Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Pengaruh Biskuit Berbahan Lele, Protein, Kedelai, dan Kelor dengan Vitamin D serta OAT terhadap Serum Darah dan Profil Biokimia Tikus Terinfeksi TB

55 Views•2 minutes read

Lonjakan kasus tuberkulosis (TB) di Indonesia, yang mencapai lebih dari 385 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2024, menghadirkan tantangan kesehatan masyarakat yang nyata. Terapi utama berbasis obat (OAT/obat anti-TB) memiliki efek samping yang memengaruhi kepatuhan pasien yang selanjutnya mempengaruhi hasil pengoatan. Terapi nutrisi yang berasal dari protein hewani dan nabati yang diperkaya vitamin D telah ditawarkan sebagai terapi tambahan. Penelitian ini mengkaji efektivitas biskuit berbahan dasar ikan lele, isolat protein kedelai, dan tepung kelor yang diperkaya vitamin D dalam memperbaiki kondisi fisik dan imunologis.

Dengan menggunakan rancangan acak lengkap, proses penelitian mencakup pengembangan produk dan uji pra-klinis pada 35 ekor tikus putih jantan dewasa (Rattus norvegicus) berusia 8 minggu dengan berat 130-140 gram yang dibagi secara acak ke dalam lima kelompok: kontrol negatif (K0), kelompok yang diinjeksi Mycobacterium tuberculosis (Mtb) (K1), Mtb + OAT (obat anti-tuberkulosis), Mtb + OAT + biskuit vitamin D 1.000 IU (D1), dan Mtb + OAT + biskuit vitamin D 2.000 IU (D2), dengan masa pengamatan total selama 46 hari. Injeksi Mycobacterium tuberculosis (Mtb) galur H37Rv diberikan sebanyak 10⁶ koloni/ml dalam volume 100 μL. Pemeriksaan darah lengkap dilakukan menggunakan metode HEMAVET, kadar albumin dan protein total ditentukan melalui spektrofotometri, dan C-reactive protein (CRP) dianalisis menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).

Meskipun pemberian produk tidak menunjukkan dampak signifikan terhadap eritrosit (p>0,05), produk tersebut tetap mampu memperbaiki Indeks Massa Tubuh (IMT) hingga batas normal, meningkatkan nilai albumin dan protein total serum, menjaga kadar leukosit, hemoglobin, dan hematokrit dalam batas standar, menurunkan kadar CRP, serta menghasilkan jumlah basil yang minimal (<10 basil dalam 100 lapang pandang). Studi komprehensif lebih lanjut disarankan untuk mengkaji dampak produk ini pada subjek manusia.

Penulis : Fariani Syahrul1, Annis Catur Adi, Wizara Salisa, Noni Angelina Tazky Aulia,  Livia Bellatrix Roberts, Muhammad Atoillah Isfandiari

Informasi detail artikel: https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/88542

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top