Universitas Airlangga Official Website

Memandang Dunia Sensor Film sebagai Kontroversi dan Evaluasi

ilustrasi sensor film (sumber: starjogja)

Dalam arti yang terbatas, film merupakan gambar yang ditampilkan pada layar besar. Namun, dalam arti yang lebih luas, film juga mencakup gambar yang muncul di TV. Karena acara TV ditayangkan dengan cara yang sama seperti tayangan film di bioskop. Sebagian orang biasanya menontonnya di rumah karena kepraktisan dan tidak ada biaya tambahan. Perkembangan zaman membuat film tidak hanya tayang di bioskop ataupun televisi saja. Namun, juga telah muncul di berbagai media internet yang dapat dengan mudah semua kalangan akses, seperti Youtube, Netflix, Iflix, WeTV dan sebagainya. (Fajar & Lestari, 2021). Namun, film sebagai sebuah media mendapat banyak pembatasan dari dunia sensor film.

Data IDN Times menyebutkan bahwa persentase genre film yang kalangan muda sukai paling tinggi setelah komedi adalah genre romantis sebanyak 41%. Seperti film dua garis biru yang tayang pada 11 Juli 2019 dengan pemeran Zara JKT48, Angga Yunanda, dan Cut Mini. Dua garis biru adalah film drama remaja Indonesia yang Gina S Noer sutradarai dan tulis, dan di produksi Starvision. Penonton film ini sudah lebih dari 1 juta orang dalam 15 hari pertama. Namun, Dua Garis Biru adalah film yang berisi konten yang kontroversial. Konten-konten itu mungkin akan menghadapi sensor dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berdasarkan UU Penyiaran. Film ini menampilkan topik-topik yang berpotensi kontroversial, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, perubahan karier, hubungan, atau hilangnya orang yang dicintai. Film ini juga mungkin akan menyebabkan pendapat yang berbeda-beda dari kalangan pengguna.

Sebagian besar pengguna akan menganggap film ini sebagai film yang berisi konten yang menarik. Mereka cenderung menganggap pendapat orang lain tentang film ini tidak valid. Namun, ada juga kalangan pengguna yang menganggap pandangan orang lain tentang film ini valid. Apalagi film ini menggambarkan kehidupan yang kompleks dan menyebabkan emosi yang luas. Film ini juga mungkin akan mengarah pada budaya sensor mandiri di kalangan penyedia konten. Mereka mungkin memilih untuk menghindari topik yang berpotensi kontroversial untuk menghindari potensi dampak dari KPI. Namun, film ini juga mungkin akan menjadi sumber inspirasi bagi kalangan pengguna untuk mengubah demi diri sendiri. Filim ini juga dapat membantu mengatasi perasaan hampa yang mungkin terjadi ketika menghadapi perubahan besar dalam kehidupan.

Namun, dari sudut pandang yang lain. Film Dua garis biru merupakan film yang mengedukasi bagaimana dampak ketika seorang remaja terjerumus dalam dunia pergaulan yang tidak sehat. Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual (L Q Shuiruplqj et al, 2009). Hal tersebut menjadi sebuah realita yang kita hadapi bersama. Ini juga menunjukan bahwa edukasi tentang seksual beserta dampaknya yang masih rendah di beberapa daerah. Namun, Undang-Undang Penyiaran memberikan kewenangan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menyensor konten yang tidak pantas atau bertentangan dengan kepentingan nasional. Hal ini dapat mengarah pada budaya sensor mandiri di kalangan penyedia konten. Mereka mungkin memilih untuk menghindari topik yang berpotensi kontroversial untuk menghindari potensi dampak dari Komisi Penyiaran Indonesia. Sedangkan pada era saat ini, para generasi muda tidak mudah hanya sekedar mendapat motivasi dengan kata-kata tanpa memotivasi melalui hal yang mereka sukai.

KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) harus menyikapi film Dua garis biru dengan selektif dan beretika. KPI harus mengingatkan pemangku adat dan budaya masyarakat Indonesia. Selain itu, KPI seharusnya memberikan kritik konstruktif terhadap film tersebut, menyoroti bagaimana isu-isu moral dan etika hadir dalam narasi film. Mereka berharap agar pembuat film dapat mempertimbangkan masukan ini untuk memperbaiki representasi mereka dalam karya-karya mendatang apalagi konsumen film di Indonesia punya kalangan generasi cukup besar, sehingga harus ada filter untuk hal tersebut. Melihat kontroversi yang beragam dari adanya film Dua garis biru ini. Maka sudah seharusnya para penonton tidak hanya sekadar menjadi penonton pasif. Mereka juga harus mengambil peran aktif dalam advokasi untuk perubahan sosial.

Apalagi sudah saatnya generasi muda terlibat dalam mendukung akses remaja terhadap pendidikan seksual yang komprehensif, layanan kesehatan reproduksi, dan dukungan sosial yang lebih baik. Sudah seharusnya banyak film-film yang mengedukasi para generasi muda agar menjadi pemicu untuk refleksi pribadi dan diskusi kelompok tentang nilai-nilai, norma, dan perilaku yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Sehingga nantinya pergaulan bebas dapat terminimalisir beserta dampaknya yang cukup meresahkan banyak pihak. Masyarakat dan generasi muda dapat menggunakan sisi positif dalam film ini sebagai kesempatan untuk mengevaluasi sikap dan perilaku mereka sendiri serta mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pemahaman dan praktek mereka dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan remaja di masyarakat di lain banyak kontroversi apabila ada film yang menceritakan tentang sebuah perjalanan remaja yang kurang pantas menjadi contoh. Sudah seharusnya pemerintah, masyarakat dan khususnya generasi muda dapat membuka pikiran mereka untuk mengambil sudut pandang positif atas kontroversi negatif yang ada.

Penulis: Jinantiya Baqita

BACA JUGA: Industri Kuliner sebagai Warisan Budaya Indonesia