Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 H, kegembiraan masyarakat biasanya tumpah ruah dalam jamuan makan yang sarat akan santan, gula, dan lemak. Namun, di balik keriuhan silaturahmi tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang nyata bagi organ vital kita: Ginjal.
Dalam program Ranah Publik di Suara Muslim Radio Network (16/03/2026), dua pakar dari Universitas Airlangga, Prof. Djoko Santoso dan Prof. Suparto Wijoyo, membedah pentingnya menjaga kesehatan ginjal agar ibadah pasca-Ramadan tetap optimal.
Transisi Pola Makan: Ujian Sesungguhnya
Setelah satu bulan penuh berpuasa, tubuh melakukan adaptasi metabolisme yang luar biasa. Masalah muncul ketika Idul Fitri tiba dan masyarakat melakukan “balas dendam” kuliner.
Prof. Djoko Santoso, pakar ginjal ternama, mengingatkan bahwa ginjal tidak mengenal istilah “libur lebaran”. Beban kerja ginjal justru meningkat drastis saat asupan garam dari hidangan bersantan dan gula dari kue kering masuk tanpa kendali.
“Idul Fitri adalah kemenangan, tapi jangan sampai kita ‘kalah’ di depan meja makan. Ginjal kita tidak ikut berlebaran, dia tetap bekerja keras menyaring apa pun yang kita masukkan ke tubuh.” Prof. Djoko Santoso
Beliau menekankan pentingnya hidrasi yang tepat di tengah kepungan minuman manis saat bertamu. Air putih tetap menjadi kunci utama untuk membantu filtrasi ginjal tetap lancar.
Puasa sebagai “Madrasah” Pengendalian Diri
Dari perspektif sosiologi hukum dan spiritual, Prof. Suparto Wijoyo menyoroti bahwa kesehatan adalah bagian dari amanah Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan. Menurutnya, esensi Idul Fitri adalah kembali ke kesucian, yang seharusnya tercermin dalam perilaku makan yang santun dan terukur.
“Puasa Ramadan adalah madrasah untuk mengendalikan nafsu. Jika saat Lebaran kita makan tanpa batas, maka kita perlu bertanya apakah kita benar-benar lulus dari madrasah tersebut.” Prof. Suparto Wijoyo
Prof. Suparto mengajak pendengar untuk mengubah paradigma silaturahmi. Alih-alih hanya berfokus pada kuantitas hidangan, tuan rumah dan tamu sebaiknya saling menjaga kesehatan satu sama lain.
Tips Sehat Ginjal Saat Lebaran
Berdasarkan diskusi tersebut, berikut adalah poin-poin utama yang perlu diperhatikan:
* Moderasi Porsi: Cicipi hidangan khas lebaran secukupnya, jangan berlebihan.
* Prioritas Air Putih: Selalu awali dan akhiri sesi makan dengan air putih untuk menetralkan asupan gula dan garam.
* Disiplin Diet Khusus: Bagi pengidap hipertensi atau diabetes, Lebaran bukan alasan untuk menghentikan pola makan khusus.
* Filosofi Syukur: Menjaga kesehatan adalah bentuk syukur nyata atas nikmat umur yang diberikan.
Penutup yang Reflektif
Diskusi ditutup dengan pesan kuat bahwa menjaga tubuh tetap sehat adalah bentuk kemenangan yang sejati. Jangan sampai perayaan yang suci justru berakhir dengan keluhan kesehatan di rumah sakit.
“Menjaga ginjal yang sehat adalah bentuk syukur kita atas nikmat Allah. Merusak kesehatan dengan pola makan berlebih saat Idul Fitri justru menjauhkan kita dari esensi kesucian (fitrah).” Prof. Suparto Wijoyo




