Sungai bukan sekadar aliran air. Di dalamnya berlangsung berbagai proses ekologis yang menopang kehidupan, mulai dari organisme mikroskopis hingga ikan dan manusia yang bergantung pada sumber daya perairan. Namun, ketika aktivitas industri, permukiman, limbah domestik, dan kegiatan pertanian meningkat di sekitar sungai, berbagai jenis pencemar dapat masuk dan terakumulasi di lingkungan perairan.
Salah satu pencemar yang perlu mendapat perhatian serius adalah logam berat.
Berbeda dengan banyak bahan pencemar organik yang dapat mengalami penguraian, logam berat bersifat persisten. Logam tersebut dapat bertahan di lingkungan, terakumulasi dalam sedimen, dan masuk ke dalam tubuh organisme. Dalam jangka panjang, paparan logam berat dapat memberikan tekanan terhadap kesehatan ekosistem perairan.
Lalu, bagaimana kondisi pencemaran logam berat di Sungai Surabaya?
Sebuah penelitian lapangan yang dilakukan di Sungai Surabaya mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan ikan Hypostomus sp., yang lebih dikenal masyarakat sebagai ikan pleco atau ikan sapu-sapu, sebagai salah satu indikator biologis pencemaran.
Mengapa ikan pleco?
Ikan Hypostomus sp. merupakan ikan yang hidup dekat dasar perairan atau bersifat demersal. Ikan ini banyak berinteraksi dengan sedimen dan memiliki kebiasaan makan yang berhubungan dengan material di dasar perairan.
Karakter tersebut membuat ikan pleco menarik untuk digunakan dalam penelitian pencemaran. Sedimen yang telah terkontaminasi logam berat dapat menjadi sumber paparan bagi organisme yang hidup dan mencari makanan di dasar sungai.
Dalam penelitian ini, para peneliti tidak hanya melihat kandungan logam berat pada tubuh ikan. Mereka juga membandingkannya dengan kondisi air dan sedimen di Sungai Surabaya. Sebanyak tujuh jenis logam berat dianalisis, yaitu timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), arsen (As), kromium (Cr), tembaga (Cu), dan seng (Zn).
Yang menarik, penelitian ini juga melihat distribusi logam berat pada beberapa bagian tubuh ikan: otot, insang, hati, tulang, dan telur.
Pendekatan ini penting karena logam berat tidak selalu tersebar secara merata di dalam tubuh ikan.
Sedimen menjadi tempat berkumpulnya logam berat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah pencemaran lebih terlihat jelas pada sedimen dibandingkan air.
Pada air Sungai Surabaya, konsentrasi tembaga (Cu) dan seng (Zn) tercatat melampaui standar kualitas air nasional yang digunakan dalam penelitian. Konsentrasi merkuri (Hg) juga berada dekat dengan batas maksimum yang diperbolehkan.
Namun, kondisi sedimen menunjukkan situasi yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Konsentrasi beberapa logam berat di sedimen, termasuk Hg, As, Cr, Cu, dan Zn, berada di atas nilai Probable Effect Concentration (PEC). Nilai PEC merupakan tingkat konsentrasi yang dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi terjadinya dampak biologis yang merugikan pada organisme perairan. Sementara itu, Pb dan Cd berada pada atau mendekati nilai PEC.
Temuan ini menunjukkan bahwa sedimen Sungai Surabaya dapat berfungsi sebagai reservoir atau tempat penyimpanan logam berat dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, pencemaran yang terlihat di permukaan air belum tentu menggambarkan seluruh persoalan yang terjadi di sungai. Sebagian logam berat dapat berada di dasar sungai dan tetap menjadi sumber paparan bagi organisme yang hidup di sana.
Hati ikan menjadi “tempat penyimpanan” utama
Ketika logam berat masuk ke lingkungan perairan, ikan dapat terpapar melalui berbagai jalur. Namun, logam tersebut tidak otomatis tersebar secara merata ke seluruh tubuh.
Penelitian ini menemukan pola yang cukup jelas.
Secara umum, sebagian besar logam berat menunjukkan pola akumulasi:
hati > insang > tulang > otot
Hati menjadi organ dengan akumulasi tertinggi untuk sebagian besar logam yang dianalisis. Hal ini berkaitan dengan fungsi hati sebagai organ metabolisme dan detoksifikasi. Di dalam hati, berbagai mekanisme biologis dapat berperan dalam mengikat dan menyimpan logam berat.
Insang juga menunjukkan akumulasi yang relatif tinggi. Hal ini dapat dipahami karena insang merupakan organ yang secara langsung berhubungan dengan lingkungan air dan berperan dalam pertukaran gas.
Sementara itu, otot secara umum menunjukkan konsentrasi logam berat paling rendah dibandingkan organ lainnya.
Namun, ada satu pengecualian penting.
