Universitas Airlangga Official Website

Gabapentin: Lebih dari Sekadar Obat Nyeri Saraf?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Gabapentin selama ini dikenal sebagai obat yang digunakan untuk menangani epilepsi dan nyeri neuropatik, yaitu nyeri yang muncul akibat gangguan atau kerusakan pada sistem saraf. Namun, berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa obat ini mungkin memiliki manfaat lain yang tidak kalah menarik. Gabapentin diduga mampu memengaruhi proses peradangan dan respons sistem imun di dalam tubuh.

Peradangan sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan alami tubuh. Ketika terjadi infeksi atau kerusakan jaringan, sistem imun menghasilkan berbagai zat yang membantu tubuh mengatasi gangguan tersebut. Masalah muncul ketika respons peradangan berlangsung berlebihan atau berkepanjangan. Kondisi ini dapat berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis, termasuk gangguan saraf, penyakit metabolik, dan kerusakan organ.

Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal Immuno pada tahun 2026 mencoba melihat lebih jauh potensi gabapentin dalam mengendalikan proses tersebut. Peneliti menelaah publikasi ilmiah selama periode 2015–2025 dan menemukan 13 penelitian praklinis yang memenuhi kriteria, baik penelitian menggunakan sel di laboratorium maupun model hewan. Hasilnya menunjukkan bahwa efek gabapentin ternyata tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sel saraf.

Salah satu mekanisme yang ditemukan berkaitan dengan kemampuan gabapentin berikatan dengan subunit α2δ-1 pada kanal kalsium. Ikatan tersebut dapat mengurangi masuknya ion kalsium ke dalam sel. Perubahan ini kemudian dapat memengaruhi berbagai jalur komunikasi di dalam sel yang berperan dalam proses peradangan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gabapentin dapat menekan aktivitas jalur MAPK dan NF-κB. Kedua jalur ini berperan penting dalam mengatur pembentukan berbagai mediator peradangan. Ketika aktivitasnya ditekan, produksi sejumlah sitokin proinflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6), interleukin-8 (IL-8), tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dan interleukin-1 beta (IL-1β), juga dapat berkurang. Gabapentin juga dilaporkan memengaruhi jalur PPAR serta meningkatkan aktivitas sistem Nrf2/HO-1 yang berperan dalam pertahanan antioksidan tubuh. Dengan demikian, efek yang diamati tidak hanya berupa pengurangan mediator peradangan, tetapi juga berpotensi melibatkan perlindungan sel terhadap stres oksidatif.

Menariknya, efek tersebut ditemukan pada berbagai model penyakit. Penelitian praklinis menunjukkan adanya pengaruh gabapentin terhadap proses inflamasi pada kondisi seperti nyeri neuropatik, peradangan sistem saraf, uveitis, sepsis, kolitis, hingga cedera ginjal akut. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa aktivitas biologis gabapentin lebih luas daripada indikasi neurologis yang selama ini dikenal.

Meski hasilnya menarik, gabapentin belum dapat dianggap sebagai obat antiinflamasi untuk penggunaan klinis. Sebagian besar bukti yang tersedia masih berasal dari penelitian pada sel dan hewan. Selain itu, tidak seluruh penelitian menunjukkan hasil yang seragam. Pada kondisi tertentu, gabapentin bahkan menunjukkan pengaruh berbeda terhadap aktivitas sel imun, yang menandakan bahwa efeknya dapat bergantung pada jenis jaringan, penyakit, dosis, dan kondisi biologis yang diteliti.

Karena itu, penelitian pada manusia masih diperlukan untuk mengetahui apakah efek antiinflamasi tersebut benar-benar memberikan manfaat klinis. Peneliti juga perlu menentukan dosis yang sesuai, kelompok pasien yang mungkin memperoleh manfaat, serta keamanan penggunaan jangka panjang apabila gabapentin kelak dikembangkan sebagai terapi tambahan untuk penyakit yang melibatkan peradangan.

Temuan ini memberikan perspektif baru terhadap obat yang sebenarnya telah lama digunakan dalam praktik klinis. Gabapentin mungkin bukan hanya obat yang bekerja pada sistem saraf, tetapi juga memiliki kemampuan memodulasi proses peradangan dan sistem imun. Namun, perjalanan dari temuan di laboratorium menuju terapi bagi pasien masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.

Sumber dan konten terkait

Penulis: Annette d’Arqom, dr., M.Sc., Ph.D

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.mdpi.com/2673-5601/6/2/30

d’Arqom, A., Rizky, K. A., Aqilah, N. M., Huda, F., Lee, M. T., Tansy, B. A., Noor, S. M., Rimbun, & Megasari, N. L. A. (2026). Immunomodulatory and Anti-Inflammatory Effects of Gabapentin: A Systematic Review and Risk of Bias Analysis of Preclinical Studies. Immuno, 6(2), 30. https://doi.org/10.3390/immuno6020030