Universitas Airlangga Official Website

Ekstrak Kulit Batang Faloak dari Nusa Tenggara Timur sebagai Antivirus

Foto by Kompasiana

Di Indonesia, kulit batang Faloak atau bahasa latinnya Sterculia quadrifida banyak digunakan oleh masyarakat setempat sebagai pengobatan infeksi virus hepatitis C (HCV). Tumbuhan ini merupakan salah satu spesies yang banyak digunakan oleh masyarakat di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sebagai obat tradisional. Tanaman Faloak merupakan tanaman yang pertama kali diidentifikasi di Queensland Utara dan digunakan oleh masyarakat Aborigin untuk mengobati berbagai penyakit seperti pengobatan luka, untuk mengobati sakit mata, dan gigitan serangga. Di dunia pohon ini dikenal sebagai pohon kurrajong yang berbuah jeruk dan diberi nama lokal di Indonesia Faloak.

Efek antivirus dari ekstrak kulit batang Faloak sudah dikenal oleh masyarakat daerah secara turun temurun. Hal ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa ekstrak kulit batang Faloak memiliki aktivitas hepatoprotektif (melindungi hati) karena mampu menghambat semua tahapan dalam siklus hidup HCV. HCV merupakan salah satu virus yang memiliki kemiripan dengan virus dengue penyebab penyakit DBD (Demam Berdaerah Dengue) karena kedua virus tersebut berasal dari famili Flaviviridae.

Potensi ekstrak kulit batang Faloak sebagai agen antivirus DBD ditengarai melalui penghambatan dua protein virus dengue yaitu protein envelope dan NS5 RdRp. Ikatan senyawa spesifik dari kandungan kulit batang Faloak dengan kedua protein tersebut ditengarai dapat menghambat aktivitas dan replikasi virus dengue. Dengan demikian maka ekstrak kulit batang Faloak berpotensi untuk dikembangkan sebagai antiviral dengue (DBD).

DBD merupakan salah satu penyakit menular yang paling banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis, terutama di daerah perkotaan dan semi perkotaan. DBD banyak ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus dengan DENV-2 merupakan serotipe yang paling banyak dan dominan penyebab DBD berat. Demam berdarah telah menjadi masalah global karena diperkirakan 100-400 juta orang terinfeksi setiap tahun. Menurut WHO, jumlah pasien DBD yang dilaporkan telah meningkat delapan kali lipat selama dua dekade terakhir, dari 505.430 kasus pada tahun 2000 menjadi lebih dari 2,4 juta pada tahun 2010, dan 4,2 juta pada tahun 2019 dengan 70% kasus ditemukan di Asia. Virus dengue (DENV) adalah virus RNA positif beruntai tunggal yang memiliki virion bulat dengan ukuran 50 nm yang terdiri dari tiga protein struktural, yaitu kapsid (C), pre-membran/membran (prM/M), dan amplop ( E), dan tujuh protein nonstructural (NS), yang terlibat langsung dalam perakitan dan replikasi DENV.


Protein E dan NS5 dapat digunakan sebagai target infeksi dengue. Protein E adalah glikoprotein yang memiliki panjang sekitar 400 asam amino, dan terlibat dalam perakitan, perlekatan, dan masuknya virus ke dalam sel inang melalui jalur yang dimediasi oleh endosom. Protein NS5 merupakan protein terbesar yang dihasilkan oleh virus dengue, dengan ukuran 103 kDa. Protein ini, melalui C terminal domain RNA-dependent RNA polymerase (RdRP), berperan dalam transkripsi dan replikasi virus dengue. Oleh karena itu, kedua protein ini merupakan target obat yang menarik untuk pengembangan terapi anti dengue. Sampai saat ini penatalaksanaan DBD belum memiliki terapi khusus. Terapi yang digunakan hanya bersifat suportif dan simtomatis untuk mengatasi gejala klinis yang dialami pasien DBD. Oleh karena itu, eksplorasi terapi untuk demam berdarah sangat diperlukan dan salah satu sumber pengobatan yang dapat digunakan sebagai terapi anti DBD adalah dengan menggunakan ekstrak kulit batang Faloak sebagai obat dari bahan alam.

Penulis: Audrey Riwu, Djoko Agus Purwanto

Jurnal: https://repository.unair.ac.id/125747/