Ada sesuatu yang menyedihkan ketika kita mendengar kata “joki skripsi.” Bukan hanya karena seseorang rela membayar orang lain untuk mengerjakan tugas akhirnya, tetapi juga karena praktik itu perlahan mengikis makna pendidikan tinggi itu sendiri. Pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang untuk belajar berpikir, meneliti, bertanggung jawab, dan membentuk diri menjadi manusia yang berintegritas. Namun, ketika skripsi dapat dibeli, proses panjang menuju gelar sarjana bisa berubah menjadi sekadar transaksi.
Temuan Survei Penilaian Integritas Pendidikan 2026 yang dilakukan KPK menunjukkan bahwa praktik mahasiswa membayar pihak lain untuk mengerjakan tugas akhir atau skripsi dilaporkan oleh 43 persen responden perguruan tinggi. Praktik tersebut ditemukan pada 91 persen satuan pendidikan tinggi yang disurvei. Angka ini tentu tidak berarti 91 persen mahasiswa menggunakan joki. Akan tetapi, ia menunjukkan bahwa jasa joki skripsi bukan lagi cerita langka yang hanya muncul di pojok-pojok kampus. Ia telah menjadi bagian dari persoalan yang lebih besar: melemahnya integritas akademik.
Skripsi Bukan Sekadar Syarat
Bagi banyak mahasiswa, skripsi sering kali terasa seperti gunung yang harus didaki sebelum wisuda. Ada tekanan dari keluarga, keinginan segera bekerja, kebutuhan memenuhi syarat administratif, hingga perbandingan dengan teman yang sudah lebih dulu lulus. Dalam situasi seperti itu, jasa joki pun tampak seperti jalan pintas yang menggoda.
Namun, memandang skripsi hanya sebagai syarat wisuda berarti kita telah menyempitkan makna pendidikan tinggi. Skripsi bukan sekadar tumpukan bab, data, dan daftar pustaka. Skripsi adalah latihan panjang untuk belajar mengenali masalah, membaca secara kritis, mengumpulkan data, berargumentasi, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Ketika mahasiswa menuliskan skripsi sendiri, ia belajar banyak hal yang tidak selalu tampak pada lembar ijazah. Ia belajar sabar ketika data tidak sesuai harapan. Ia belajar menerima kritik dari dosen pembimbing. Ia belajar memperbaiki kesalahan, memperdalam argumen, dan mengakui keterbatasan pengetahuannya. Semua proses itu mungkin melelahkan, tetapi justru di sanalah pendidikan tinggi menemukan maknanya.
Sebaliknya, ketika skripsi dikerjakan oleh joki, mahasiswa mungkin memperoleh gelar lebih cepat. Tetapi yang hilang bukan hanya pengalaman meneliti. Yang hilang adalah kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, rasa memiliki terhadap karya, dan rasa bangga karena telah menyelesaikan sesuatu dengan usaha sendiri.
Ketika Gelar Kehilangan Makna
Ijazah sarjana seharusnya menjadi bukti bahwa seseorang telah melalui proses belajar, bukan hanya bukti bahwa ia telah membayar biaya kuliah dan menyelesaikan administrasi. Ketika skripsi dapat dibeli, gelar menjadi semacam label yang mudah diperoleh tanpa diimbangi kompetensi.
Bayangkan seorang lulusan yang mendapat nilai memuaskan, tetapi tidak mampu menjelaskan metode penelitiannya sendiri. Ia mungkin lulus lebih cepat, tetapi ketika menghadapi dunia kerja, ia akan kesulitan. Ia mungkin tidak terbiasa menganalisis data, menyusun argumen, atau menyelesaikan persoalan secara sistematis. Pada akhirnya, yang dirugikan bukan hanya kampus, tetapi juga dirinya sendiri.
Dampaknya juga dirasakan oleh masyarakat. Perguruan tinggi dipercaya untuk mencetak lulusan yang mampu berkontribusi dalam pembangunan. Lulusan diharapkan membawa nalar kritis, kejujuran, kreativitas, dan tanggung jawab. Jika budaya joki dibiarkan tumbuh, maka kualitas sumber daya manusia dapat tergerus secara diam-diam.
Kita dapat mencetak sarjana dalam jumlah besar, tetapi apakah jumlah itu cukup jika kualitas dan karakternya rapuh? Pertanyaan ini penting karena pendidikan tinggi bukan sekadar urusan mencetak wisudawan. Pendidikan tinggi adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Bukan Hanya Kesalahan Mahasiswa
Mudah sekali menyalahkan mahasiswa yang menggunakan jasa joki. Memang, mereka memiliki tanggung jawab moral dan akademik. Namun, fenomena joki skripsi tidak muncul dari ruang hampa. Ada banyak faktor yang mendorongnya.
