Human papilloma virus (HPV) adalah penyebab penyakit menular seksual (PMS) yang paling sering terjadi. HPV merupakan suatu virus DNA dengan rantai ganda, dan tidak berkapsul yang dapat menimbulkan lesi hiperplastik, papilomatosa, dan verukosa pada sel skuamous kulit dan mukosa. HPV memiliki lebih dari 100 genotipe yang berbeda. Salah satu jenis PMS yang paling banyak disebabkan oleh HPV adalah kutil kelamin yang dikenal sebagai kondiloma akuminata. Kontak seksual adalah metode utama penularan infeksi HPV genital. HPV tipe 6 dan 11 diklasifikasikan sebagai tipe risiko rendah serta berhubungan dengan perkembangan jaringan yang tidak normal serta kutil anogenital. Infeksi pada alat kelamin seperti kutil kelamin (kondiloma akuminata) dapat merupakan salah satu penyebab utama terjadinya morbiditas dan mortalitas pada pasien yang juga menderita penyakit autoimun seperti sistemic lupus erythematous (SLE) dan juga rentan pada pasien dengan bacterial vaginosis (BV). SLE adalah penyakit autoimun sistemik yang ditandai dengan spektrum gejala klinis yang luas yang dihasilkan oleh autoantibodi tingkat tinggi yang mempengaruhi berbagai organ internal. Bacterial vaginosis adalah penyebab paling umum keputihan abnormal pada wanita usia reproduksi yang ditandai dengan penghancuran mikroflora vagina normal (penghasil hidrogen peroksida) yang didominasi oleh lactobacillus serta selanjutnya akan terjadi proliferasi bakteri anaerob dalam jumlah cukup besar.
Salah satu faktor penyebab tersering pada kodiloma akuminata adalah berganti-ganti pasangan seksual. Salah satu faktor risiko penularan yang tinggi yaitu dikarenakan pasien kondiloma akuminata menolak untuk mengobati keluhan tersebut dan memiliki pasangan lebih dari satu. Risiko tertular HPV juga dapat meningkat pada pasien SLE dengan pengobatan steroid, meskipun korelasi terkait hal ini masih belum jelas. Risiko infeksi HPV pada pasien SLE meningkat saat pasien mendapatkan terapi imunosupresan dan steroid, termasuk risiko tinggi terjadinya giant condyloma acuminata (GCA).
Sebuah laporan kasus, seorang wanita 49 tahun dengan keluhan kutil kelamin sejak 1 tahun yang lalu, dan belum mendapatkan pengobatan. Faktor risiko pada kasus ini adalah suami yang mengalami keluhan yang sama terlebih dahulu serta mempunyai lebih dari 1 pasangan seksual. Kutil kelamin pada kasus ini mengalami peningkatan jumlah dan ukuran setelah mendapatkan terapi steroid oral selama 1 bulan sebagai tatalaksana SLE yang dideritanya. Pasien juga mengalami keputihan bakterial vaginosis dengan adanya clue cell pada pemeriksaan mikroskopis. Pada kasus ini, didapatkan hasil yang cukup baik dengan bedah kimiawi trichloroacetic acid 90% dan pemberian metronidazole 2x 500 mg selama 7 hari.
Laporan kasus ini mejelaskan bahwa pasien SLE, obat imunosupresif dan steroid dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi HPV dan memicu bakterial vaginosis. Kutil kelamin eksternal dapat menyebabkan keputihan atipikal, yang paling sering disebabkan oleh infeksi vagina bersamaan seperti bakteriofagesis.
Penulis : Dr. Damayanti, dr.,Sp.KK(K)
Informasi detail dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
https://doi.org/10.53730/ijhs.v6nS9.12180
Condyloma acuminata overlapping bacterial vaginosis under steroid therapy for SLE: A case report Frizka Eliza, Damayanti, Kartika Misalina, Septiana Widyantari, Afif Nurul Hidayati, Dwi Murtiastutik





