Periodontitis kronis merupakan kondisi peradangan pada jaringan penyangga gigi atau periodontium dengan prevalensi sebesar 20-50% di dunia dan 60% di Indonesia. Manifestasi penyakit ini yakni hilangnya perlekatan dari jaringan periodontium disertai kerusakan tulang alveolar, dengan bakteri pada plak gigi sebagai etiologi utamanya meliputi Aggregatibacter actinomycetemcomitan, Treponema denticola, dan Tannerella forsythia. Bila kondisi ini tidak ditangani dengan tepat, maka dapat berlanjut pada peningkatan mobilitas gigi berakibat pada kehilangan gigi, sehingga dapat mengganggu fungsi sistem mastikasi.
Selama ini, gold standard terapi periodontitis kronis yakni pemberian antibiotik untuk menurunkan bacterial load, prosedur mekanik seperti scaling and root planning (SRP), serta debridement. Namun, seluruh opsi terapi tersebut diketahui memiliki kekurangan dimana tidak selalu mampu mengeliminasi poket periodontal. Di sisi lain, pada advanced stage dari periodontitis kronis, seringkali diindikasikan bedah flap disertai penambahan bone graft terutama dari golongan allograft, dengan resiko timbulnya reaksi alergi, sehingga dibutuhkan opsi terapi baru dengan efek samping minimal.
Triad tissue engineering merupakan konsep terapi terbaru yang melibatkan 3 komponen yakni sel punca mesenkim, growth factor, serta scaffold. Prinsip terapi ini yakni mendorong diferensiasi serta proliferasi dari sel punca mesenkim menjadi sel yang diharapkan sebagai target terapi. Hal tersebut dilakukan melalui proses kultur pada medium scaffold yang berperan sebagai “kerangka” tempat sel akan melakukan diferensiasi dan proliferasi, serta growth factor sebagai inductor bagi sel untuk berdiferensiasi dan melakukan proliferasi sesuai jenis sel nantinya yang diinginkan.
Periodontal ligament derived stem cells (PDLSCs) merupakan golongan sel punca mesenkim yang berasal dari sel ligamen periodontal yang diisolasi dari gigi molar ketiga. Sel ini bersifat multipotent dengan kemampuan self-renewal yang baik. Erythropoietin (EPO) merupakan protein derivat dari darah yang disekresikan oleh ginjal serta hepar dengan kemampuan induksi angiogenesis, anti-inflamasi, dan antioksidan. Di sisi lain, aspirin-based tetra poly-ethylene (PEG) hydrogel sebagai scaffold merupakan bahan yang bersifat hidrofilik dengan bentuk 3D, dengan kemampuan mudah didegradasi oleh tubuh serta cenderung memiliki struktur yang stabil. Penambahan aspirin dalam bahan ini juga memfasilitasi kemampuan anti-inflamasi melalui hambatan ekspresi dari prostaglandin (PGE). Kombinasi ketiga bahan tersebut dalam triad tissue engineering system berpotensi menjadi kandidat terapi defek tulang pada kasus periodontitis kronis.
Penulis: Dr. Anis Irmawati, drg., M.Kes.
Link: https://scholar.unair.ac.id/en/persons/anis-irmawati-3
Baca juga: Analisis Bioinformatik Vitamin D sebagai Inhibitor Sitokin Pro-Inflamasi dalam Penyakit Periodontal





