusahaan dan regulator bahwa kebijakan keberagaman sebaiknya tidak berhenti pada kewajiban menempatkan satu perempuan dalam dewan. Perusahaan perlu menciptakan representasi yang cukup besar dan memberikan ruang nyata bagi perempuan untuk terlibat dalam keputusan strategis. Sementara itu, perusahaan perlu menyelaraskan komposisi dewan dengan strategi kompetitifnya. Dengan demikian, keberagaman gender dapat menjadi bagian substantif dari tata kelola yang membantu perusahaan membangun kinerja ESG dan menciptakan nilai berkelanjutan di negara-negara berkembang Asia.

Penulis: Bambang Tjahjadi

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/bsd2.70385

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top