FKH UNAIR Kenalkan Wafer Pakan Komplet di Aceh Besar

62 Views•4 minutes read

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) memperkenalkan teknologi wafer complete feed (WCF) kepada peternak sapi di Aceh. Sebanyak 50 peternak di Gampong Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, mengikuti pelatihan pembuatan pakan tersebut pada Minggu (11/10/2026). Selain WCF, peserta juga belajar membuat silase sebagai cadangan pakan pascabanjir.

Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Desa Binaan (PPDB) UNAIR 2026 bertajuk “Pengembangan Desa Binaan Berbasis Pakan Probiotik dan Kesehatan Reproduksi Sapi Aceh untuk Ketahanan Pangan Pascabanjir”.

Ketua tim, Prof Dr Mirni Lamid drh MP mengatakan, Aceh Besar dipilih karena dua alasan. Sapi Aceh merupakan plasma nutfah lokal yang perlu dilestarikan, sementara banjir di sejumlah wilayah Aceh telah mengganggu pasokan pakan dan pangan asal hewan.

“Kami ingin hasil riset di laboratorium dimanfaatkan langsung oleh peternak. Bahan lokal yang selama ini terbuang dapat diolah menjadi pakan lengkap yang praktis dan tahan simpan,” kata Guru Besar Divisi Peternakan FKH UNAIR tersebut.

Prof Mirni berangkat ke Aceh bersama Dr Zulfi Nur Amrina Rosyada SPt MSi dan Prof Dr Mohammad Anam Al Arif drh MP Guru Besar Laboratorium Makanan Ternak FKH UNAIR yang bertindak sebagai instruktur pembuatan WCF. Program ini juga melibatkan Prof Dr Erma Safitri drh MSi untuk aspek reproduksi ternak serta Muhammad Browijoyo Santanumurti SPi MSc PhD dari Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR untuk aspek One Health.

Dalam pelaksanaannya, FKH UNAIR bermitra dengan Pusat Riset CENTROVETS-OHCC Universitas Syiah Kuala (USK) yang dipimpin Prof drh Teuku Reza Ferasyi MSc PhD. Dua doktor lulusan FKH UNAIR yang kini mengajar di FKH USK, Dr Siti Rani Ayuti SPt MSi dan Dr drh Mudhita Zikkrullah Ritonga SKH MVet ikut mendampingi peternak selama pelatihan sebagai mitra pelaksana. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan FKH USK, Dr. drh Amalia Sutriana, juga hadir mendampingi kegiatan.

Kegiatan berlangsung dua hari. Pada Sabtu (10/10/2026), tim bersama Dr drh Mustafa Sabri MP Dr drh Faisal Jamin MSi dan drh Awaluddin MSi dari CENTROVETS-OHCC USK memeriksa kesehatan sapi milik Kelompok Ternak Sejahtera dan Kelompok Ternak Meufakat. Ternak yang memerlukan penanganan diberi obat, vitamin, dan obat cacing. drh Riyan Ferdian MSi dari FKH USK, yang juga Ketua Kelompok Ternak Meufakat, ikut membantu menyuntik sapi dan kambing. Adapun Kelompok Ternak Sejahtera dipimpin Amirul Azmi.

Foto Tim FKH UNAIR dan CENTROVETS-OHCC USK memeriksa sapi di kandang kelompok mitra, Sabtu (10/10/2026) (Foto: Istimewa)

Hari kedua diisi penyuluhan dan praktik. Prof. Anam membawakan materi WCF untuk ruminansia, Prof Dr drh Erwin MSc dari CENTROVETS-OHCC USK membahas kesehatan sapi, kambing, dan domba, sedangkan Prof Mirni memaparkan manajemen pakan dan perkandangan sapi potong.

Peserta mempelajari komposisi WCF, yakni 70 persen hay rumput dan 30 persen campuran bungkil kelapa, jagung giling, dedak padi, pollard, dan mineral, dengan tepung tapioka dan molases sebagai perekat. Adonan dipadatkan dalam keranjang plastik, dipotong, lalu dijemur hingga kering. Peserta juga membuat silase rumput dan fermentasi jerami padi menggunakan probiotik EM4 peternakan. Kedua teknologi ini dipilih karena peralatannya sederhana dan mudah ditiru kelompok.

Kegiatan dibuka oleh Keuchik Gampong Lubok Sukon, Drs Mahyadi SH, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar, drh Adekurniawan Addy, dan Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh Uzir SPt MSi turut menyaksikan praktik pembuatan pakan.

Program ini dirancang dengan target terukur. Pada tahun pertama, sedikitnya 80 persen peserta ditargetkan mampu memproduksi WCF secara mandiri, nilai post-test naik minimal 30 persen, dan 70 persen bahan baku berasal dari sumber daya lokal. Tahun kedua diarahkan pada hilirisasi, mulai dari unit produksi dan bank pakan hingga kemasan dan pemasaran WCF.

Program ini mendukung lima tujuan SDGs, yakni SDG 2, 3, 8, 12, dan 15. Kontribusinya mencakup penyediaan pakan cadangan, kesehatan ternak berbasis One Health, peluang usaha pakan, pemanfaatan limbah pertanian, serta pelestarian sapi Aceh sebagai sumber daya genetik lokal.

Penulis: Dr Zulfi Nur Amrina Rosyada SPt Msi

Editor: Yulia Rohmawati

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top