Universitas Airlangga Official Website

Ibu Hamil Gemuk dan Induksi Persalinan: Apa yang Perlu Anda Ketahui

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kehamilan dengan berat badan berlebih atau obesitas kini semakin umum. Di seluruh dunia, jutaan ibu hamil menghadapi kondisi ini setiap tahunnya. Salah satu tantangan yang sering muncul adalah proses induksi atau “pemacuan” persalinan — yaitu ketika dokter perlu merangsang rahim agar kontraksi dimulai sebelum persalinan alami terjadi.

Penelitian terbaru yang dilakukan di dua rumah sakit akademik di Surabaya mengungkap fakta-fakta penting tentang apa saja yang membuat induksi persalinan bisa gagal pada ibu hamil dengan obesitas — dan apa dampaknya bagi ibu maupun bayi.

Apa Itu Induksi Persalinan?

Induksi persalinan adalah prosedur medis di mana tenaga kesehatan memberikan obat-obatan atau tindakan tertentu untuk memulai proses persalinan secara buatan. Prosedur ini dilakukan ketika menunggu persalinan alami dinilai lebih berisiko daripada segera melahirkan.

Kapan Induksi Dilakukan? Induksi biasanya dipertimbangkan ketika kehamilan sudah lewat waktu, tekanan darah ibu terlalu tinggi (preeklamsia), atau ada kondisi tertentu yang membuat kelanjutan kehamilan berisiko bagi ibu maupun janin.

Mengapa Ibu Hamil dengan Obesitas Lebih Berisiko?

Obesitas dalam kehamilan bukan sekadar soal angka timbangan. Kelebihan berat badan memengaruhi hampir setiap aspek kehamilan, termasuk cara rahim merespons obat-obatan induksi. Beberapa alasannya:

  • Perubahan hormonal pada ibu obesitas dapat memperlambat pematangan mulut rahim (serviks)
  • Lemak tubuh yang berlebih dapat mengganggu kontraksi rahim
  • Kadar leptin dan kolesterol yang tinggi memengaruhi aktivitas otot rahim
  • Resistensi insulin yang umum pada obesitas turut berkontribusi pada komplikasi

Temuan Utama Penelitian

Penelitian ini melibatkan 159 ibu hamil obesitas (BMI ≥ 30) yang menjalani induksi persalinan di usia kehamilan 37–41 minggu. Hasilnya: 53 orang mengalami kegagalan induksi, sementara 106 orang berhasil.

1 dari 3 Tingkat Kegagalan Induksi Sekitar 33% ibu hamil obesitas dalam penelitian ini mengalami kegagalan induksi persalinan
100% Semua Berakhir Operasi Caesar Seluruh ibu yang mengalami gagal induksi harus menjalani operasi caesar
18,9% vs 1,9% Preeklamsia Berat Kelompok gagal induksi memiliki angka preeklamsia berat yang jauh lebih tinggi dibanding kelompok berhasil

3 Faktor Risiko Utama Gagal Induksi

Para peneliti menemukan tiga faktor yang secara independen meningkatkan risiko kegagalan induksi pada ibu hamil dengan obesitas:

1. Kehamilan Pertama (Primipara)

Ibu yang baru pertama kali hamil memiliki risiko 3,1 kali lebih tinggi mengalami kegagalan induksi dibandingkan ibu yang sudah pernah melahirkan sebelumnya. Mengapa? Ibu baru belum pernah mengalami proses persalinan, sehingga serviks dan rahim belum “terlatih”. Ditambah efek obesitas, kombinasi ini membuat proses persalinan menjadi lebih sulit.

2. Kondisi Mulut Rahim yang Belum Siap

Dokter menilai kesiapan mulut rahim (serviks) menggunakan alat ukur yang disebut “Bishop Score”. Skor rendah (kurang dari 3) berarti serviks belum cukup matang untuk merespons induksi dengan baik. Dalam penelitian ini, ibu dengan Bishop Score rendah memiliki risiko 2 kali lebih tinggi mengalami kegagalan induksi.

Apa itu Bishop Score? Bishop Score adalah sistem penilaian kondisi serviks (mulut rahim) berdasarkan 5 parameter: pembukaan, penipisan, konsistensi, posisi, dan penurunan kepala janin. Semakin tinggi skornya, semakin siap rahim untuk bersalin.

3. Kenaikan Berat Badan Berlebih Selama Hamil

Semakin banyak berat badan yang naik selama kehamilan, semakin tinggi risiko kegagalan induksi. Rata-rata kenaikan berat badan pada kelompok yang gagal adalah 18 kg, dibandingkan hanya 14 kg pada kelompok yang berhasil. Kenaikan berat badan berlebih dapat mendorong ibu masuk ke kategori obesitas yang lebih berat, yang makin mempersulit proses persalinan.

Apa Dampaknya Jika Induksi Gagal?

Kegagalan induksi bukan hanya berarti harus operasi caesar. Ada sejumlah dampak lain yang perlu diperhatikan:

Dampak pada IbuDampak pada Bayi
Operasi caesar (100%) Preeklamsia berat lebih sering Rawat inap lebih lama (rata-rata 4 hari vs 2 hari) Biaya perawatan lebih tinggiNilai Apgar menit pertama lebih rendah (25,5% vs 10,4% dengan nilai < 7) Nilai Apgar menit ke-5 tidak berbeda bermakna Tidak ada perbedaan pada kelainan bawaan, IUGR, atau masuk NICU

Apa yang Bisa Dilakukan Ibu Hamil?

Kabar baiknya: banyak faktor risiko ini bisa dikelola sejak dini! Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:

  • Kontrol kenaikan berat badan selama hamil bersama dokter atau ahli gizi. Untuk ibu dengan obesitas, kenaikan yang direkomendasikan adalah 5–9 kg selama kehamilan.
  • Lakukan pemeriksaan antenatal (ANC) secara rutin agar kondisi serviks dan perkembangan janin bisa dipantau sejak awal.
  • Diskusikan dengan dokter tentang kesiapan serviks sebelum rencana induksi dilakukan.
  • Jika ini kehamilan pertama Anda dan Anda memiliki obesitas, tanyakan kepada dokter tentang persiapan khusus sebelum induksi.
  • Kenali tanda-tanda preeklamsia seperti tekanan darah tinggi, sakit kepala hebat, dan pembengkakan tiba-tiba.
Pesan dari Para Peneliti Pemilihan pasien yang tepat, penilaian serviks yang cermat, dan konseling yang baik sebelum induksi adalah kunci untuk meningkatkan keselamatan ibu dan bayi pada kehamilan dengan obesitas.

Tentang Penelitian Ini

Penelitian ini dilakukan oleh dr. Huwaida Nabilah bersama Dr. Hermanto Tri Joewono dan Dr. Muhammad Ilham Aldika Akbar dari Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Data dikumpulkan dari RS UNAIR dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya sepanjang tahun 2023, dan hasilnya diterbitkan dalam jurnal internasional Journal of Pregnancy (2026).

Penelitian ini melibatkan 159 ibu hamil dengan obesitas (BMI ≥ 30) yang menjalani induksi di usia kehamilan 37–41 minggu. Analisis statistik multivariat digunakan untuk memastikan hasil yang akurat dan dapat diandalkan.