Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Burnout pada Radiografer Rumah Sakit di Indonesia: Beban Kerja, Dukungan, dan Keseimbangan Usaha–Penghargaan

57 Views•6 minutes read

Radiografer merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Di balik pemeriksaan radiologi yang membantu dokter menegakkan diagnosis dan menentukan tindakan klinis, terdapat tenaga profesional yang dituntut untuk bekerja secara akurat, aman, dan responsif terhadap kebutuhan pasien. Perkembangan teknologi pencitraan yang semakin pesat juga menuntut radiografer untuk terus meningkatkan kompetensi teknis serta beradaptasi dengan berbagai perubahan dalam pelayanan kesehatan. Namun, pekerjaan radiografer tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi. Radiografer juga menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan, mulai dari beban kerja, kebutuhan pelayanan yang berlangsung sepanjang waktu, keterbatasan tenaga, kerja shift, hingga tuntutan untuk menjaga keselamatan pasien dan menerapkan prinsip proteksi radiasi. Kondisi tersebut membuat lingkungan kerja radiografer semakin kompleks.

Dalam situasi seperti ini, kesejahteraan tenaga kesehatan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Salah satu persoalan yang dapat muncul adalah burnout, yaitu kondisi yang berkaitan dengan kelelahan akibat pekerjaan dan menurunnya keterikatan seseorang terhadap pekerjaannya. Burnout tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat memengaruhi tim kerja dan kualitas pelayanan kesehatan. Ketika seorang tenaga kesehatan mengalami kelelahan yang berkepanjangan, kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi dan produktivitas dapat terganggu. Beban pekerjaan juga berpotensi berpindah kepada rekan kerja ketika kapasitas tenaga berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi organisasi pelayanan kesehatan, terutama ketika rumah sakit juga menghadapi keterbatasan sumber daya manusia.

Berbagai penelitian mengenai burnout pada tenaga kesehatan telah dilakukan di berbagai negara, tetapi informasi mengenai kondisi radiografer di Indonesia masih terbatas. Belum banyak penelitian yang melihat burnout secara bersamaan dengan sumber stres terkait pekerjaan dan keseimbangan antara usaha yang dikeluarkan pekerja dengan penghargaan yang diterimanya. Atas dasar tersebut, sebuah penelitian nasional dilakukan untuk menggambarkan burnout, sumber stres kerja, serta keseimbangan usaha–penghargaan pada radiografer rumah sakit di Indonesia. Penelitian ini melibatkan 511 radiografer rumah sakit dari beberapa provinsi di Indonesia. Para responden mengisi kuesioner yang mencakup karakteristik demografi dan pekerjaan, sumber risiko stres menggunakan HSE Stress Indicator Tool, keseimbangan usaha–penghargaan menggunakan Effort-Reward Imbalance Questionnaire, serta tingkat burnout menggunakan Oldenburg Burnout Inventory.

Hasil penelitian sebanyak 47,2% responden berada dalam kategori burnout, atau hampir satu dari setiap dua radiografer yang berpartisipasi dalam penelitian. Selain itu, 21,3% responden berada dalam kategori disengagement, yaitu kondisi yang menggambarkan semakin berkurangnya keterikatan terhadap pekerjaan. Sebanyak 9,0% berada dalam kategori exhaustion, sementara 22,5% termasuk dalam kategori tidak burnout. Angka tersebut menunjukkan bahwa burnout bukan persoalan yang dapat diabaikan dalam lingkungan kerja radiologi rumah sakit. Namun, temuan penelitian ini juga memberikan gambaran yang lebih luas. Burnout tidak berdiri sendiri sebagai persoalan individu, melainkan perlu dipahami dalam konteks bagaimana pekerjaan diorganisasikan dan bagaimana lingkungan kerja memberikan dukungan kepada tenaga kesehatan.

Salah satu temuan menarik adalah mengenai keseimbangan antara usaha dan penghargaan. Sebagian besar responden memiliki rasio usaha–penghargaan kurang dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum para radiografer menilai penghargaan yang mereka terima masih sebanding dengan usaha yang mereka keluarkan. Persoalan burnout pada radiografer Indonesia tidak semata-mata dapat dijelaskan oleh ketidakseimbangan antara pekerjaan dan penghargaan. Terdapat beberapa aspek lingkungan kerja yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar.

