Universitas Airlangga Official Website

Diagnosis Guillain Barré Syndrome pada Anak

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Sindrom Guillain-Barré (Guillain-Barré syndrome/GBS) merupakan penyakit langka yang terjadi ketika sistem imun menyerang sistem saraf perifer termasuk saraf motorik, sensorik, otonom, maupun saraf kranial. Gejala awal yang umumnya muncul berupa kesemutan pada kaki atau tangan, yang terkadang disertai nyeri yang bermula dari tungkai atau punggung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah kelemahan tubuh yang ditandai dengan kesulitan berjalan. Pada sebagian besar kasus, kelemahan dimulai dari tungkai kemudian menyebar ke arah atas (ascending), meskipun pada beberapa kasus dapat bermula dari mata. Pada fase lanjut, kelemahan dapat mengenai otot-otot pernapasan sehingga berpotensi menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa.

Diagnosis GBS pada anak sering kali mengalami keterlambatan, terutama pada anak berusia kurang dari enam tahun, karena gejalanya menyerupai infeksi virus atau penyakit neuromuskular lainnya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis hingga lebih dari dua minggu. Pemantauan yang tidak memadai selama periode tersebut dapat mengakibatkan gagal napas bahkan kematian

Penegakan diagnosis GBS pada anak diawali dengan anamnesis gejala yang dialami serta riwayat kesehatan pasien kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan neurologis yang dilakukan secara menyeluruh. Selain itu, penegakan diagnosis GBS pada anak juga didukung oleh pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan darah dan urin, pungsi lumbal, elektromiografi/EMG, nerve conduction study/NCS, dan pemeriksaan fungsi paru/PFT.

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Pemeriksaan darah dan urin dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain yang memiliki gejala serupa. Sedangkan pemeriksaan pungsi lumbal dilakukan untuk mengambil sampel cairan serebrospinal (CSF) untuk mengetahui adanya infeksi atau kelainan lainnya lain yang mendasari gejala pasien. Pemeriksaan pungsi lumbal umumnya menunjukkan peningkatan kadar protein tanpa disertai peningkatan jumlah sel. Selain itu, dilakukan pemeriksaan dengan elektromiografi/EMG dan nerve conduction study untuk mendeteksi adanya kelainan aktivitas listrik sarat dan otot akibat gangguan neuromuskular. Pemeriksaan penunjang lainnya yakni pemeriksaan fungsi paru juga dilakukan untuk menilai kapasitas paru dan kekuatan otot pernapasan.

Penyebab pasti dari GBS sampai saat ini belum diketahui. Namun, GBS merupakan suatu penyakit yang dimediasi oleh sistem imun. Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan et al, menunjukkan bahwa penggunaan ventilasi mekanik berhubungan secara bermakna dengan prognosis yang buruk pada anak sehingga diidentifikasi sebagai faktor risiko yang berhubungan dengan prognosis yang buruk pada anak dengan GBS.

Penulis: Prastiya Indra Gunawan

Informasi detail bisa dilihat pada tulisan kami di:

https://www.mattioli1885journals.com/index.php/actabiomedica/article/view/17955

Prastiya Indra Gunawan, Riza Noviandi, Sunny Mariana Samosir. Risk Factors for Poor Outcomes in Indonesian Children with Guillain-Barré Syndrome. Acta Biomedica 2026;97(2):17955.