Universitas Airlangga Official Website

Prodi Imunologi Audiensi ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota, tawarkan peningkatan kualitas SDM

Selama ini, imunologi kerap terkurung dalam stereotipe “menara gading”. Ia dianggap sebagai disiplin ilmu yang teramat teknis, rumit, dan hanya berdenyut di balik mikroskop laboratorium atau ruang sterilisasi rumah sakit. Namun, sebuah pertemuan di kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kamis, 29 januari 2026, mencoba meruntuhkan sekat tersebut. Ilmu tentang sistem ketahanan tubuh ini kini ditarik keluar menuju palagan kebijakan publik dan penguatan akar rumput.

Jajaran pimpinan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) duduk bersama pimpinan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur. Di meja panjang ruang pertemuan, sebuah gagasan besar diletakkan: bagaimana kepakaran ilmiah bisa menjawab kebutuhan praktis di lapangan, mulai dari urusan tengkes (stunting) hingga hilirisasi obat herbal.

Wakil Direktur II Sekolah Pascasarjana UNAIR, Dr. Karnaji, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa kunjungan ini membawa misi redefinisi. “Kami ingin memberikan wawasan bahwa imunologi bukan sekadar layanan teknis klinis. Ia memiliki peran krusial dalam manajemen kesehatan masyarakat, terutama dalam memperkuat sistem ketahanan populasi,” ujarnya.

Narasi ini berkelindan erat dengan program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) yang menjadi garda depan kesehatan publik. Imunologi, dalam kacamata ini, adalah fondasi bagi ketahanan sebuah provinsi yang dimulai dari sel-sel tubuh tiap warganya.

Investasi Manusia dan Herbal

Sekretaris Dinas Kesehatan Jatim, Mohamad Yoto, SKM., M.Kes., menyambut gagasan tersebut dengan data presisi. Saat ini, terdapat 12.881 personel kesehatan yang tersebar di 14 rumah sakit dan 3 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah naungan Pemprov Jatim. Inilah “pasukan” yang menurut Yoto perlu diperkuat kapasitas intelektualnya melalui studi lanjut di Prodi Imunologi Unair.

Tak hanya soal sumber daya manusia, kolaborasi ini membidik potensi alam melalui UPT Laboratorium Herbal di Batu. Yoto melihat celah riset yang besar untuk memproduksi fitofarmaka atau obat herbal terstandar berbasis data ilmiah.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Jatim, Waritsah, mengakui awalnya ada keraguan apakah ilmu se-spesifik imunologi bisa masuk ke ranah kebijakan praktis. “Saya sempat mengira imunologi hanya fokus pada layanan teknis. Namun, di sisi manajemen, kami melihat banyak hal yang bersinggungan, terutama dalam penanganan stunting melalui imunologi mukosa,” tuturnya.

Riset yang Membumi

Koordinator Program Studi Magister Imunologi Unair, Prof. Viskasari Pintoko Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K)., Ph.D., menekankan bahwa riset mereka kini lebih “membumi”. Salah satu fokusnya adalah sistem digestif yang berkaitan erat dengan daya tahan anak-anak pengidap stunting.

Prof. Viskasari juga mengisahkan bagaimana imunologi Unair telah melampaui batas negara, mulai dari pengembangan vaksin Merah Putih hingga diplomasi kesehatan di Polandia. Di Warsawa, mereka mengedukasi warga mengenai virus HPV dengan bahasa yang sederhana.

“Jangan takut, imunologi itu tidak sesulit yang dibayangkan. Kalau sudah dijalani, rasanya akan ringan saja, seperti istilah Jawa, sego jangan (hal yang lumrah),” ungkap Guru Besar Universitas Airlangga ini.

Secara administratif, kerja sama ini telah dipayungi oleh Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemprov Jatim dan Unair sejak 2023. Kini, bola berada pada implementasi teknis agar keahlian kampus tidak berhenti di jurnal ilmiah, tetapi menjelma menjadi intervensi kesehatan yang presisi.

Estafet ke Kota Surabaya

Usai menuntaskan audiensi di tingkat provinsi, rombongan Sekolah Pascasarjana Unair tidak berhenti. Agenda penguatan kemitraan ini berlanjut dengan menyambangi kantor Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Langkah maraton ini dilakukan untuk memastikan bahwa redefinisi imunologi menjangkau kebijakan di tingkat kota. Sinergi antara akademisi dan praktisi di Surabaya diharapkan mampu menjadi barometer penguatan sistem imun bangsa yang berbasis pada riset dan data solid, langsung di jantung pemukiman warga.

Ketahanan sebuah bangsa, sejatinya, memang bermula dari pemahaman yang benar atas tubuhnya sendiri.