Penelitian menemukan bahwa kontrol terhadap pekerjaan, dukungan dari manajer dan rekan kerja, serta kejelasan peran merupakan beberapa domain yang masih memerlukan perbaikan. Ketiga aspek tersebut penting karena pengalaman bekerja tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi juga oleh sejauh mana pekerja memiliki ruang untuk mengendalikan pekerjaannya, memperoleh dukungan sosial, dan memahami dengan jelas tanggung jawab yang harus dijalankan. Seorang radiografer yang menghadapi tuntutan pekerjaan tinggi, tetapi memiliki keterbatasan dalam mengendalikan pekerjaannya akan menghadapi situasi yang semakin berat apabila dukungan dari atasan dan rekan kerja tidak optimal atau ketika tanggung jawab pekerjaan tidak didefinisikan secara jelas. Dalam kondisi demikian, tekanan pekerjaan dapat terakumulasi dan pada akhirnya berkontribusi terhadap kelelahan serta menurunnya keterikatan terhadap pekerjaan.

Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan antara pola kerja shift, status kepegawaian, serta ketersediaan layanan konseling psikologis di rumah sakit dengan burnout. Temuan mengenai pola shift menjadi penting karena pelayanan radiologi di rumah sakit sering kali harus tersedia selama 24 jam. Sistem kerja bergilir memang merupakan bagian dari kebutuhan pelayanan kesehatan, tetapi pengaturan shift perlu mempertimbangkan kesehatan dan kemampuan pekerja untuk mempertahankan keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan pemulihan. Status kepegawaian juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Lingkungan kerja yang sehat perlu memastikan bahwa seluruh radiografer memperoleh kondisi kerja yang adil, dukungan yang memadai, dan kesempatan yang setara untuk berkembang, terlepas dari status kepegawaiannya. Sementara itu, keberadaan layanan konseling psikologis menunjukkan pentingnya dukungan organisasi terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan. Konseling dapat menjadi salah satu sumber bantuan ketika pekerja menghadapi tekanan pekerjaan. Namun, konseling tidak seharusnya menjadi satu-satunya solusi. Jika sumber masalah berasal dari pola shift, beban kerja, rendahnya kontrol terhadap pekerjaan, kurangnya dukungan, atau ketidakjelasan peran, maka perubahan juga perlu dilakukan pada tingkat organisasi.

Pencegahan burnout membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Rumah sakit dapat melakukan evaluasi terhadap sistem kerja shift, memperkuat dukungan dari manajer dan rekan kerja, memperjelas peran dan tanggung jawab, serta memastikan kondisi kerja yang adil bagi seluruh radiografer. Pada saat yang sama, akses terhadap dukungan psikologis perlu tersedia dan mudah dijangkau ketika dibutuhkan.Pesan penting dari penelitian ini adalah bahwa burnout tidak seharusnya dipandang hanya sebagai masalah kemampuan individu dalam menghadapi tekanan.

Radiografer merupakan bagian strategis dari pelayanan rumah sakit. Mereka bekerja di balik proses pemeriksaan yang menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan klinis. Oleh karena itu, menjaga kesejahteraan radiografer bukan hanya bentuk perhatian terhadap tenaga kesehatan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya mempertahankan kualitas dan keberlanjutan pelayanan kepada pasien. Di tengah perkembangan teknologi radiologi yang semakin maju, perhatian terhadap manusia yang mengoperasikan teknologi tersebut tetap menjadi hal yang tidak kalah penting. Teknologi dapat menghasilkan gambar yang semakin canggih, tetapi pelayanan kesehatan yang berkualitas tetap membutuhkan tenaga kesehatan yang sehat, didukung, dan mampu bekerja secara berkelanjutan. Penelitian nasional ini menjadi pengingat bahwa membangun lingkungan kerja yang sehat bagi radiografer bukan sekadar upaya mengurangi burnout. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan investasi untuk menciptakan pelayanan radiologi yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan bagi pasien maupun tenaga kesehatan.

Penulis:  Rahmawati NA, Ma’rifah AWN, Putra AM, Lutfiya I, Rohmah S, Muhaimin, Syamsarifin A, Rashida AI, Ardanni MYP, Putri AA, Al Kiren SH.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Occupational burnout, sources of work-related stress, and Effort-Reward imbalance among hospital-based radiographers in Indonesia: A nationwide survey. Radiography (Lond). 2026 Sep;32(6):103526. doi: 10.1016/j.radi.2026.103526. Epub 2026 Aug 1. PMID: 42541970.

https://www.scopus.com/pages/publications/105046066346?origin=resultslist

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top