UNAIR NEWS – Inovasi EcoFeed berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) dan Lactobacillus mengantarkan lima mahasiswa UNAIR menyabet penghargaan dalam Nusantara Writing Festival (NWF). Dalam kompetisi itu, mereka menyabet medali perak di bidang lingkungan, pada Sabtu-Minggu (3-4/10/2026) di Bandung. Mereka adalah Moch Birr Bik Maylandry, Aurel Meita Permata, Abdan Fawwazut Thariq, Delvano Tegar Putra, dan Mohian Nadya M. Dyah, yang merupakan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK).
Melalui gagasan EcoFeed, mereka mengembangkan konsep pemanfaatan food waste sebagai media budi daya maggot yang kemudian diolah menjadi pakan ikan tenggelam. Konsep tersebut memadukan pengelolaan limbah organik dengan kebutuhan pakan dalam budidaya perikanan.
Ubah Food Waste jadi Pakan
Mohian menjelaskan, tim memilih maggot BSF untuk mengurangi limbah makanan sekaligus menghasilkan pakan alternatif. Maggot mampu mengkonversi limbah organik menjadi biomassa kaya protein sebelum diolah menjadi tepung maggot.
“Kami ingin mengurangi food waste dengan memanfaatkan maggot BSF sebagai bahan biokonversi. Maggot tersebut kemudian diolah menjadi tepung sebagai bahan campuran pakan,” jelas Mohian.
Menurutnya, pemanfaatan maggot juga bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan yang menjadi salah satu bahan utama pakan. Tim merancang substitusi sebagian tepung ikan dengan tepung maggot agar kebutuhan nutrisi pakan tetap terpenuhi.
Tambahkan Lactobacillus
EcoFeed tidak hanya mengandalkan tepung maggot. Tim FPK UNAIR juga mengintegrasikan probiotik Lactobacillus melalui proses fermentasi selama 72 jam untuk menghasilkan pakan fungsional dengan kecernaan nutrien yang lebih baik.
Mohian mengatakan, produk yang ia dan tim bawa ke kompetisi masih berupa prototipe. Tim menggunakan tepung maggot yang tersedia secara komersial untuk membuat gambaran awal produk sebelum melakukan pengujian lebih lanjut.
“Prototipe ini masih tahap awal. Ke depan, kami ingin menguji kembali seluruh proses, mulai dari kandungan bahan, bakteri, hingga metode fermentasinya,” ungkap Mohian.
Dalam konsep pengembangannya, maggot dapat dipanen setelah sekitar 15–20 hari, kemudian dibersihkan, dikeringkan, dan dihaluskan menjadi tepung. Bahan tersebut selanjutnya dicampurkan dengan bahan pakan lain dan diperkaya Lactobacillus sebelum dicetak menjadi pelet.
Siapkan Pengembangan EcoFeed
Tim menilai EcoFeed memiliki peluang pengembangan karena menghubungkan pengelolaan limbah makanan dengan kebutuhan pakan budidaya. Konsep waste-to-aquafeed tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi sumber daya dan membuka peluang pengembangan usaha berbasis limbah.
Mohian mengatakan capaian pada NWF 6 menjadi pemacu bagi tim untuk melanjutkan pengembangan produk. “Sayang apabila gagasan ini berhenti pada kompetisi. Kami ingin mengkaji dan menguji ulang produk ini, kemudian mengikuti kompetisi yang lebih tinggi untuk membawa nama produk kami,” ujarnya.
Ke depan, tim FPK UNAIR berharap EcoFeed dapat melalui pengujian dan pengembangan lebih lanjut sebelum diterapkan secara lebih luas dalam budidaya ikan.
Penulis: Abraham Chrisanta Putra
Editor: Yulia Rohmawati
