Di tengah skeptisime publik terhadap gelar akademik instan di kalangan politisi, sebuah oase integritas muncul dari Gedung Putih Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Sabtu (28/2/2026). Arizal Tomliwafa, S.T., M.M., M.H., atau yang akrab disapa Tom Liwafa, resmi menyandang gelar Doktor setelah mempertahankan disertasinya dalam Ujian Doktor Terbuka Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Sidang ini bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang pentingnya proses dan keberpihakan ilmu pengetahuan terhadap rakyat kecil, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Melawan Arus Instan
Promotor Tom Liwafa, Prof. Dr. Drs. Bagong Suyanto, M.Si., memberikan catatan mendalam dalam sambutannya. Sebagai akademisi yang telah 40 tahun bergelut dengan isu kemiskinan, Prof. Bagong mengapresiasi langkah Tom yang memilih jalur “berdarah-darah” dalam menempuh pendidikan formal di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR RI dan pengusaha.
“Saya sangat mengapresiasi kalau ada politisi yang mau kuliah dengan serius. Karena tidak banyak jumlahnya; ada yang tidak kuliah tiba-tiba dapat gelar, tapi Pak Tomi bukan itu. Beliau kuliah dengan serius dan menulis disertasi dengan serius,” tegas Prof. Bagong.
Keseriusan tersebut dibuktikan dengan keberhasilan Tom menembus jurnal internasional bereputasi (Q1). Sebuah pencapaian yang menurut Prof. Bagong melampaui standar rata-rata, bahkan bagi kalangan dosen sekalipun. “Dosen saja menulis di jurnal Q4 kadang di-reject berkali-kali. Pak Tomi bisa menembus Q1, itu adalah sebuah prestasi,” tambahnya.
Ilmu untuk Pemberdayaan UMKM
Dalam paparannya, Dr. Arizal Tomliwafa menekankan bahwa transformasi digital bagi UMKM bukan sekadar soal adopsi alat teknologi, melainkan perubahan paradigma (mindset). Baginya, gelar Doktor adalah tanggung jawab moral untuk menjembatani jurang antara teori akademis dan realitas praktis di lapangan.
“Pendidikan bukan sekadar gelar yang disematkan di depan atau di belakang nama, melainkan tanggung jawab moral untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas melalui ilmu yang telah ditempa,” ujar Tom dengan nada rendah hati.
Ia meyakini bahwa inovasi adalah harga mati bagi ketahanan ekonomi lokal. “Di era digital, mereka yang berhenti berinovasi adalah mereka yang sedang merencanakan kegagalan,” lanjutnya.
Sinergi Akademisi dan Praktisi
Bagi Tom, keberhasilannya meraih gelar tertinggi di bidang akademik ini hanyalah sebuah titik awal. Ia menegaskan bahwa proses belajar tidak berhenti di meja sidang.
“Menjadi seorang doktor bukan berarti berhenti belajar. Ini justru menjadi garis start baru untuk terus menggali data, mencari solusi, dan menjadi jembatan antara akademisi dan praktisi di lapangan.”
Di akhir sidang, Prof. Bagong menitipkan sebuah harapan besar bagi sang promovendus. Beliau berharap agar identitas akademik yang diraih Tom tetap senapas dengan keberpihakan sosialnya. “Moga-moga karier Pak Tomi makin sukses, dan kalau orang menyebut nama Pak Tomi, segera ingat UMKM,” pungkasnya.
Lulusnya Tom Liwafa dengan predikat memuaskan ini seolah mengirimkan pesan kuat kepada publik: bahwa di tangan individu yang tepat, politik, bisnis, dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan integritas proses.




