Universitas Airlangga Official Website

Efek Molekuler Senyawa Yang Berasal Dari Buah Pinang Terhadap Sel Kanker Mulut Manusia: Tinjauan Sistematis

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kanker mulut tetap menjadi beban kesehatan global yang utama, dengan karsinoma sel skuamosa mulut (OSCC) mencakup sebagian besar kasus. Di antara faktor risiko yang telah diketahui, mengunyah buah pinang merupakan salah satu kebiasaan yang paling umum, khususnya di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan buah pinang sebagai karsinogen Grup I, dan studi epidemiologi secara konsisten mengaitkan penggunaannya dengan peningkatan insiden gangguan mulut yang berpotensi menjadi ganas (OPMD) serta OSCC. Berdasarkan pengamatan epidemiologis tersebut, studi mekanistik awal telah menunjukkan bahwa komponen buah pinang memicu kerusakan DNA, pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS), dan respons peradangan pada sel epitel mulut, sehingga memberikan bukti dasar mengenai potensi karsinogeniknya. Meskipun terdapat kaitan yang kuat ini, mekanisme molekuler yang mendasari bagaimana komponen buah pinang mendorong transformasi keganasan masih belum sepenuhnya dipahami secara utuh dan sering kali hanya dijelaskan dalam konteks eksperimental yang terpisah-pisah.

Penggunaan buah pinang telah mengakar kuat dalam praktik budaya, sosial, dan ritual di berbagai wilayah Asia Selatan, Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, dan sebagian Afrika Timur. Lebih dari 600 juta orang di seluruh dunia secara rutin mengunyah buah pinang, menjadikannya zat psikoaktif keempat yang paling banyak dikonsumsi setelah kafein, alkohol, dan nikotin. Prevalensinya sangat tinggi di India, Bangladesh, Sri Lanka, Taiwan, Papua Nugini, dan negara-negara Kepulauan Pasifik; di wilayah-wilayah tersebut, kebiasaan mengunyah sering kali dimulai pada masa remaja dan berlanjut hingga dewasa. Ketersediaan luas produk komersial seperti betel quid, gutka, dan paan masala telah semakin meningkatkan konsumsi di kalangan remaja dan penduduk perkotaan. Mengingat besarnya skala paparan ini, upaya untuk memperjelas mekanisme biologis yang mendasari efek karsinogeniknya memiliki arti penting secara global.

Pinang mengandung beberapa komponen aktif secara biologis, termasuk alkaloid seperti arekolin, arekaidin, dan guvakolin, serta tanin, polifenol, dan prekursor nitrosamin. Senyawa-senyawa ini terbukti memiliki efek sitotoksik, genotoksik, pro-inflamasi, dan imunomodulator. Namun, sejauh mana senyawa-senyawa tersebut secara kolektif mendorong jalur sinyal karsinogenik pada sel kanker mulut manusia belum disintesis secara komprehensif. Secara khusus, interaksi antara peradangan, stres oksidatif, aktivasi onkogen, disfungsi mitokondria, dan hilangnya regulasi penekan tumor masih belum terintegrasi dengan baik di berbagai penelitian.

Model in vitro menyediakan platform eksperimental terkendali untuk membedah peristiwa-peristiwa molekuler ini. Lini sel kanker mulut manusia dan kultur yang berasal dari tumor primer memungkinkan evaluasi yang rinci dan presisi mengenai bagaimana senyawa yang berasal dari pinang memengaruhi sinyal seluler, ekspresi gen, kerusakan akibat stres oksidatif, dan perilaku proliferatif. Sistem semacam itu memungkinkan penilaian mendalam terhadap produksi sitokin, pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS), respons kerusakan DNA, regulasi mitokondria, dan perubahan transkripsional—wawasan mekanistik yang tidak dapat diperoleh sepenuhnya melalui studi epidemiologis atau in vivo.

Tinjauan sistematis ini menunjukkan bahwa ekstrak pinang dan komponen alkaloidnya menimbulkan berbagai efek molekuler yang bersifat karsinogenik pada sel kanker mulut manusia. Berdasarkan studi in vitro yang disertakan, paparan terhadap senyawa yang berasal dari pinang dikaitkan dengan aktivasi jalur pro-inflamasi, perubahan sinyal proliferasi, stres oksidatif, disfungsi mitokondria, dan peningkatan aktivitas jalur onkogenik. Namun, kemampuan generalisasi temuan ini terhadap berbagai model kanker mulut terbatas karena dominasi penggunaan sel OECM-1 yang tidak proporsional. Pada saat yang sama, protein kunci penekan tumor dan pengatur siklus sel—termasuk p53, p27, dan SIRT1—mengalami penekanan, sementara faktor transkripsi AP-1 mengalami penurunan aktivitas. Temuan mengenai ekspresi p21 menunjukkan hasil yang saling bertentangan antarstudi, sehingga tidak dapat ditarik kesimpulan pasti mengenai arah regulasinya. Secara keseluruhan, berbagai perubahan molekuler yang saling berkaitan ini membentuk pola mekanistik yang konsisten, yang mendukung bukti epidemiologis kuat yang menghubungkan penggunaan pinang dengan karsinogenesis mulut.

Meskipun studi in vitro tidak dapat sepenuhnya mereplikasi kompleksitas biologis dari paparan in vivo, konsistensi dan arah perubahan molekuler yang diamati pada berbagai sistem eksperimental independen menegaskan adanya risiko biologis signifikan yang terkait dengan kebiasaan mengunyah pinang. Temuan ini menyoroti perlunya upaya kesehatan masyarakat yang berkelanjutan untuk mengurangi konsumsi pinang, khususnya di wilayah dengan tingkat penggunaan yang tinggi. Selain itu, penelitian di masa mendatang sebaiknya memprioritaskan penggunaan protokol paparan yang terstandarisasi, model eksperimental yang relevan secara fisiologis, serta pendekatan multiomik terintegrasi untuk lebih memahami mekanisme yang mendasari karsinogenesis akibat pinang. Secara keseluruhan, tinjauan ini menyajikan sintesis komprehensif mengenai jalur-jalur molekuler yang terganggu oleh kandungan pinang serta mempertegas peran penting komponen tersebut dalam mendorong perkembangan dan progresi kanker mulut.  

Penulis : Nurina Febriyanti Ayuningtyas, drg., MKes., PhD., Sp.PM(K)

Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2212426826001144?via%3Dihub