Preeklampsia adalah salah satu komplikasi kehamilan yang paling ditakuti. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi yang muncul saat hamil, dan bila tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan nyawa ibu maupun bayi. Di Indonesia, preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan.
Salah satu komplikasi preeklampsia yang selama ini kurang mendapat perhatian adalah gangguan fungsi ginjal mendadak, atau dikenal dengan istilah medis acute kidney injury (AKI). Untuk memahami seberapa besar dampak AKI terhadap ibu dan bayi, tim peneliti dari Perkumpulan Kedokteran Fetomaternal Indonesia (HKFM) melakukan sebuah penelitian besar bernama INAPRES (Indonesia Preeclampsia Study).
Penelitian Berskala Nasional
Penelitian ini melibatkan data dari 30 rumah sakit rujukan yang tersebar di lima pulau besar di Indonesia, mencakup periode Januari 2022 hingga Desember 2023. Dari ribuan kasus preeklampsia yang tercatat, sebanyak 1.808 kasus dengan data lengkap kemudian dianalisis lebih lanjut. Dari jumlah tersebut, 53 orang ibu (sekitar 3 dari 100 ibu dengan preeklampsia) mengalami gangguan fungsi ginjal mendadak.
Apa yang Ditemukan?
Meskipun jumlah kasusnya tidak terlalu besar, dampaknya sangat serius. Dibandingkan ibu dengan preeklampsia tanpa gangguan ginjal, ibu yang mengalami AKI memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami:
- Kematian, dengan risiko hampir 5 kali lipat lebih tinggi
- Cairan yang menumpuk di paru-paru (edema paru), risiko sekitar 3,5 kali lipat
- Sindrom HELLP, yaitu kerusakan sel darah merah, gangguan fungsi hati, dan penurunan jumlah keping darah, dengan risiko sekitar 3,6 kali lipat
- Kebutuhan perawatan intensif di ICU, hampir 2 kali lipat
- Persalinan sangat prematur, yaitu sebelum usia kehamilan 34 minggu, dengan risiko sekitar 2,5 kali lipat
Dampak buruk ini juga dirasakan oleh bayi. Bayi yang lahir dari ibu dengan gangguan ginjal cenderung lahir lebih awal, memiliki berat badan lahir lebih rendah, dan lebih sering menunjukkan kondisi yang kurang baik segera setelah lahir (dilihat dari skor Apgar yang rendah).
Siapa yang Lebih Berisiko?
Penelitian ini juga mengungkap dua faktor yang membuat seorang ibu dengan preeklampsia lebih berisiko mengalami gangguan ginjal mendadak, yaitu telah memiliki penyakit ginjal sebelum hamil, dan telah melahirkan lebih dari satu kali sebelumnya (multipara). Ibu dengan riwayat penyakit ginjal sebelumnya memiliki risiko yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 40 kali lipat dibandingkan yang tidak memiliki riwayat tersebut.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Hasil studi INAPRES menegaskan bahwa gangguan fungsi ginjal pada ibu dengan preeklampsia bukan sekadar kelainan laboratorium biasa, melainkan pertanda bahwa penyakit sudah berada pada tahap yang berat dan membutuhkan perhatian ekstra. Dengan mengenali tanda ini lebih awal, tenaga kesehatan dapat mengambil langkah penanganan yang lebih cepat dan tepat, seperti merujuk pasien ke fasilitas dengan perawatan intensif yang memadai.
Oleh karena itu, tim peneliti merekomendasikan agar pemeriksaan fungsi ginjal menjadi bagian rutin dalam pemantauan ibu hamil dengan preeklampsia, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya kesehatan. Langkah sederhana ini berpotensi membantu tenaga medis mendeteksi kondisi berat lebih dini, sehingga risiko kematian ibu dan bayi dapat ditekan.
Pesan untuk Ibu Hamil dan Keluarga
Bagi ibu hamil, pemeriksaan kehamilan secara rutin tetap menjadi kunci utama untuk mendeteksi preeklampsia sedini mungkin. Bila muncul gejala seperti tekanan darah tinggi, bengkak pada tubuh, nyeri kepala hebat, atau gangguan penglihatan, segeralah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Deteksi dan penanganan dini terbukti dapat menyelamatkan nyawa ibu dan bayi.
Oleh: Muhammad Ilham Aldika Akbar
Artikel ini disusun berdasarkan hasil penelitian “The INAPRES (Indonesia Preeclampsia Study): Clinical outcomes of acute kidney injury related to preeclampsia in Indonesia” yang dipublikasikan pada jurnal Pregnancy Hypertension: An International Journal of Women’s Cardiovascular Health (2026), hasil kolaborasi peneliti dari Universitas Airlangga bersama Perkumpulan Kedokteran Fetomaternal Indonesia (HKFM).





