UNAIR NEWS – Mengikuti pelatihan pengolahan hasil peternakan di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Selasa (29/9/2026), menjadi pengalaman baru bagi Devi, pelaku UMKM Navid Snack and Catering asal Kecamatan Deket, Lamongan. Tak hanya menambah keterampilan, pelatihan tersebut juga memberinya inspirasi untuk mengembangkan produk baru bagi usahanya.
Devi mengaku baru pertama kali mengikuti pelatihan yang FKH UNAIR selenggarakan. Sebelumnya, ia belum pernah mengkreasikan olahan daging/telur bebek maupun susu kambing menjadi produk pangan siap jual.
“Ini pertama kalinya saya ikut pelatihan membuat mie chlorella dari daging bebek dan yoghurt susu kambing. Ini menjadi pengalaman ke depan untuk membuat olahan yang lebih kreatif dan variatif. Mungkin bisa kami kembangkan menjadi keripik atau yang lain untuk dijual,” ujarnya saat ikut pelatihan di halaman kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan.
Menurut Devi, penggunaan bahan dalam pembuatan mie menjadi hal yang menarik. Selama ini, ia lebih familiar dengan mie yang menggunakan bahan seperti tepung dan telur, sedangkan pelatihan tersebut memperkenalkan bahan lain yang menurutnya unik sekaligus memiliki nilai tambah gizi. “Hasilnya tadi enak, mantap, dan ternyata bikin sendiri pun mie-nya kenyal seperti kalau kita beli,” katanya.
Pengetahuan yang Devi peroleh juga ia nilai relevan dengan usaha Devi yang bergerak di bidang makanan dan katering. Ia melihat hasil pelatihan dapat berkembang menjadi produk yang ia tawarkan kepada pelanggan.
“Kalau ada pesanan makanan atau catering, kami bisa bikin mie chlorella seperti yang tadi dibuat. Begitu juga kalau ada pesanan yoghurt, kami bisa buat sendiri,” tuturnya.
Libatkan UMKM Khas Lamongan
Ketua Pelaksana kegiatan, Prof Dr Widjiati drh MSi mengatakan pelatihan tersebut merupakan tahap awal rangkaian pencanangan desa binaan FKH UNAIR. Kegiatan tidak hanya menyasar masyarakat dan ibu-ibu PKK, tetapi juga pelaku UMKM agar hasil pelatihan dapat berkembang menjadi produk lokal.

“Kami berharap UMKM dapat mengembangkan ini sebagai produk lokal olahan khas Lamongan. Targetnya, pelatihan ini berdampak dan berkelanjutan sehingga kolaborasi ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, institusi, hingga pemerintah,” jelasnya.
Devi berharap pelatihan serupa dapat terus dilanjutkan dengan pendampingan bagi UMKM. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengalaman pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi peluang usaha. (*)
Penulis: Erika Eight Novanty
Editor: Ragil Kukuh Imanto








