Penyerahan Buku “Menjadi Dangdut” oleh Dr. Takonai Susumu untuk Universitas Airlangga (Foto:istimewa)
FIB NEWS – Momen istimewa mewarnai peringatan ulang tahun ke-20 Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Melalui gelaran seminar internasional bertajuk “Japanese Studies in the Changing World” yang berlangsung di Majapahit Hall, ASEEC Tower pada Senin (14/9/2026), Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, Dr. Takonai Susumu, secara resmi meluncurkan bukunya yang berjudul “Menjadi Dangdut”.
Sebagai bagian dari rangkaian peluncuran buku, dilakukan pemberian buku secara simbolis oleh Dr. Takonai Susumu kepada Universitas Airlangga. Penyerahan buku tersebut diwakili oleh Dekan FIB UNAIR, Syahrur Marta Dwi Susilo, Ph.D. Momen tersebut menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan sekaligus bentuk apresiasi terhadap kontribusi di bidang akademik.
Dr. Takonai Susumu menyampaikan bahwa buku tersebut merupakan hasil dari riset disertasi S-3 beliau. Melalui pemaparannya, ia menyampaikan bahwa versi bahasa Jepang dari karya tersebut telah terbit sekitar 10 tahun lalu. Kehadiran edisi bahasa Indonesia diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi akademisi dan masyarakat umum di Indonesia untuk memahami perspektifnya mengenai dinamika musik dangdut.
Buku “Menjadi Dangdut” berisikan penelusuran Dr. Takonai mengenai perjalanan sejarah dangdut serta pemaknaan istilah Melayu di Indonesia yang memiliki konteks berbeda dengan penggunaan istilah tersebut untuk merujuk pada kelompok Melayu di Malaysia. Pertanyaan tersebut kemudian mendorong Dr. Takonai untuk menelusuri bagaimana dangdut berkembang sebagai hasil dari perjumpaan berbagai pengaruh budaya. Perjalanan dangdut dalam buku tersebut menurut beliau adalah dialog lintas budaya antara masa lalu dan masa kini.
Pembahasan mengenai buku tersebut diperdalam dalam sesi seminar bertajuk “Budaya Indonesia di Mata Diplomat Jepang”. Melalui materi tersebut Dr. Takonai membaca identitas melalui perjalanan dangdut. Menurut Dr. Takonai, salah satu pengaruh penting dalam perkembangan dangdut berasal dari budaya India yang kemudian berakulturasi dengan melayu. Ketertarikan Dr. Takonai terhadap dangdut sendiri telah muncul sejak tahun 1984 ketika berkunjung ke Jakarta. Bagi Dr. Takonai, perkembangan dangdut memperlihatkan bagaimana sebuah budaya dapat terbentuk melalui perjumpaan dengan berbagai pengaruh dari luar. Proses tersebut tidak hanya berupa penerimaan, tetapi juga melibatkan penyerapan, pengolahan, hingga pembentukan sesuatu yang memiliki karakter khas Indonesia.
“Budaya Indonesia terasa majemuk, hangat, luwes, dan dibentuk oleh semangat kebersamaan.” ungkap Dr. Takonai Susumu
Ketua Departemen Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR, Nunuk Indah Srimulyani, Ph.D., menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi mendalam pada sesi pembukaan seminar. Ia menekankan bahwa karya tersebut menjadi teladan penting dalam memahami hubungan lintas budaya.
“Pada kesempatan yang istimewa ini, saya juga ingin menyampaikan selamat yang sebesar-besarnya kepada Dr. Takonai Susumu atas terbitnya buku beliau yang luar biasa, ‘Menjadi Dangdut’. Karya yang mendalam ini memperlihatkan dengan sangat baik bagaimana budaya dapat tumbuh subur melalui perjumpaan dinamis, adaptasi kreatif, dan pertukaran timbal balik. Buku ini menjadi bukti menginspirasi dari pemahaman mendalam dan saling melengkapi yang ingin kami kembangkan dalam studi Jepang dan kajian wilayah,” ujarnya.
Peluncuran buku “Menjadi Dangdut” tidak hanya memperkaya khazanah literatur akademis mengenai budaya populer Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Departemen Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR dalam mendorong kajian kawasan dan pertukaran budaya. Momentum tersebut sekaligus memperkuat semangat akademik dalam mempertemukan perspektif Indonesia dan Jepang melalui kajian budaya.
Seminar ini menekankan bahwa Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang, FIB UNAIR menempatkan peran ilmu disiplin ini selaras dengan tujuan global yang mendukung implementasi Sustainable Development Goal (SDGs) poin ke-4, yaitu quality education, serta poin ke-17, yaitu partnerships for the goals.
(Penulis: Firtha Ayu Rachmasari, S.Hum., M.Hum. dan Agita Putri Zuleyka)




