UNAIR NEWS – Pengabdian masyarakat tidak selalu dimulai dari program berskala besar. Terkadang, perubahan hadir melalui makanan yang disiapkan dengan tulus, percakapan hangat, dan waktu yang diluangkan untuk mereka yang membutuhkan. Semangat inilah yang dibawa Luthfi Indra Pramana dan Farrosi Luthfi Kamil Wibowo, dua mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), melalui keterlibatan dalam dua kegiatan kerelawanan di Singapura pada Maret–April 2026.
Kegiatan pertama, KEVIIng Back x Willing Hearts, mencapai puncaknya pada Minggu, 22 Maret 2026, bertempat di Willing Hearts, No. 1 Lorong J Telok Kurau, Singapura. Melalui kegiatan yang melibatkan mahasiswa internasional National University of Singapore (NUS), para relawan turut mendukung penyediaan makanan gratis bagi lansia. Pekerjaan mereka mencakup penyiapan area dapur, koordinasi dengan tim dapur, hingga pengemasan makanan sebelum dikirimkan kepada penerima manfaat.
Di balik aktivitas tersebut, tersimpan pesan penting: akses terhadap pangan yang layak merupakan bagian dari martabat manusia. Kontribusi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 2, Tanpa Kelaparan, sekaligus SDGs 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Kerja bersama mahasiswa dari berbagai negara juga membuka ruang pertukaran budaya dan penguatan solidaritas.
Komitmen itu berlanjut melalui BerRaya BerKhayr, yang berpuncak pada 4 April 2026 di NTUC Health Active Ageing Centre, Bedok North, Singapura. Mengangkat semangat Hari Raya, program ini mempertemukan relawan dan lansia melalui permainan kelompok, jalan bersama, serta sesi makan dan kegiatan interaktif. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga mempererat hubungan sosial, mengurangi kesepian, dan mendorong gaya hidup aktif.

Dampak nyata kegiatan ini tercermin melalui sejumlah testimoni para lansia yang mengungkapkan bahwa mereka merasa sangat terbantu, baik secara emosional maupun material. Kehangatan interaksi dan dukungan yang diberikan menghadirkan rasa diperhatikan, sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian sosial mampu memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan penerimanya.
“Kami merasa sangat terbantu, bukan hanya melalui bantuan yang diberikan, tetapi juga perhatian dan kebersamaan yang membuat kami merasa dihargai dan tidak sendirian,” ungkap salah satu peserta lansia dalam kegiatan BerRaya BerKhayr.
Kedua kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung pada hari puncak. Selama beberapa minggu, keterlibatan relawan juga mencakup rangkaian persiapan dan koordinasi agar kegiatan terlaksana dengan baik.
Inisiatif ini mencerminkan SDGs 10, Berkurangnya Kesenjangan, dan SDGs 11, Kota dan Permukiman Berkelanjutan, khususnya pentingnya komunitas yang inklusif bagi lansia. Semangat kolaborasinya pun relevan dengan SDGs 17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
“Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa pengabdian masyarakat bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi juga tentang menghadirkan kepedulian dan kebersamaan. Hal-hal sederhana yang kita lakukan ternyata dapat memberikan makna besar bagi kehidupan orang lain,” ujar Luthfi Indra Pramana.
Bagi kedua mahasiswa UNAIR tersebut, pengalaman ini memperlihatkan bahwa kontribusi generasi muda tidak dibatasi ruang kelas maupun batas negara. Kepedulian sosial menjadi bermakna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penulis: Luthfi in
