Parahyangan Legal Competition atau PLC merupakan suatu rangkaian kompetisi yang digagas oleh Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. Adapun rangkaian kompetisi yang diselenggarakan adalah lomba karya tulis ilmiah dan lomba debat hukum tingkat Perguruan Tinggi berskala nasional untuk mewadahi para akademisi muda dalam menyuarakan pendapat dan menuangkan pemikirannya terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat. Fakultas Hukum Universitas Airlangga sendiri secara rutin mengirimkan delegasi melalui Badan Semi Otonom Masyarakat Yuris Muda Airlangga (MYMA FH UNAIR). Tahun ini, delegasi yang beranggotakan Elsa Ardhilia Putri (2019), Ika Putri Rahayu (2019), Apriska Widiangela (2019), dan Angeline Irene Santoso (2020-official) berhasil membawa pulang prestasi Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah pada ajang tersebut.
Dalam sebuah kesempatan, mereka menjelaskan bahwa karya tulis ilmiah yang dibawakan mengangkat judul “Rekonstruksi Hukum Terkait Pembayaran Upah Cuti Melahirkan Yang Berkeadilan Gender: Penerapan Social Security Systems”. Judul tersebut dilatarbelakangi oleh adanya Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA) yang memperpanjang cuti melahirkan menjadi enam bulan. Rumusan kebijakan ini patut diapresiasi karena semakin melindungi hak maternitas pekerja perempuan dalam rangka mewujudkan keadilan gender dalam lingkungan kerja. Namun, hal ini menimbulkan polemik terkait menambah beban finansial perusahaan untuk membayar tunjangan/upah cuti melahirkan. Mereka beranggapan bahwa kebijakan perpanjangan cuti melahirkan kurang menjamin pemenuhan hak perempuan dalam mewujudkan keadilan gender. Hal ini karena perpanjangan cuti melahirkan tanpa disertai reformulasi sistem pembayaran tunjangan/upah cuti hanya akan membebankan pengusaha.
Mereka kemudian juga menceritakan bahwa persiapan yang dilakukan untuk mengikuti kompetisi tersebut setidaknya memakan waktu kurang lebih dua bulan. Menurut Angel, sapaan akrab Apriska Widiangela, persiapan yang paling penting dalam mengikuti lomba karya tulis ilmiah adalah persiapan mental. “karena kita sudah semester akhir dan juga lagi menjalani skripsi. Ketika memutuskan ikut lomba karya tulis ilmiah pun ada pertimbangan-pertimbangan untuk kesiapan kita untuk dalam mengerjakan lomba sekaligus skripsi” ujarnya. Mereka kemudian juga menjelaskan bahwa dalam menulis karya tulis ilmiah diperlukan dukungan dari berbagai dosen-dosen, mulai dari Dr. Lanny Ramli, S.H., M.Hum., Dwi Rahayu Kristianti, S.H., M.A., dan Bagus Oktafian Abrianto, S.H., M.H., yang membantu dalam mendiskusikan bangunan argumentasi.
Berbagai tantangan juga sempat dilalui delegasi tersebut, bahkan mereka awalnya tidak pernah berekspetasi akan melanjutkan ke babak final dan sempat lupa akan tanggal pengumumannya. Hal ini dikarenakan mereka baru pertama kali ini mengikuti ajang lomba karya tulis ilmiah yang babak finalnya diselenggarakan secara offline. “Jujur saja kemarin waktu mau presentasi final lomba karya tulis ilmiah itu kita baru menyiapkan ppt (powerpoint) beberapa jam sebelumnya. Bahkan bisa dibilang ppt yang disiapkan tersebut sangat sederhana. Mungkin karena kita yang kurang disiplin dengan manajemen waktu dan harus menjadi pelajaran bagi kita semua” ujar Iput, sapaan akrab Ika Putri Rahayu. Sebagai penutup, Elsa selaku ketua delegasi berpesan agar tidak takut untuk mencoba. “Jangan pernah takut untuk mencoba dan jangan pernah khawatir karena terlambat. Kita mencoba ikut lomba karya tulis ilmiah pada semester tujuh dengan niatan untuk belajar lebih banyak terkait dengan topik tersebut. Menurutku itu proses yang berharga dan mewah” ujarnya pada akhir kesempatan.
Penulis: Dean Rizqullah Risdaryanto




