Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin dan Kesya Azka Najhan mengikuti konferensi internasional via online
FIB NEWS – Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin mengikuti konferensi internasional “International and Interdisciplinary Conference The Rise of Asia 60 Years After Havana: Asia, Africa, Latin America and the World. What Relations for Global and Sustainable Peace, Justice and Prosperity?”yang diadakan oleh BandungSpirit.org, bertepatan di University Paris 1 Panthéon-Sorbonne serta University Le Havre Normandy, Perancis pada tanggal 18-20 Februari 2026.
Tujuan mengikuti konferensi internasional
Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin, salah satu mahasiswa program studi Ilmu Sejarah semester 4 yang lolos mengikuti konferensi internasional. Ingin memperluas pengalaman lomba, kompetisi atau konferensi sudah menjadi tujuannya di semester 4 ini, konferensi bertaraf internasional ini menjadi kali pertama bagi Irsyad. Awalnya terdapat 500-700 pendaftar, tetapi hanya ada sekitar 99 presenter dengan 91 abstrak. “Jadi, ada yang 1 abstrak 2 presenter” jelasnya.
Manfaat yang berguna
Banyak manfaat yang Irsyad rasakan ketika tergabung pada kegiatan ini. Rata-rata yang bergabung dalam konferensi merupakan dosen, researcher bahkan profesor. Penelitian yang dilakukan oleh Irsyad memperoleh masukan dari beberapa profesor yang ada di sana, bagian terpenting yakni profesor memberikan masukan pada bagian metodologi.
Bagian metodologi merupakan salah satu bagian yang cukup krusial dalam sebuah penelitian, “aku sempat tukeran kontak dengan salah satu profesor di India” ujarnya. Hal itu juga menjadi salah satu manfaat yang cukup penting, karena dari hal tersebut dapat mempererat relasi tingkat global.
Penelitian yang dibawakan
“Kebetulan aku membawa isu PKI” ujarnya, isu PKI merupakan pembahasan dalam penelitian Irsyad, yang mana isu PKI ini selaras dengan kondisi Indonesia yakni berhubungan dengan isu KUHAP dilarangnya menyebarkan komunisme. Dalam penelitian tersebut, Irsyad menggunakan metode dekonstruksi dari Jacques Derrida untuk membongkar narasi PKI dalam sejarah nasional Indonesia.
Tepatnya yakni PKI pada tahun 1926-1927, pada tahun itu PKI disebut sebagai pemberontakan, padahal PKI tahun 1926-1927 melakukan perlawanan kepada pemrintah kolonial. Tindakan PKI ini disebut sebagai pemberontakan PKI karena masih adanya bias kolonial dalam penulisan sejarah, dan yang kedua yakni adanya agenda politik oleh Soeharto.
Kualitas pembicara
“Wah! kualitasnya tidak diragukan lagi” ucapnya. Tidak banyak mahasiswa yang tergabung dalam konferensi ini. Terdapat juga beberapa dosen dari Universitas Airlangga juga tergabung dalam konferensi yakni Dr. Probo Darono Yakti, S.Hub.Int., M.Hub.Int., merupakan dosen hubungan internasional Universitas Airlangga, dan Prof. Diah Ariani Arimbi S.S., M.A., Ph.D., selaku mantan dekan Fakultas Ilmu Budaya.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yaitu quality education.
Penulis: Gresyla Yasmin Cahyadewi
Editor: Pudja Safana Dwi Putri




