Universitas Airlangga Official Website

Gagas Revitalisasi Wayang Beber, Tim Mahasiswa UNAIR Raih Bronze Medal PRISMA 14

Tim ARKIVE UNAIR saat dinyatakan sebagai finalis dalam ajang Pekan Riset Ilmiah Mahasiswa 14 (PRISMA 14) yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya selama dua hari, yakni Jumat (4/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026) (foto: Tim ARKIVE)
Tim ARKIVE UNAIR saat dinyatakan sebagai finalis dalam ajang Pekan Riset Ilmiah Mahasiswa 14 (PRISMA 14) yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya selama dua hari, yakni Jumat (4/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026) (foto: Tim ARKIVE)

UNAIR NEWS – Upaya menghidupkan kembali minat generasi muda pada tradisi lokal, membawa tim ARKIVE Universitas Airlangga (UNAIR) meraih penghargaan Bronze Medal IV pada ajang Pekan Riset Ilmiah Mahasiswa 14 (PRISMA 14) yang berlangsung di Universitas Brawijaya selama dua hari, yakni Jumat (4/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026). 

Tim yang terdiri dari Firaz Athallah Muflih asal Fakultas Keperawatan (FKP), Dewin Junitasari mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), serta Charlita Beauty Lady Pradana mahasiswa FTMM UNAIR menggagas Archive Future (ARKIVE) sebagai komunitas pemberdayaan pemuda yang berfokus pada revitalisasi Wayang Beber sekaligus menjawab persoalan menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal.

“Wayang Beber sudah ada sejak lama, tetapi masih kurang dikenal. Karena pemberdayaannya terbatas pada bentuk yang kuno atau tradisional,” ungkap Firaz.

Usung Revitalisasi Wayang Beber di Tengah Arus Globalisasi 

Kemudahan akses terhadap platform digital dan pesatnya arus globalisasi membawa preferensi budaya yang berbeda pada generasi muda. Bagi Firaz, globalisasi tidak hanya memperluas akses informasi, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan budaya Indonesia apabila tidak bebrbarengan dengan upaya pelestarian budaya lokal. “Globalisasi menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan budaya Indonesia apabila tidak diimbangi dengan upaya pelestarian dan inovasi. Khususnya dalam memperkenalkan budaya lokal kepada mereka,” ujarnya. 

Selain itu, generasi muda berisiko meninggalkan warisan leluhur karena mereka anggap kuno dan tidak relevan dengan kehidupan modern. Terlebih, upaya pemberdayaan Wayang Beber masih terbatas pada prosedur tradisional. 

“Kondisi ini membuat warisan budaya berisiko hilang jika tidak segera dihadirkan dalam bentuk yang sesuai dengan karakteristik generasi digital,” imbuhnya. 

Pemuda sebagai Motor Penggerak Budaya Lokal 

Pemuda merupakan generasi digital-native yang dekat dengan perkembangan teknologi, sehingga dipilih sebagai aktor penggerak utama budaya lokal. Dengan melibatkan pemuda, upaya pelestarian Wayang Beber tidak hanya menjadi nostalgia, melainkan juga transformasi budaya yang relevan dengan zaman. 

“Dengan cara ini, Wayang Beber tidak hanya dipertahankan, tetapi juga ditransformasikan. Menjadi media edukasi dan hiburan yang hidup,” tutur ketua tim ARKIVE tersebut. 

ARKIVE menawarkan digitalisasi Wayang Beber melalui sejumlah program edukatif, seperti  Arkive Hub sebagai platform digital edukasi, Arkive Story Animation, dan Arkive Digital Heritage Story berbasis Augmented Reality (AR). Berbagai fitur tersebut menghadirkan Wayang Beber dalam format interaktif yang secara aktif melibatkan generasi muda. Terdapat pula program Arkive Ambassador, Beber Kreasi, dan Arkive Creative Incubator, yang menargetkan pemuda sebagai kreator, duta budaya, sekaligus penggerak komunitas. 

“ARKIVE akan terus dikembangkan melalui kompetisi akademik sekaligus diupayakan menjadi proyek berbasis seni dan budaya yang dapat diterapkan bersama komunitas lokal, sekolah, maupun museum. Dengan begitu, harapannya ARKIVE membuat Wayang Beber lebih relevan dan dikenal generasi muda,” pungkasnya. 

Penulis: Amelia Farah Putri I. 

Editor: Ragil Kukuh Imanto