Universitas Airlangga Official Website

Dermatitis Kontak pada Pengrajin Batik

Foto by Kompasiana com

Dengan berkembangnya industri batik secara pesat di Indonesia, penggunaan pewarna sintetis lebih disukai karena lebih praktis dan lebih cepat. Namun, penggunaan pewarna sintetis ini meningkatkan risiko paparan zat berbahaya seperti logam berat dan zat lainnya. Zat-zat tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit dan mukosa pernafasan dan menyebabkan gangguan kesehatan pada pengrajin batik. Sebagai pekerja di industri batik, pengetahuan tentang risiko kesehatan kerja sangat diperlukan. Sayangnya, tidak semua pemilik dan pekerja di industri batik menyadari hal ini. Masih banyak pekerja yang bekerja dengan tangan kosong dan membiarkan zat-zat berbahaya bersentuhan langsung dengan kulit, terutama mereka yang bekerja di bidang pencelupan kain. Pekerja yang menggunakan canting dan lilin malam untuk membuat pola pada kain juga berisiko terhadap paparan bahan yang mereka gunakan. Paparan yang terus menerus ini dapat mengganggu fungsi fisiologis kulit dan membuat kulit lebih rentan terhadap penyakit, salah satunya dermatitis kontak.

Dermatitis kontak adalah penyakit inflamasi pada kulit yang terjadi akibat kontak langsung dengan zat iritatif atau alergi. Dermatitis kontak iritan disebabkan oleh kerusakan fisik pada lapisan terluar kulit setelah terpapar zat kimia iritatif. Reaksi dari bahan iritatif tersebut relatif muncul lebih cepat daripada reaksi alergi pada dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak alergi disebabkan oleh paparan bahan alergen yang menyebabkan reaksi dari sistem kekebalan tubuh dan menimbulkan alergi. Dermatitis kontak akibat kerja adalah penyakit kulit akibat kerja yang paling umum ditemukan. Prevalensi tinggi dermatitis kontak akibat kerja ditemukan pada beberapa pekerjaan seperti ahli tata rias, klinik kecantikan, tenaga kesehatan, tenaga pengolah makanan, dan tenaga kerja industri logam.

Dalam produksi kain batik, diperlukan penggunaan beberapa zat yang dapat menyebabkan iritasi atau alergen, yang mengakibatkan dermatitis kontak dan risiko kesehatan lainnya. Langkah-langkah utama produksi kain batik adalah mempersiapkan kain atau bahan, menggambar pola, menutup bagian kain dengan lilin cair, mewarnai atau mengisi dengan warna, menghilangkan lilin, membilas dan memfiksasi kain. Beberapa langkah harus diulang beberapa kali tergantung pada warna dan pola yang diinginkan. Paparan zat iritatif atau alergen di bagian kerja kering dan basah sebagian besar berbeda. Pada bagian kerja kering, beberapa contoh zat iritatif adalah lilin malam yang panas dan asap lilin, sedangkan bahan yang digunakan untuk canting seperti nikel, tembaga, atau logam lain dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi. Iritasi pada bagian kerja basah adalah paparan air yang berlebihan, air panas, deterjen, natrium hidroksida, pewarna alami dan sintetis, asam klorida, sulfat, natrium nitrit, serta garam diazonium.

Faktor lain yang mempengaruhi dermatitis kontak adalah durasi paparan, siklus basah/kering, musim dingin dengan kelembaban rendah, gesekan/peregangan kulit, dan faktor individu seperti riwayat dermatitis atopi dan genetik. Durasi paparan yang lebih lama terhadap zat berbahaya menyebabkan risiko yang lebih tinggi terkena permasalahan kulit. Paparan pekerjaan basah selama 2 jam atau lebih memiliki hubungan yang signifikan dengan penyakit dermatitis kontak. Dalam sebuah penelitian diketahui sebagian besar pengrajin batik bekerja lebih dari 6 jam/hari dan 3 sampai 6 jam/hari. Hal ini dapat meningkatkan risiko terkena dermatitis kontak jika tidak dicegah dengan baik.

Produsen batik tradisional sebagian besar adalah industri rumah tangga yang mempekerjakan pekerja dengan latar belakang pendidikan menengah ke bawah dari lingkungan mereka. Dukungan social, status sosial ekonomi, dan pendidikan diduga mempengaruhi status kesehatan. Pendidikan memungkinkan seseorang untuk menghasilkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap kesehatan dan memperoleh lebih banyak pengetahuan tentang kesehatan, sehingga mengubah perilaku kesehatan mereka dan memperbaiki status kesehatan mereka secara umum. Oleh karena itu, pengetahuan tentang dermatitis kontak akibat kerja terkait lingkungan kerja industri batik dapat bermanfaat untuk mencegah timbulnya penyakit dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan kerja yang aman dan sehat di kalangan pengrajin batik. Deteksi dini dan pengobatan dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja batik dianjurkan untuk dapat mencegah perburukan gejala dan memperbaiki kualitas hidup para pengrajin batik.

Penulis : Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://sciencescholar.us/journal/index.php/ijhs/article/view/12764

Implementation of education to batik workers about contact dermatitis in Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, Indonesia

Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Damayanti, Sylvia Anggraeni, Menul Ayu Umborowati, Sri Awalia Febriana, Katharina Oginawati, Ikeu Tanziha