Tulang menjadi tempat utama akumulasi timbal.
Konsentrasi Pb pada tulang mencapai 12,50 ± 1,50 mg/kg berat basah, lebih tinggi dibandingkan jaringan lain yang dianalisis. Hal ini sejalan dengan sifat timbal yang memiliki afinitas terhadap jaringan tulang dan dapat terikat pada matriks mineral tulang.
Temuan ini menunjukkan bahwa setiap logam berat memiliki “preferensi” yang berbeda terhadap jaringan tubuh ikan.
Jadi, jika kita hanya menganalisis daging atau otot ikan, gambaran pencemaran logam berat yang diperoleh belum tentu sepenuhnya mewakili beban kontaminasi yang sebenarnya dialami ikan.
Telur ikan juga tidak sepenuhnya bebas dari logam berat
Salah satu temuan penting lainnya adalah ditemukannya logam berat pada telur ikan betina.
Penelitian menemukan keberadaan Pb, Hg, As, Cu, dan Zn pada telur Hypostomus sp. Sebaliknya, Cd dan Cr berada di bawah batas deteksi metode analisis.
Konsentrasi Cu dan Zn pada telur relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa logam lainnya. Kedua unsur tersebut memang merupakan mineral esensial yang dibutuhkan dalam proses biologis dan perkembangan embrio. Namun, dalam jumlah berlebihan, keduanya tetap dapat menimbulkan gangguan biologis.
Temuan logam berat pada telur menunjukkan adanya kemungkinan transfer maternal, yaitu perpindahan kontaminan dari induk betina ke telur selama proses reproduksi.
Hal ini menjadi perhatian ekologis karena pencemaran tidak hanya berpotensi memengaruhi ikan dewasa. Paparan juga dapat menjangkau tahap awal kehidupan ikan.
Meski penelitian ini belum secara langsung mengukur tingkat keberhasilan penetasan atau gangguan perkembangan embrio, keberadaan logam berat pada telur menunjukkan adanya jalur paparan yang perlu dikaji lebih lanjut.
Ikan pleco sebagai “perekam” kondisi sungai
Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah bahwa ikan dapat memberikan informasi yang lebih dalam tentang pencemaran lingkungan.
Air sungai dapat berubah dengan cepat akibat aliran, hujan, atau pengenceran. Sedimen, sebaliknya, dapat menyimpan kontaminan dalam waktu lebih lama. Ikan yang terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan dasar sungai kemudian dapat mengakumulasi sebagian kontaminan tersebut di dalam tubuhnya.
Karena itu, kombinasi antara analisis air, sedimen, dan jaringan ikan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai pencemaran.
Dalam konteks ini, ikan Hypostomus sp. dapat berperan sebagai semacam “perekam biologis” kondisi lingkungan. Tubuh ikan menyimpan informasi tentang paparan pencemar yang dialaminya, sementara perbedaan akumulasi antarorgan membantu peneliti memahami bagaimana kontaminan tersebut masuk, didistribusikan, dan disimpan di dalam tubuh.
Apa artinya bagi Sungai Surabaya?
Penelitian ini menunjukkan bahwa persoalan pencemaran logam berat di sungai tidak cukup dilihat hanya dari kualitas air.
Sedimen perlu mendapat perhatian yang sama, bahkan lebih serius. Ketika logam berat telah terakumulasi di dasar sungai, kontaminan tersebut dapat menjadi sumber paparan jangka panjang bagi organisme bentik.
Kondisi ini juga menunjukkan pentingnya pengelolaan limbah dari berbagai aktivitas manusia di sekitar sungai. Pengendalian pencemaran tidak cukup dilakukan dengan membersihkan permukaan air. Sumber pencemar harus dikendalikan sejak awal, sementara sedimen dan organisme perairan perlu dipantau secara berkala.
Penelitian ini juga mengingatkan bahwa monitoring lingkungan sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu bagian ekosistem. Pemantauan air, sedimen, dan organisme secara bersamaan dapat memberikan informasi yang lebih utuh mengenai perjalanan pencemar di lingkungan.
Pada akhirnya, menjaga kualitas sungai bukan hanya tentang menjaga air tetap terlihat bersih. Pencemaran yang tidak terlihat oleh mata dapat tersimpan di dasar sungai dan masuk ke dalam tubuh organisme.
Dan dalam penelitian ini, ikan pleco memberikan sebuah pesan penting: kondisi sungai dapat “terbaca” dari apa yang tersimpan di dalam tubuh penghuninya.
Penelitian ini diterbitkan dalam Journal of Ecological Engineering pada tahun 2026 dan mengintegrasikan pengukuran logam berat di air, sedimen, serta lima jaringan ikan untuk memahami pola akumulasi dan perpindahan kontaminan dalam ekosistem Sungai Surabaya.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P.





