Kiprah Nina, Aktivis Muda yang Giat Suarakan Isu Lingkungan di Forum Dunia

20 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Usia muda tidak menghalangi seseorang untuk memperjuangkan masa depan lingkungan. Aeshnina Azzahra Aqilani, atau akrab disapa Nina, membuktikannya. Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) sekaligus aktivis lingkungan asal Jawa Timur ini konsisten menyuarakan perlawanan terhadap sampah plastik. 

Kepedulian Nina terhadap lingkungan tumbuh sejak dini. Ia menyebut faktor keluarga sebagai pendorong utama. Kedua orang tuanya adalah aktivis lingkungan sekaligus biologis, sehingga sejak kecil ia terbiasa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Lingkungan ini tempat tinggal kita. Kita tidak akan bisa hidup tanpa alam, baik air, makanan, maupun udara dan kedua orang tua saya menjadi role model. Mereka memberikan contoh bahwa mengurangi plastik sekali pakai itu bisa dan selalu ada alternatifnya,” tuturnya.

Nina bercerita bahwa saat duduk di bangku sekolah dasar, ia bersama teman-temannya menulis surat kepada Bupati Gresik untuk menyampaikan keluhan tentang pencemaran lingkungan. Menurutnya, meskipun respons yang hadir tidak langsung berupa penanganan, tetapi pemerintah daerah mengundang mereka ke kantor dan mereka bertemu dengan wakil bupati. 

Dari pengalaman itu, Nina belajar bahwa setiap orang tidak boleh menganggap remeh suara anak muda. “Dengan kata-kata, dengan pulpen kita, apalagi kalau kita tulis beramai-ramai, pemerintah bisa mendengar suara kita. Penanganan masalah lingkungan membutuhkan waktu lama karena pemerintah belum menjadikan isu ini prioritas,” jelasnya. 

Pada 2019, saat duduk di kelas satu SMP, Nina menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan berunjuk rasa di depan Konsulat Amerika Serikat di Surabaya. Aksinya menarik perhatian media nasional maupun internasional. Sorotan itu membuat kiprahnya sampai ke Plastic Soup Foundation di Belanda, yang kemudian mengundangnya melalui surel. 

Pada 2021, Nina menjadi pembicara dalam Plastic Health Summit di Amsterdam, Belanda. Kedua orang tuanya, yang juga mendapat undangan, menemaninya. Ia juga terlibat dalam rangkaian konferensi iklim PBB COP 26 di Glasgow, Skotlandia, serta forum internasional lain, termasuk di Kanada dan Indonesia. Di forum-forum itu, ia turut menyuarakan isu sampah impor. 

Ancaman Mikroplastik bagi Generasi Muda

Nina menyoroti bahaya mikroplastik yang kini ditemukan di tubuh manusia, mulai dari paru-paru, otak, hingga plasenta. Menurutnya, anak muda semakin sulit mengakses hak dasar seperti air minum bersih dan udara bersih akibat konsumsi plastik sekali pakai yang berlebihan. Ia juga menyinggung pembahasan perjanjian plastik (Plastic Treaty) di tingkat PBB sebagai bukti bahwa isu ini sudah menjadi persoalan global.

Kini Nina terus memperluas gerakan edukasi lingkungan dan mengajak generasi muda berani menyampaikan aspirasi. Baginya, menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab aktivis, tetapi tanggung jawab bersama. “Suara kita berdampak. Suara kita besar kalau kita terus mau, dan pasti akan dibukakan jalan,” tegasnya. 

Penulis: Putri Andini

Editor: Yulia Rohmawati

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top