Petugas pengangkut sampah mengumpulkan sampah rumah tangga setiap hari dan membawanya ke tempat pembuangan akhir. Mereka menghadapi risiko lebih tinggi tertular parasit usus akibat kontak langsung maupun tidak langsung dengan sampah yang mungkin terkontaminasi parasit usus. Penggunaan alat pelindung diri (APD) sangat penting untuk menjamin keselamatan dan kesehatan kerja. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan aspek kesehatan yang penting dan selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan sejahtera bagi semua individu.
Infeksi parasit usus tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang terus berlanjut di banyak negara berkembang, khususnya di kalangan populasi dengan sanitasi yang buruk dan akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan. Selain infeksi cacing, beberapa protozoa usus juga berperan dalam kesehatan masyarakat dan kebersihan di wilayah tropis. Salah satu protozoa yang dapat ditemukan bahkan pada individu sehat adalah Blastocystis. Organisme ini sering terdeteksi pada manusia dan berbagai jenis hewan, dengan prevalensi global berkisar antara 10-60%, bergantung pada tingkat sanitasi dan kondisi tempat tinggal. Keberadaannya pada individu yang menunjukkan gejala maupun yang tidak (asimtomatik) menjadikannya indikator yang berguna untuk menilai kesehatan usus dan status kesehatan masyarakat di komunitas yang berisiko. Petugas pengumpul sampah merupakan kelompok berisiko tinggi karena sering terpapar limbah organik dan lingkungan yang terkontaminasi.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini telah dilaksanakan di Kelurahan Sememi, yang terletak di Kecamatan Benowo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Sebagian warga kelurahan ini yang tidak memiliki pekerjaan tetap bekerja sebagai pengumpul sampah. Survei pendahuluan yang dilakukan terhadap 18 petugas pengumpul sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sememi mengungkap tiga masalah utama: (1) Sebagian besar (70%) pekerja tidak menggunakan APD lengkap, (2) pengetahuan mengenai penyakit parasit usus dan pencegahannya masih terbatas (60%), serta (3) partisipasi dalam pemeriksaan kesehatan rutin tergolong rendah (50%). Temuan ini mengindikasikan kurangnya kesadaran akan keselamatan kerja serta perlunya intervensi yang tepat sasaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan edukasi dan sosialisasi mengenai pencegahan infeksi parasit usus kepada para petugas pengumpul sampah di kelurahan tersebut.
Solusi yang diusulkan untuk mengatasi masalah tersebut dilaksanakan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama berupa intervensi edukatif melalui ceramah dan demonstrasi mengenai penggunaan APD yang tepat. Tahap kedua berfokus pada promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang berkaitan dengan higiene, sanitasi, dan pencegahan infeksi. Tahap ketiga mencakup pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan tinja untuk mengidentifikasi parasit usus serta meningkatkan kesadaran peserta tentang status infeksi mereka.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti oleh 21 petugas pengumpul sampah. Edukasi masyarakat dilakukan melalui penyuluhan yang disertai pre-test dan post-test, kemudian dilanjutkan dengan wawancara untuk menilai perilaku penggunaan APD, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta riwayat infeksi parasit usus. Pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan feses dilakukan untuk mendeteksi adanya parasit usus pada petugas pengumpul sampah.
Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, dengan persentase jawaban benar meningkat dari 46,75% menjadi 80%. Pemeriksaan mikroskopis 21 sampel feses, 12 sampel (57,14%) dinyatakan positif mengandung parasit Blastocystis. Intervensi edukasi terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku higienis di kalangan petugas pengumpul sampah, sehingga mendukung upaya pencegahan infeksi dan perlindungan kesehatan kerja.
Penulis: Heny Arwati
Artikel ini dapat dibaca selengkapnya di:
Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
10(02), May, 2026: 328–339
https://engagement.fkdp.or.id/index.php/engagement/article/view/2234/348
