Universitas Airlangga Official Website

Dari Rumput Laut ke Beton Ringan, Solusi Ramah Lingkungan untuk Industri Konstruksi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan paparan sinar matahari sepanjang tahun, terus berupaya meningkatkan produksi hasil perikanan, termasuk komoditas rumput laut. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, produksi rumput laut nasional dalam satu dekade terakhir tumbuh rata-rata 11,8%.

Pada tahun 2017, produksi rumput laut Indonesia bahkan mencapai 10,8 juta ton atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun 2010. Tingginya produksi ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan pasar terhadap industri rumput laut dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga mencatat Indonesia sebagai salah satu negara eksportir utama produk perikanan berbasis rumput laut setelah Tiongkok dan Korea Selatan, dengan pasar impor terbesar berasal dari Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat.

Salah satu produk turunan rumput laut yang memiliki permintaan pasar tinggi adalah karagenan yang diekstrak dari rumput laut Kappaphycus alvarezii. Namun, proses produksinya menghasilkan limbah padat cukup besar, yakni sekitar 65–70%. Limbah padat karagenan ini diketahui memiliki kandungan selulosa tinggi dengan karakteristik ikatan yang kuat dan ringan, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengganti pasir dalam pembuatan Cellular Lightweight Concrete (CLC) atau bata ringan. Selain itu, fly ash atau abu hasil pembakaran batu bara juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi semen karena mengandung silika dan alumina yang tinggi.

Studi  ini bertujuan mengembangkan dan mengarakterisasi beton ringan CLC menggunakan kombinasi limbah padat karagenan dan fly ash. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua bahan tersebut memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat fisik dan mekanik beton, terutama pada kuat tekan, kuat tarik belah, dan daya serap air. Namun, kombinasi tersebut tidak memberikan perbedaan signifikan terhadap berat jenis beton ringan CLC.

Dari berbagai perlakuan yang diuji, kombinasi terbaik diperoleh pada penggunaan limbah padat karagenan sebesar 100% sebagai pengganti pasir dan fly ash sebesar 20% sebagai substitusi semen. Formulasi ini menghasilkan berat jenis sebesar 0,783 kg/cm³, kuat tekan 1,231 MPa, kuat tarik belah 0,171 MPa, serta tingkat penyerapan air sebesar 47,67%.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa limbah rumput laut dan fly ash memiliki potensi besar sebagai bahan ramah lingkungan dalam pembuatan beton ringan. Ke depan, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menemukan formulasi dan bahan tambahan yang mampu menurunkan tingkat penyerapan air pada CLC. Selain itu, pengembangan beton ringan menggunakan metode Autoclaved Aerated Concrete (AAC) juga dinilai penting untuk diteliti lebih lanjut.

Penulis: Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si., Ph.D.

Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga

Sumber lengkap: https://doi.org/10.12911/22998993/215106