Persepsi merupakan reaksi yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi, manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya (Slameto, 2016). Proses persepsi diawali oleh stimulus yang datang dari lingkungan kemudian ditangkap oleh indera manusia. seperti indera penglihat (mata), indera pendengar (telinga), indera pembau/indera pencium (hidung), indera pengecap (lidah), dan indera peraba (kulit). Persepsi menghasilkan cara pandang dari seseorang terhadap sesuatu yang dapat berupa persepsi positif dan negatif. Beberapa faktor yang memengaruhi pemersepsi (orang yang melakukan persepsi), antara lain sikap, motif, kepentingan, pengalaman, dan pengharapan.
Hipertensi merupakan keadaan darah yang abnormal pada tekanan darah yang dapat mengganggu kinerja sistem organ di dalam tubuh dan berpotensi mengakibatkan beberapa penyakit, seperti stroke dan jantung koroner (Bruner & Suddart, 2002). Beberapa penyebab hipertensi, antara lain unchanged risk factor (faktor genetik) dan change risk factor (pola makan yang tidak bergizi seimbang, konsumsi rokok, kurang berolahraga, dan makanan tinggi garam). Hipertensi menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya, Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena sering terjadi tanpa keluhan sehingga penderita tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi dan baru mengetahuinya setelah terjadi komplikasi. (Kemenkes RI, 2019).
Sebanyak 1,13 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi. Sebagian besar merupakan masyarakat yang tinggal di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah (WHO, 2019). Menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014, hipertensi dengan komplikasi (5,3%) merupakan penyebab kematian nomor 5 (lima) pada semua umur. Berdasarkan data International Health Metrics Monitoring and Evaluation (IHME) tahun 2017 di Indonesia, penyebab kematian pada peringkat pertama disebabkan oleh stroke yang diikuti dengan penyakit jantung iskemik, diabetes, tuberkulosis, sirosis, diare, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), alzheimer, infeksi saluran napas bawah dan gangguan neonatal, serta kecelakaan lalu lintas. (Kemenkes RI, 2019).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Soesanto, 2020), sebagian besar lansia memiliki persepsi yang baik terhadap keuntungan berperilaku sehat untuk mencegah terjadinya hipertensi dan komplikasinya. Menurut mereka, pemahaman yang lebih baik mengenai hipertensi, perilaku hidup sehat, mengontrol tekanan darah, dan upaya untuk mengurangi hambatan dalam pencegahan dan pengontrolan hipertensi juga penting. Namun, sebagian dari responden tidak melakukan upaya tersebut karena takut membebani keluarga akibat biaya yang dikeluarkan, misalnya biaya untuk membeli buah-buahan dan biaya untuk ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Oleh: Nathania Indrawati
Referensi:
Soesanto, Edy, et. al. Persepsi Lansia Hipertensi dan Perilaku Kesehatannya. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat, Vol. 9, No. 3, Oktober 2020. E-ISSN 2598-4217.
Istichomah. 2020. Penyuluhan Kesehatan Tentang Hipertensi pada Lansia di Dukuh Turi, Bambanglipuro, Bantul. Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI), Vol. 2, No. 1, April 2020. E-ISSN 2686-1003.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Hipertensi Penyakit Paling Banyak Diidap Masyarakat.
Nugroho, Kristiawan P. A. et. al. 2019. Faktor Risiko Penyebab Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Lor Kota Salatiga. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, Vol. 10, No. 1, Januari 2019.
Sanjaya, Feri. 2022. Komunikasi Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19 (Studi Deskriptif Tentang Persepsi Penerapan Protokol Kesehatan Pengunjung Pasar Sentra Grosir Cikarang). Jurnal Oratio Directa, Vol. 4., No. 2, Desember 2022, E-ISSN 2615-07435.