Pertama, sebagian mahasiswa mungkin menghadapi kesulitan akademik yang serius, tetapi tidak mendapatkan pendampingan yang memadai. Bimbingan yang terlalu jarang, arahan yang kurang jelas, atau komunikasi yang kaku dapat membuat mahasiswa merasa sendirian. Ketika mereka merasa tidak memiliki ruang untuk bertanya dan belajar, jalan pintas pun terasa lebih menggoda.
Kedua, tekanan untuk segera lulus kadang terlalu besar. Mahasiswa didorong menyelesaikan studi tepat waktu, sementara kenyataannya proses penelitian tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keterbatasan waktu, biaya, akses data, maupun dukungan institusi dapat membuat sebagian mahasiswa memilih jalan yang salah.
Ketiga, ada pula persoalan budaya. Jika lingkungan kampus memperlakukan skripsi hanya sebagai formalitas, mahasiswa pun akan memperlakukannya sebagai formalitas. Jika kecurangan dianggap wajar selama tidak ketahuan, maka integritas akademik perlahan menjadi nilai yang ditinggalkan.
Karena itu, memberantas joki skripsi tidak cukup hanya dengan menghukum. Kampus perlu membangun ekosistem yang membuat mahasiswa merasa aman untuk belajar, salah, bertanya, dan berkembang.
Kampus Perlu Hadir Lebih Dekat
Dosen pembimbing memegang peran yang sangat penting. Mereka bukan hanya pemberi nilai atau penilai kelulusan. Mereka adalah pendamping perjalanan akademik mahasiswa. Ketika mahasiswa bingung, dosen perlu memberi arah. Ketika mahasiswa takut, dosen perlu memberi ruang aman. Ketika mahasiswa salah, dosen perlu mengarahkan, bukan sekadar menghakimi.
Bimbingan yang humanis dapat menjadi benteng penting terhadap praktik joki. Mahasiswa yang merasa didengar akan lebih berani mengakui kesulitannya. Mahasiswa yang merasa didampingi akan lebih yakin bahwa ia mampu menyelesaikan skripsinya sendiri. Di sinilah pendidikan tinggi seharusnya bekerja: bukan hanya menilai hasil akhir, tetapi juga menumbuhkan proses belajar.
Kampus juga perlu membangun sistem yang lebih adil dan transparan. Penilaian tidak boleh hanya berfokus pada kelengkapan format atau jumlah halaman. Yang lebih penting adalah proses berpikir, kejujuran data, kemampuan analisis, dan tanggung jawab mahasiswa terhadap karyanya.
Penguatan literasi akademik juga penting. Mahasiswa perlu diajarkan sejak dini tentang cara merumuskan masalah, menggunakan sumber secara etis, menghindari plagiarisme, dan menyusun argumen yang kuat. Dengan begitu, mereka tidak hanya tahu bahwa joki itu salah, tetapi juga memahami mengapa menulis sendiri itu penting.
Menjaga Martabat Ilmu
Pada akhirnya, persoalan joki skripsi bukan hanya soal kecurangan individu. Ia adalah persoalan tentang bagaimana kita memandang ilmu, pendidikan, dan masa depan. Jika ilmu hanya dipandang sebagai alat untuk memperoleh ijazah, maka pendidikan tinggi akan kehilangan ruhnya. Tetapi jika ilmu dipandang sebagai jalan untuk memahami kehidupan dan melayani masyarakat, maka setiap proses akademik memiliki makna yang lebih besar.
Skripsi mungkin hanya satu dokumen dalam hidup seorang mahasiswa. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya jauh lebih besar. Di dalamnya ada keberanian untuk bertanya, kesungguhan untuk mencari jawaban, kerendahan hati untuk belajar, dan kejujuran untuk mengakui batas kemampuan diri.
Mungkin tidak semua mahasiswa akan menjadi peneliti hebat. Tidak semua skripsi akan berubah menjadi inovasi yang mengubah dunia. Tetapi setiap mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhirnya dengan jujur telah melakukan sesuatu yang penting: ia menjaga martabat ilmu dan menegakkan integritas dirinya.
Kampus pengemban peradaban tidak boleh membiarkan skripsi berubah menjadi komoditas. Kampus harus kembali menjadi ruang di mana ilmu dihormati, proses dihargai, dan kejujuran menjadi fondasi utama. Karena peradaban tidak dibangun oleh ijazah semata, melainkan oleh manusia-manusia yang berani belajar, berpikir, dan bertanggung jawab atas karyanya.
Penulis: Hery Purnobasuki, Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB), Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR
