Universitas Airlangga Official Website

Imunisasi Anak: Mengapa Masih Ada yang Terlewat?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Imunisasi adalah kunci dari kesehatan primer karena terbukti secara empiris telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Namun, rendahnya cakupan imunisasi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Rendahnya cakupan imunisasi dapat memicu munculnya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan kelengkapan imunisasi, bukan hanya dari sisi anak, tetapi juga dari faktor keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh.

Pendidikan ibu, status pekerjaan, dan tempat tinggal serta peran dalam proses pengambilan keputusan ternyata berkaitan dengan kelengkapan imunisasi anak. Anak dari ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih berisiko tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap. Hal ini mungkin disebabkan karena perempuan yang berpendidikan kemungkinan mempunyai informasi yang lebih baik terkait dengan kesehatan anak. Selain itu, keputusan terkait dengan kesehatan di dalam keluarga dilakukan secara bersama oleh suami dan istri cenderung mempunyai anak yang diimunisasi lengkap. Pengambilan keputusan bersama antara suami dan istri dapat mencerminkan kemampuan perempuan dalam bernegosiasi dengan pasangannya dalam menentukan keputusan terbaik untuk kesehatan anaknya, termasuk imunisasi.

Pendekatan gender-transformative dengan mendorong pembagian tanggung jawab dan kewenangan yang lebih setara antara ibu dan ayah dalam pengambilan keputusan anak merupakan salah satu cara untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada anak. Selain itu, layanan imunisasi perlu disediakan lebih fleksibel bagi ibu yang bekerja dan juga diperlukan peningkatan pemahaman ibu mengenai pentingnya imunisasi anak.

Penulis:

Astutik, Erni, Tika Dwi Tama, Jauhari Oka Reuwpassa, Atik Choirul Hidajah, Muhammad Taaha Kashif, and Rudi Safarudin. “Incomplete immunization coverage and its related factors among children aged 1-5 years: evidence from the Indonesia Family Life Survey 5.” African Health Sciences 26, no. 2 (2026): 38.