UNAIR NEWS – Guna mengawal keberlanjutan riset kolaboratif berskala internasional, Early Research Dissemination Forum INUcoST (Indonesian-Netherlands Partnership for Sustainable Futures) memasuki hari kedua pelaksanaan pada Selasa (30/6/2026). Bertempat di Ruang Majapahit, Lantai 5, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa B Universitas Airlangga (UNAIR)
Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.30 WIB ini berfokus pada sesi presentasi proposal untuk rencana tahun kedua. Masing-masing tim peneliti memiliki waktu sekitar 8 menit untuk memaparkan rencana riset, arah masa depan, serta usulan aktivitas mereka.
Transparansi Administrasi dan Fleksibilitas Anggaran
Sebelum para peneliti memaparkan proyeknya, perwakilan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Erlin Puspaputri, memberikan pembekalan. Ia memberi pembekalan mendalam mengenai syarat, ketentuan, serta progres pendanaan tahun kedua. Dalam paparannya, Erlin mengingatkan pentingnya ketepatan waktu dalam mengunggah laporan akhir (final report). Ia mengungkapkan bahwa setiap Principal Investigator (PI) memiliki tenggat waktu yang berbeda-beda.
“Setiap PI memiliki tenggat waktu yang berbeda. Anda harus mengingatnya karena setelah PI menyelesaikan laporan akhir mereka, kami akan melakukan plotting untuk evaluasi pendanaan tahun kedua,” ujar Erlin.

Terkait dinamika di lapangan, Erlin menegaskan bahwa pemerintah memberikan kelonggaran bagi para peneliti. Kelonggaran tersebut untuk menyesuaikan perencanaan keuangan maupun aktivitas riset mereka berdasarkan hasil evaluasi tahun pertama.
Meski demikian, ia mengingatkan agar para peneliti berhati-hati terhadap tiga komponen utama anggaran RISPRO (Direct Costs, Direct Personal Costs, dan Non-Direct Costs) yang telah Pusdatin Kemenkeu kunci secara langsung, sehingga pergeseran dana antar-komponen tidak dapat berlangsung secara sembarangan. Total dokumen yang wajib peneliti unggah dalam laporan akhir mencakup tujuh dokumen utama, termasuk hasil evaluasi internal dari LPPM masing-masing universitas mitra.
Riset Mangrove UNAIR untuk Keberlanjutan
Sesi kemudian berlanjut dengan pemaparan rencana riset dari perwakilan tuan rumah UNAIR, Dr Eko Prasetyo Kuncoro ST DEA. Ia mempresentasikan proyek riset multidisiplin bertajuk “Biodiversity of Mangrove for Human Prosperity” yang mengambil lokasi penelitian di kawasan Balikpapan.Â
“Saya kira tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi produk hutan mangrove dari ekosistem hutan mangrove untuk pemanfaatan yang berkelanjutan. Selain itu mengembangkan strategi pengelolaan yang mendukung pemanfaatan hutan mangrove tanpa mengorbankan keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem,” papar Eko saat menjelaskan arah risetnya.

Lebih lanjut, Eko menjabarkan rencana taktis yang akan ia eksekusi pada tahun kedua ini. Aktivitas riset tersebut akan berfokus pada pengelolaan mangrove untuk konservasi. Upaya tersebut meliputi survei hayati, penilaian ekologis, analisis GIS atau pengindraan jauh, serta pendekatan partisipatif dengan pemangku kepentingan lokal.Â
Terkait target yang ingin ia capai dari rangkaian program tersebut, Eko menguraikan hasil akhir yang mereka rancang hingga akhir periode penelitian. “Dan hasil yang diharapkan adalah artikel, referensi, dan tahun ketiga secara daring, serta pertukaran staf atau mahasiswa. Ini adalah aktivitas yang mendetail,” ujar Dr. Eko di akhir pemaparannya.
Melalui forum diskusi inovasi ini, kemitraan INUcoST yang melibatkan UNAIR dengan jaringan Leiden University dan Erasmus University Rotterdam Belanda nantinya akan menghasilkan luaran artikel ilmiah bereputasi. Selain itu, juga melahirkan rekomendasi kebijakan nyata serta program pertukaran staf/mahasiswa yang berdampak luas bagi masa depan yang berkelanjutan.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Ragil Kukuh Imanto





